: 1810
karena kau tau seperti apa tenangku
juga resahku yang tak pernah usai
selama kita belum berada
dalam satu frame foto kehidupan yang sama
gerimis ini lunturkan penat sesaat
ketika sketsa senyum di wajahmu
terpampang jelas di bingkai pintu depan
riak resah pun perlahan mereda
seiring ku dengar detak jantungmu
nyata sekali di sini meski hanya sementara
jadi biarkan aku tetap resah
hingga kau tak lagi beranjak dari sini...
Batavia, 211109
Minggu, November 22, 2009
Kamis, November 12, 2009
Beranda Rumah Jiwa
terkadang tak ingin lagi ku redam riuh resah
yang meradang di bilik waktu biar kau tau
seperti apa aku memikirkanmu sangat
adalah aku yang hanya ingin menggenggam tanganmu
sambil menatap coretan warna pelangi di langit sana
dan menikmati halus rinai gerimis sampai kita kuyup
di bawah basahnya
adalah aku yang hanya ingin melingkarkan lenganku
di pinggangmu sambil menatap arakan burung-burung
pulang ke ranting-ranting pohon yang meranggas
seperti arakan rindu yang salah arah
aku sampai pada titik haru
adalah aku yang hanya ingin selalu ada di sebelahmu
hingga terbenam bersama senja lalu kembali ke peraduan
dan berjalan bersama malam berikutnya
seperti saat ku temukan penatmu berjalan pelan
menyandar di buah malam
membuang jenuh dan kesal
jadi tolong mengertilah bahwa beranda rumah jiwa ini
seketika sunyi saat kau tak di sini...
Batavia, 121109
yang meradang di bilik waktu biar kau tau
seperti apa aku memikirkanmu sangat
adalah aku yang hanya ingin menggenggam tanganmu
sambil menatap coretan warna pelangi di langit sana
dan menikmati halus rinai gerimis sampai kita kuyup
di bawah basahnya
adalah aku yang hanya ingin melingkarkan lenganku
di pinggangmu sambil menatap arakan burung-burung
pulang ke ranting-ranting pohon yang meranggas
seperti arakan rindu yang salah arah
aku sampai pada titik haru
adalah aku yang hanya ingin selalu ada di sebelahmu
hingga terbenam bersama senja lalu kembali ke peraduan
dan berjalan bersama malam berikutnya
seperti saat ku temukan penatmu berjalan pelan
menyandar di buah malam
membuang jenuh dan kesal
jadi tolong mengertilah bahwa beranda rumah jiwa ini
seketika sunyi saat kau tak di sini...
Batavia, 121109
Rabu, November 11, 2009
Yang Tersisa
adalah hujan yang kembali ku tunggu
di ujung senja
dari bidadari yang kembali pulang
lelah usai bermain di bawah langit jingga
membuat semua seketika hening
tak ada lagi riuh rendah suaranya
hanya gerak tubuh
dan bayang cantik parasnya
yang tersisa dalam imajinasi...
Batavia, 091109
di ujung senja
dari bidadari yang kembali pulang
lelah usai bermain di bawah langit jingga
membuat semua seketika hening
tak ada lagi riuh rendah suaranya
hanya gerak tubuh
dan bayang cantik parasnya
yang tersisa dalam imajinasi...
Batavia, 091109
Biar
riuh rendah suaramu yang seketika hilang
memulangkan ketidak-tauan
juga kebingungan pada waktu
yang merambat pelan sekali
lagi...
ku redam semua sementara ini
meski rinduku pada hujanmu
belum lagi habis
masih banyak yang tersisa di dada ini
yang belum lagi sempat ku keluarkan
biar ku tunggu hingga musim berikutnya
meski sepi ini kembali berkunjung di beranda hati
meniup lirih lentera jiwa yang memang sedari tadi
sudah meredup di ujung pagi...
dan biar kau tau bahwa aku
akan tetap di sini untukmu...
Batavia, 081109
memulangkan ketidak-tauan
juga kebingungan pada waktu
yang merambat pelan sekali
lagi...
ku redam semua sementara ini
meski rinduku pada hujanmu
belum lagi habis
masih banyak yang tersisa di dada ini
yang belum lagi sempat ku keluarkan
biar ku tunggu hingga musim berikutnya
meski sepi ini kembali berkunjung di beranda hati
meniup lirih lentera jiwa yang memang sedari tadi
sudah meredup di ujung pagi...
dan biar kau tau bahwa aku
akan tetap di sini untukmu...
Batavia, 081109
Satu Malam Saja
ucapmu yang ku dengar
semalam tadi
tak sanggup lekangkan rasa
biar aku tetap tersenyum
ketika apa yang ku dengar darimu
sanggup menggetarkan hati
lalu seketika terdiam
sehening malam
saat kau dekap aku erat
di ujung pagi
di antara lantun dzikir
ku sisipkan permintaan hati
tentang asaku yang tak pernah habis
karena aku mencintaimu sangat...
Passer Baroe, 071109
semalam tadi
tak sanggup lekangkan rasa
biar aku tetap tersenyum
ketika apa yang ku dengar darimu
sanggup menggetarkan hati
lalu seketika terdiam
sehening malam
saat kau dekap aku erat
di ujung pagi
di antara lantun dzikir
ku sisipkan permintaan hati
tentang asaku yang tak pernah habis
karena aku mencintaimu sangat...
Passer Baroe, 071109
The Jakarta To Go
: 1810
sikapmu membuat gumpalan resah
membatu di dada ini
yang sangat ingin ku keluarkan
saat ku temui kau
juga diammu pada sebuah rencana
menggugah tanya
yang seketika saja memenuhi benak
pada bentang waktu yang menebal
aku hanya ingin dengar bicaramu
juga kisahmu tentang ada apa denganmu hari ini
tak pelaknya marahmu pun
serta merta mengiring detik-detik berlalu
tak pernah bosan ku nikmati semua tentangmu
dan biar ku redam semua dulu
mungkin lebih baik ku katakan sudahlah
agar diammu tak semakin berlarut
kini ketika kau di sini
tolong dengar ucapku sebentar saja
mengertilah setiap bait yang kutulis
karena kau tak pernah hilang dari sini
tinggal bersama resah ini...
Batavia, 051109
sikapmu membuat gumpalan resah
membatu di dada ini
yang sangat ingin ku keluarkan
saat ku temui kau
juga diammu pada sebuah rencana
menggugah tanya
yang seketika saja memenuhi benak
pada bentang waktu yang menebal
aku hanya ingin dengar bicaramu
juga kisahmu tentang ada apa denganmu hari ini
tak pelaknya marahmu pun
serta merta mengiring detik-detik berlalu
tak pernah bosan ku nikmati semua tentangmu
dan biar ku redam semua dulu
mungkin lebih baik ku katakan sudahlah
agar diammu tak semakin berlarut
kini ketika kau di sini
tolong dengar ucapku sebentar saja
mengertilah setiap bait yang kutulis
karena kau tak pernah hilang dari sini
tinggal bersama resah ini...
Batavia, 051109
Aku Rindu
di rentang waktu yang membatasi
ada setumpuk tanya dalam dada
saat namamu tak terlintas di layar kata
dari catatan malaikat kecil yang ku bawa
tentang aku yang menembus barisan hujan
untuk suaramu;
aku rindu...
Batavia, 031109
ada setumpuk tanya dalam dada
saat namamu tak terlintas di layar kata
dari catatan malaikat kecil yang ku bawa
tentang aku yang menembus barisan hujan
untuk suaramu;
aku rindu...
Batavia, 031109
Sabtu, Oktober 31, 2009
Schatzi 1810
.jpg)
kepada oktober;
schatzi...
musim dari namamu telah usai
ku ceritakan semua
pada setiap alur waktuyang terlewati
tentang kau,
kau adalah barisan hujan utara
yang selalu ku tunggu
dengan segala resah
lalu ku catat pula
dalam jurnal perjalanan kapalku
kau adalah laut
tempat lumut dan tiram bersarang
aku, terumbu dari kapal
yang karam di lautmu...
Batavia, 301009
Rabu, Oktober 21, 2009
Kau Miasha
kepada oktober;
kuredam denting hujan dalam senyap malam
yang tak pernah bisa membatasi angan
tentang indahmu
tak pernah habis pula kuhitung tiap bulir waktu
yang di penuhi barisan aksara namamu
membentuk sebuah narasi tanpa jeda
dari rindu yang kian hari
kian dalam terpatri di dada ini
relung hati yang tak bisa membohongi rasa
semakin menggeliat resah ketika tentangmu
tak terbersit sekejap saja
gundah
gulana
sejuta
tanya
menusuk dalam benak yang memang
selalu ada bayangmu
...kau miasha...
Batavia, 211009
kuredam denting hujan dalam senyap malam
yang tak pernah bisa membatasi angan
tentang indahmu
tak pernah habis pula kuhitung tiap bulir waktu
yang di penuhi barisan aksara namamu
membentuk sebuah narasi tanpa jeda
dari rindu yang kian hari
kian dalam terpatri di dada ini
relung hati yang tak bisa membohongi rasa
semakin menggeliat resah ketika tentangmu
tak terbersit sekejap saja
gundah
gulana
sejuta
tanya
menusuk dalam benak yang memang
selalu ada bayangmu
...kau miasha...
Batavia, 211009
Selasa, Oktober 20, 2009
Tentang Aku
kepada oktober;
apa yang kau tinggalkan
di ujung malam
tersimpan di antara kisi-kisi pagi
melayang bersama sisa kabut
gerimis yang kau kirim dari utara
bulir bening rindu di ujung daun
pecah mengalur-alur
menjajarkan asa tak berkesudahan
aku rindu pada suaramu
yang pecah di gelak malam
pada sentuhmu
di setiap inci kulitku
pada mimpimu yang tepikan galauku
di heningnya malam
raut teduh senyummu
mengisi gelap tak terangkum
menghalau kelu
membaca bulir waktu berikutnya
membuatku masih bicara pada hari
apa yang kau katakan
tentang aku kepada mereka
tentang aku yang merindu
pada suaramu
pada sentuhmu
pada mimpimu
Batavia, 201009
apa yang kau tinggalkan
di ujung malam
tersimpan di antara kisi-kisi pagi
melayang bersama sisa kabut
gerimis yang kau kirim dari utara
bulir bening rindu di ujung daun
pecah mengalur-alur
menjajarkan asa tak berkesudahan
aku rindu pada suaramu
yang pecah di gelak malam
pada sentuhmu
di setiap inci kulitku
pada mimpimu yang tepikan galauku
di heningnya malam
raut teduh senyummu
mengisi gelap tak terangkum
menghalau kelu
membaca bulir waktu berikutnya
membuatku masih bicara pada hari
apa yang kau katakan
tentang aku kepada mereka
tentang aku yang merindu
pada suaramu
pada sentuhmu
pada mimpimu
Batavia, 201009
Langgan:
Entri (Atom)

