Minggu, November 22, 2009

Sketsa Senyummu

: 1810

karena kau tau seperti apa tenangku
juga resahku yang tak pernah usai
selama kita belum berada
dalam satu frame foto kehidupan yang sama
gerimis ini lunturkan penat sesaat
ketika sketsa senyum di wajahmu
terpampang jelas di bingkai pintu depan
riak resah pun perlahan mereda
seiring ku dengar detak jantungmu
nyata sekali di sini meski hanya sementara

jadi biarkan aku tetap resah
hingga kau tak lagi beranjak dari sini...


Batavia, 211109

Kamis, November 12, 2009

Beranda Rumah Jiwa

terkadang tak ingin lagi ku redam riuh resah
yang meradang di bilik waktu biar kau tau
seperti apa aku memikirkanmu sangat

adalah aku yang hanya ingin menggenggam tanganmu
sambil menatap coretan warna pelangi di langit sana
dan menikmati halus rinai gerimis sampai kita kuyup
di bawah basahnya

adalah aku yang hanya ingin melingkarkan lenganku
di pinggangmu sambil menatap arakan burung-burung
pulang ke ranting-ranting pohon yang meranggas
seperti arakan rindu yang salah arah
aku sampai pada titik haru

adalah aku yang hanya ingin selalu ada di sebelahmu
hingga terbenam bersama senja lalu kembali ke peraduan
dan berjalan bersama malam berikutnya
seperti saat ku temukan penatmu berjalan pelan
menyandar di buah malam
membuang jenuh dan kesal

jadi tolong mengertilah bahwa beranda rumah jiwa ini
seketika sunyi saat kau tak di sini...


Batavia, 121109

Rabu, November 11, 2009

Yang Tersisa

adalah hujan yang kembali ku tunggu
di ujung senja
dari bidadari yang kembali pulang
lelah usai bermain di bawah langit jingga
membuat semua seketika hening

tak ada lagi riuh rendah suaranya
hanya gerak tubuh
dan bayang cantik parasnya
yang tersisa dalam imajinasi...

Batavia, 091109

Biar

riuh rendah suaramu yang seketika hilang
memulangkan ketidak-tauan
juga kebingungan pada waktu
yang merambat pelan sekali

lagi...
ku redam semua sementara ini
meski rinduku pada hujanmu
belum lagi habis
masih banyak yang tersisa di dada ini
yang belum lagi sempat ku keluarkan

biar ku tunggu hingga musim berikutnya
meski sepi ini kembali berkunjung di beranda hati
meniup lirih lentera jiwa yang memang sedari tadi
sudah meredup di ujung pagi...

dan biar kau tau bahwa aku
akan tetap di sini untukmu...

Batavia, 081109

Satu Malam Saja

ucapmu yang ku dengar
semalam tadi
tak sanggup lekangkan rasa

biar aku tetap tersenyum
ketika apa yang ku dengar darimu
sanggup menggetarkan hati
lalu seketika terdiam
sehening malam
saat kau dekap aku erat

di ujung pagi
di antara lantun dzikir
ku sisipkan permintaan hati
tentang asaku yang tak pernah habis
karena aku mencintaimu sangat...

Passer Baroe, 071109

The Jakarta To Go

: 1810

sikapmu membuat gumpalan resah
membatu di dada ini
yang sangat ingin ku keluarkan
saat ku temui kau

juga diammu pada sebuah rencana
menggugah tanya
yang seketika saja memenuhi benak

pada bentang waktu yang menebal
aku hanya ingin dengar bicaramu
juga kisahmu tentang ada apa denganmu hari ini
tak pelaknya marahmu pun
serta merta mengiring detik-detik berlalu

tak pernah bosan ku nikmati semua tentangmu
dan biar ku redam semua dulu
mungkin lebih baik ku katakan sudahlah
agar diammu tak semakin berlarut

kini ketika kau di sini
tolong dengar ucapku sebentar saja
mengertilah setiap bait yang kutulis
karena kau tak pernah hilang dari sini
tinggal bersama resah ini...

Batavia, 051109

Aku Rindu

di rentang waktu yang membatasi
ada setumpuk tanya dalam dada
saat namamu tak terlintas di layar kata

dari catatan malaikat kecil yang ku bawa
tentang aku yang menembus barisan hujan
untuk suaramu;
aku rindu...

Batavia, 031109

Sabtu, Oktober 31, 2009

Schatzi 1810




kepada oktober;

schatzi...
musim dari namamu telah usai
ku ceritakan semua
pada setiap alur waktuyang terlewati

tentang kau,
kau adalah barisan hujan utara
yang selalu ku tunggu
dengan segala resah

lalu ku catat pula
dalam jurnal perjalanan kapalku
kau adalah laut
tempat lumut dan tiram bersarang

aku, terumbu dari kapal
yang karam di lautmu...

Batavia, 301009

Rabu, Oktober 21, 2009

Kau Miasha

kepada oktober;

kuredam denting hujan dalam senyap malam
yang tak pernah bisa membatasi angan
tentang indahmu

tak pernah habis pula kuhitung tiap bulir waktu
yang di penuhi barisan aksara namamu
membentuk sebuah narasi tanpa jeda
dari rindu yang kian hari
kian dalam terpatri di dada ini

relung hati yang tak bisa membohongi rasa
semakin menggeliat resah ketika tentangmu
tak terbersit sekejap saja

gundah

gulana

sejuta

tanya


menusuk dalam benak yang memang
selalu ada bayangmu

...kau miasha...

Batavia, 211009

Selasa, Oktober 20, 2009

Tentang Aku

kepada oktober;

apa yang kau tinggalkan
di ujung malam
tersimpan di antara kisi-kisi pagi
melayang bersama sisa kabut
gerimis yang kau kirim dari utara

bulir bening rindu di ujung daun
pecah mengalur-alur
menjajarkan asa tak berkesudahan

aku rindu pada suaramu
yang pecah di gelak malam
pada sentuhmu
di setiap inci kulitku
pada mimpimu yang tepikan galauku
di heningnya malam

raut teduh senyummu
mengisi gelap tak terangkum
menghalau kelu
membaca bulir waktu berikutnya
membuatku masih bicara pada hari

apa yang kau katakan
tentang aku kepada mereka
tentang aku yang merindu
pada suaramu
pada sentuhmu
pada mimpimu

Batavia, 201009