Seperti dedaunan yang bersemi semusim
lalu gugur menguning kering,
jatuh di atas tanah yang retak oleh mentari.
Menunggumu bukan tentang waktu
yang terlewati begitu saja,
menunggumu seperti jeda di antara waktu,
seperti dedaunan yang menghabiskan waktu
semusim lalu gugur untuk bersemi lagi...
Batavia, 190708
Dwi Rastafara
Sabtu, Juli 19, 2008
Jumat, Juli 11, 2008
Dia Berbaju Merah Muda
Boleh aku cerita sedikit tentangmu yang kulihat berbaju merah muda
lalu kita saling beradu pandang dan senyum itu berakhir,
hilang di ujung belokan lorong. Kita belum bicara apapun,
sama-sama belum bicara ketika aku ada di depanmu,
mungkin belum sempat bicara meski di dada ini menggebu sederet
kalimat yang mendesak ingin terucap, mungkin saja aku ingin memakimu
karena kau telah membuatku tertegun menatap indahmu.
Ingin sekali ketika itu ada di depanmu terlontar sederet angka-angka
di ujung bibirku atau bibirmu yang semerah darah, manis anyir.
Lalu yang tak ingin ku sebut cinta, sebenarnya,
mulai bergerilya di lembah-lembah hati, mengisi setiap kekosongan
di relung-relung perasaan yang nyaris mati membeku terkubur
di bawah gumpalan salju yang putih pucat.
Aku jatuh. Ya, jatuh disudut matamu yang memerah muda
yang sangat tak ingin ku akui, tapi aku tak sanggup menahannya
hingga memang aku hanya bisa menggagu di depanmu
dan jika bisa ku katakan juga, bila aku cinta kau...
Batavia, 070708
Dwi Rastafara
lalu kita saling beradu pandang dan senyum itu berakhir,
hilang di ujung belokan lorong. Kita belum bicara apapun,
sama-sama belum bicara ketika aku ada di depanmu,
mungkin belum sempat bicara meski di dada ini menggebu sederet
kalimat yang mendesak ingin terucap, mungkin saja aku ingin memakimu
karena kau telah membuatku tertegun menatap indahmu.
Ingin sekali ketika itu ada di depanmu terlontar sederet angka-angka
di ujung bibirku atau bibirmu yang semerah darah, manis anyir.
Lalu yang tak ingin ku sebut cinta, sebenarnya,
mulai bergerilya di lembah-lembah hati, mengisi setiap kekosongan
di relung-relung perasaan yang nyaris mati membeku terkubur
di bawah gumpalan salju yang putih pucat.
Aku jatuh. Ya, jatuh disudut matamu yang memerah muda
yang sangat tak ingin ku akui, tapi aku tak sanggup menahannya
hingga memang aku hanya bisa menggagu di depanmu
dan jika bisa ku katakan juga, bila aku cinta kau...
Batavia, 070708
Dwi Rastafara
Jumat, Juli 04, 2008
Kemana
Kemana kau bawa matahari
yang sedikit lengser di atas kepalamu?
Kemana kau hela tali kekang angin
yang berhembus ke buritan kapalmu?
Mungkin kini kau tak lagi bisa,
mungkin kau tak lagi kuat
sementara kau hanya bisa terbujur
dan berkedip, isyaratkan apa yang kau mau.
Tetes air matamu mengubur semua tawamu,
hingga di penghujung senja, kau bahkan
tak berucap apapun, diam...
Kemana kau halau badai
yang bergumpal-gumpal di langit sore?
Kau tak lagi bisa menepisnya...
Nanggroe Atjeh, 040708
Dwi Rastafara
Selasa, Juli 01, 2008
Terbang Melayang
: Oemar
Terbang melayang dan menghilang
di balik pekat mega-mega,
membaur di antara serpih-serpih
atmosfer keruh yang meresap
melalui pori-pori kulit luar
yang memang telah mati,
mati mengering dan keriput.
Berkatalah Oemar kepada Nya
tentang atmosfer keruh
yang membayang di langit matanya,
lantang dia berteriak, geram...
Oemar, sepertinya Dia tak mendengarmu,
atau Dia tak mau mendengarmu.
Jadilah Oemar, lelaki tua keriput
yang mengering, kering...
Duduk di mobil Mercedes tua
yang asap knalpotnya hitam sehitam hidupnya,
di tangannya, telepon genggam
dan sebatang ganja.
Oemar lalu terbang melayang dan menghilang
di balik mega-mega,
sekejap saja dia sudah terlihat
duduk bersantai di sebelah kiri Nya...
Amien...
Nanggroe Atjeh, 010708
Dwi Rastafara
Terbang melayang dan menghilang
di balik pekat mega-mega,
membaur di antara serpih-serpih
atmosfer keruh yang meresap
melalui pori-pori kulit luar
yang memang telah mati,
mati mengering dan keriput.
Berkatalah Oemar kepada Nya
tentang atmosfer keruh
yang membayang di langit matanya,
lantang dia berteriak, geram...
Oemar, sepertinya Dia tak mendengarmu,
atau Dia tak mau mendengarmu.
Jadilah Oemar, lelaki tua keriput
yang mengering, kering...
Duduk di mobil Mercedes tua
yang asap knalpotnya hitam sehitam hidupnya,
di tangannya, telepon genggam
dan sebatang ganja.
Oemar lalu terbang melayang dan menghilang
di balik mega-mega,
sekejap saja dia sudah terlihat
duduk bersantai di sebelah kiri Nya...
Amien...
Nanggroe Atjeh, 010708
Dwi Rastafara
Kamis, Juni 26, 2008
Merpati
Merpati terbang membawa pesan,
terbang di bawah langit malam
nan kelam.
Lalu hinggap di bingkai jendela
seorang dara, merpati mendekur.
Pesan terbaca di remang
cahaya rembulan yang masih baru,
tentang kabarnya...
Batavia, 250608
Dwi Rastafara
terbang di bawah langit malam
nan kelam.
Lalu hinggap di bingkai jendela
seorang dara, merpati mendekur.
Pesan terbaca di remang
cahaya rembulan yang masih baru,
tentang kabarnya...
Batavia, 250608
Dwi Rastafara
Rabu, Juni 25, 2008
Bening Pagi
Bila kulihat bening matamu
yang seperti bening embun pagi,
aku hanya ingin berkaca disana.
Aku ingin melihat hati secerah fajar
yang terbit di ufuk timur,
juga ketika kumbang-kumbang pagi
berhias molek di bening kaca telaga,
aku ingin disana.
Aku hanya kau yang seperti bening embun,
seperti pagi...
Batavia, 250608
Dwi Rastafara
yang seperti bening embun pagi,
aku hanya ingin berkaca disana.
Aku ingin melihat hati secerah fajar
yang terbit di ufuk timur,
juga ketika kumbang-kumbang pagi
berhias molek di bening kaca telaga,
aku ingin disana.
Aku hanya kau yang seperti bening embun,
seperti pagi...
Batavia, 250608
Dwi Rastafara
Minggu, Juni 22, 2008
Merpati Salah Arah
Ku lihat lagi belalang di antara ilalang,
di antara ilalang yang menguning kering.
Sang bayu sapa ilalang,
membuatnya berbisik, bergemerisik.
Belalang tak bergeming hanya berayun
di pucuk ilalang sambil menatap kupu-kupu
yang terbang mengitari bunga anyelir,
anyelir yang tumbuh di antara ilalang.
Sebenarnya bukan karena anyelir
yang tumbuh di antara ilalang,
juga bukan belalang yang menatap kupu-kupu,
kupu-kupu tetap mengitari anyelir,
belalang tetap menatap kupu-kupu sambil berayun
di pucuk ilalang, seperti bermain sirkus saja.
Kupu-kupu seperti tak lelah berputar-putar
di atas kelopak anyelir,
seperti merpati yang salah arah,
berputar-putar...
Lalu dimana belalang ketika merpati terbang salah arah,
juga kupu-kupu yang mengitari anyelir?
Belalang tak lagi berayun di pucuk ilalang,
kupu-kupu tak lagi berputar-putar.
Ilalang kering, anyelir juga kering,
belalang mati, kupu-kupu juga mati.
Merpati kini tinggal sendiri, sepi
ditengah ilalang dan anyelir yang kering,
juga belalang dan kupu-kupu yang mati,
sendiri dan tetap salah arah...
Batavia, 220608
Dwi Rastafara
di antara ilalang yang menguning kering.
Sang bayu sapa ilalang,
membuatnya berbisik, bergemerisik.
Belalang tak bergeming hanya berayun
di pucuk ilalang sambil menatap kupu-kupu
yang terbang mengitari bunga anyelir,
anyelir yang tumbuh di antara ilalang.
Sebenarnya bukan karena anyelir
yang tumbuh di antara ilalang,
juga bukan belalang yang menatap kupu-kupu,
kupu-kupu tetap mengitari anyelir,
belalang tetap menatap kupu-kupu sambil berayun
di pucuk ilalang, seperti bermain sirkus saja.
Kupu-kupu seperti tak lelah berputar-putar
di atas kelopak anyelir,
seperti merpati yang salah arah,
berputar-putar...
Lalu dimana belalang ketika merpati terbang salah arah,
juga kupu-kupu yang mengitari anyelir?
Belalang tak lagi berayun di pucuk ilalang,
kupu-kupu tak lagi berputar-putar.
Ilalang kering, anyelir juga kering,
belalang mati, kupu-kupu juga mati.
Merpati kini tinggal sendiri, sepi
ditengah ilalang dan anyelir yang kering,
juga belalang dan kupu-kupu yang mati,
sendiri dan tetap salah arah...
Batavia, 220608
Dwi Rastafara
Kamis, Juni 19, 2008
Lupa
Lalu hari ini berakhir seperti biasa,
sedikit cerita yang luruh sebentar
di penghabisan senja.
Coba ku ingat hari ini
tapi aku lupa...
Batavia, 190608
Dwi Rastafara
sedikit cerita yang luruh sebentar
di penghabisan senja.
Coba ku ingat hari ini
tapi aku lupa...
Batavia, 190608
Dwi Rastafara
Selasa, Juni 17, 2008
Tak Ada Jingga
Tak ada jingga di langit pagi ini
hanya warna pucat mendung kelabu
merata hingga ke ujung cakrawala.
Kulihat jalan-jalan telah basah oleh gerimis,
4 hari 3 malam aku disini, aku harus pulang
tapi dengan mendung dan gerimis ini,
sepertinya Tuhan masih memintaku tuk tinggal...
Bangkok, 140608
Dwi Rastafara
hanya warna pucat mendung kelabu
merata hingga ke ujung cakrawala.
Kulihat jalan-jalan telah basah oleh gerimis,
4 hari 3 malam aku disini, aku harus pulang
tapi dengan mendung dan gerimis ini,
sepertinya Tuhan masih memintaku tuk tinggal...
Bangkok, 140608
Dwi Rastafara
Jumat, Juni 13, 2008
Ku Tak Bisa
Ada risau di sebelah hati,
kerap menghantui pikiranku
di setiap jengkal waktuku.
Gamang terbersit disela rindu
yang menggebu,
ku kira bisa ku lupakan dirimu,
meninggalkanmu karena lelahku
bermain dengan perasaan ini.
Tapi tak bisa, kau mengikutiku
meski hanya samar bayangmu
yang terbias di redup nyala lilin biara...
Bangkok, 120608
Dwi Rastafara
kerap menghantui pikiranku
di setiap jengkal waktuku.
Gamang terbersit disela rindu
yang menggebu,
ku kira bisa ku lupakan dirimu,
meninggalkanmu karena lelahku
bermain dengan perasaan ini.
Tapi tak bisa, kau mengikutiku
meski hanya samar bayangmu
yang terbias di redup nyala lilin biara...
Bangkok, 120608
Dwi Rastafara
Berlangganan:
Posting (Atom)
