Rabu, Oktober 24, 2007

"Masih Senyap"

Masih senyap ;
Gerimis... ya,sebentar lagi
senja turun perlahan ke balik bukit,
mengendap merah,
dan daun basah jatuh ke teras.
Sementara aku sudah terburu-buru menghalau waktu,
membaca pulir-pulir detik berikutnya,
apa yang mungkin terjadi?
Ada penat mengadu pada genangan air di halaman belakang,
seperti saat gaduh mengisak, membuatku gemetar,
senyapkanlah pula geram hati,
bersama gerimis yang melelah menyusul malam

"Saat Ini"

Kabut tipis meninggi kala malam,
seraya berarak ke peraduan.
Tanpa birahi bicara di balik tangan,
namun sungguh cinta sedang menelusup pelan jiwaku,
menggerakkan jemari kita lelah bermain
mendesirkan nafas tak sekedar datar
Semoga hanya ada saat ini
dengan bibir yang berkecambuk,
dengan tubuh yang berpeluk,
dengan segala gairah suci yang menghambarkan denting
dan tiupan angin mengetuk di pintu

"Tentangmu..."

Bias terik jatuh ke dinding
embun menggelantung di bibir daun
pecah beruntun mengalur alur
Sementara aku masih tak beranjak dari labirin bisu,
masih menggagu hingga kelu tak berlabuh,
mudah untuk bicara
bahwa hari ini kegamangan
telah terbirit-birit
menghalangi seperti angin
Ya, ini masih satu hari yang sama,
detik ini masih kelanjutan
dari kerdil sebelumnya



"Tentang hari"

Aku masih bicara pada hari,
bahwa aku gentar pada waktu
Aku bicara lagi pada hari,
bahwa aku kesal akan waktu
yang sudah terlewati,
bahwa aku ingin melepas tali kendaliku
dan jatuh lalu mati
Aku lanjutkan kembali bicara pada hari,
bahwa lara telah menjadi sembilu dalam hati,
sesepi nyeri


"Tentang penatku dan penatmu"

Ada gerutu yang tertinggal di balik senja,
seperti saat jenuh melenggang semanis miris
Endapan gaduh meriuh rauh
hingga ke ujung sauh,
merapat kesal jiwa lalu redam
Lalu rebah di lelangitan,
menemukan penatmu berjalan pelan,
menyandar di buah malam,
membuang jenuh dan kesal


"Sudahlah..."

Sudahlah, aku lelah bermain dengan perasaan,
aku lelah bercumbu dengan harapan
Ada kepenatan yang tak bisa ku hapus,
mengakar kuat di jiwa,
angin pun tak mampu menyapunya
Sementara kau tetap menari indah,
di atas potongan sajak terkoyak...

"Perempuan"

Anganku ke segala penjuru,
kata-kataku kehilangan kamus rujukan
Hanya pada harum rambutmu,
yang mengirimkan gerimis, aku istirah
Membuang resah padamu,
perempuan dengan surga di matanya


"Patah"

Sumbang hati sirna dalam waktu yang tertata rapi,
siluet ragumasih tanpa peduli,
kata yang tertahan di ujung bibir
Aku seperti ranting
yang tak tau kapan akan patah

"Narasi Tanpa Jeda"

Angin bisu seperti malam yang panjang,
berlalu menjadi narasi tanpa jeda
Kisah-kisah semata wayang dari novel tanpa koma
Aku masih disini,
menjadi tokoh tanpa nama

"Karang"

Ombak menepi,
menggambarkan rindu laut pada pantai,
engkau sayup-sayup dalam ingatan
Laut semakin pasang,
gelombangnya tak bergaram
Di tepian aku menantimu,
di atas karang tak karam-karam,
dan waktu berlalu bersama senja,
di ujung cakrawala samudra...