Sabtu, Desember 29, 2007


"Gambar Buram Masa Lalu"

Banyak yang sudah dilalui,
kisah-kisah terlewati,
memenuhi lembar-lembar kenangan
menjadi kepingan tak sempurna
Waktu pun tak bisa terulang,
menjadikannya sebuah cerita
dari kepingan-kepingan masa lalu
Mawar itu indah, namun tak selamanya
Perlahan waktu akan melayukan,
tiap kelopaknya lalu jatuh ketanah
Jika eidelweis bersemi, dia abadi
meski rapuh oleh waktu
Seperti secarik gambarmu, meski buram,
kan selalu terpajang
Entah kau saat ini dimana,
tapi kita masih tak berada
dalam satu frame foto yang sama
Aku masih bahagia...
"Melebur Penat"

Langit masih kelabu di penghabisan pagi,
anak dara bermain di sungai kecil,
melebur penat diantara
gelak riuh dan gemericik air
Semenit lalu angin masih bersahabat,
dingin, menyapa tubuh yang meringkuk
di bawah langit pekat kelabu,
berbaur bersama perasan peluh dan asa...
"Ketika Semua Nyata"

Ribuan tapak memenuhi kota,
debu beradu di bawah terik kesiangan
Arak-arakan wajah kelaparan
terlukis jelas di lelangitan,
hingga peluh mengadu riuh
bersama sesuap nasi di pinggir senja
Hampir malam, satu per satu
wajahnya sembunyi di tirai kelelahan,
membentuk surga kecil dari mereka...

Rabu, Desember 26, 2007

"Yang Tak Terulang"

Berfantasi, bercumbu dengan bosan,
dengan tubuh yang terkapar,
pun tanpa sedikit hasrat...
Lalu bergurindam sendiri,
mencaci, menyeret langkah yang kerap terhenti,
lelah oleh keadaan
Detik-detik bergerak cepat
seiring denyut yang meriuh,
menelanjangi jiwa yang lelap bermimpi andai...
Pada masa lalu yang tak pernah terulang



"Fajar Nila,Senja Jingga"
(Bagian 1)

Hari masih pagi...
Kabut belum seluruhnya turun ke tanah,
melayang rendah sedikit tinggi,
mengaburkan pandang...
Merpati bertengger iba
di dahan kering pohon mati,
sayapnya berdarah...
Tubuhnymenggigil dingin
Ada apa denganmu merpati?
Kemarilah biar ku balut lukamu
Hari ini kulihat langit tak berwarna,
seperti kanvas untuk lukisanku
ku biarkan tak berwarna
Aku masih bingung...
Kututup jendel kamarku,
kaca mozaik memendarkan warna pelangi,
bias warnanya jatuh di kanvasku yang tak berwarna
Ya, cuma sekedar warna pelangi,
bukan lukisan...
Lalu apa yang harus kulukis?


"Fajar Nila,Senja Jingga"
(Bagian 2)

Angin bisikan misteri,
ketika bulir-bulir pasir waktu telah habis
menghentikan waktu tak sekedar datar
Aku memanggilmu gamang...
Biar aku bercerita padamu sebentar saja,
tentang merpati yang sayapnya berdarah,
tentang mozaik yang memendarkan warna pelangi,
tentang hari yang membuatku merasa bingung
Maukah kau mendengarnya?
Hening ini masih setia di sendiriku
Kuputar lagi pasir waktu,hingga habis,
pun aku masih bercerita...
Ku rasa kau memilih tuk tak tinggal
meski ku minta sebentar lagi
hingga lukisanku selesai
Ya sudahlahtoljangan bertanya
mengapa ku minta kau tuk tinggal sejenak...


"Fajar Nila,Senja Jingga"
(Bagian 3)

Sebentar lagi senja...
Aku masih berjalan menjelajah waktu,
mencari sesuatu yang aku sendiri tak tau
Percuma...
Lalu kau datang lagi, untuk apa?
Aku sudah tak punya cerita,
lidahku kelu...
Aku dan gamang...
seperti fajar nila,
seperti senja jingga...

Minggu, Desember 23, 2007

#202025


"Aku Sendiri Hingga Senja"

Kelak aku sendiri tanpamu,
mungkin aku cuma bisa berangan-angan
Melewati hari tanpamu,
mencoba untuk tersenyum
meski aku harus kehilangan mu
Aku tak kan lelah menanti waktu,
dari fajar hingga senja tiba



"Suatu Hari"

Suatu hari lalu,
kita pernah berjalan bersama
melewati rimbun ilalang
Suatu hari lalu,
kita pernah berpeluk,
kuyup dibawah deras rinai gerimis
yang menggigilkan suasana
Suatu hari lalu,
aku pernah berkata,
semua hanya sementara
Kini, jika waktu bisa memaafkan,
aku ingin melewati gerimis bersamamu lagi


"Serat Kagem Ngayojokarto"

Semono ugo aku...
Kawit pisanan aku teko,
aku kesengsem marang slirahmu
Penganggomu perak gemerlip,
gawe blereng mripatku...
Elok, lembut laku lan tuturmu,
aku betah manggon neng kene
Yen mengko aku kudu lungo,
aku bakalan bali meneh,
aku bakalan kangen marang slirahmu,
kangen karo Ngayojokarto...

Rabu, Desember 19, 2007

Tentang Perempuan

"Perempuan Yang Bertaruh"

Perempuan terbangun sebelum fajar,
tertidur setelah senja menepi,
tapi tidak benar-benar terlelap kala malam
Di tiap detiknya adalah taruhan hidupnya,
mungkin lebih dari sekali
Dengan irama nafas yang tersengal,
dengan nyawa di ujung kepala,
lalu senyum terkulum di bibir perempuan
ketika tangis memecah suasana...


"100 keping Perak"

Peristiwa sakral telah tercipta,
ketika 100 keping perak merubah hidupnya
Dia tak pernah tau apa yang akan terjadi kelak,
dia hanya tau kehidupan ada ditangannya
Kala sebuah keajaiban terjadi,
ketika Sang Penguasa meniupkan ruh,
sebuah kehidupan bersemayam dalam rahimnya
280 hari dia jaga kehidupan itu dengan sabar
hingga tiba saatnya...
Dia pun pasrah jika hidupnya berakhir
demi sebuah kehidupan baru,
atau sebuah tugas panjang menanti
setelah dia melewati maut yang ada di depannya
Surga selalu tercipta untuknya,
juga untuk orang-orang yang memuliakannya

Selasa, Desember 18, 2007

"Sakura Coklat Maroon"

Mega-mega masih berarak...
Angin utara membawa bulir-bulir air mengristal
lalu jatuh di atas kelopak sakura
Kelopaknya tak lagi berwarna
biru, kuning atau jingga...
Angin utara bertiup semilir,
sakura mulai jatuh ke tanah
Aku termangu di bawah gugurannya
seraya memandangi sakura
yang berubah coklat maroon
ketika menyentuh tanah...

Jumat, Desember 14, 2007

#202736





"Menunggu"


Maaf, jika aku buat kau menunggu
tapi aku takkan pernah meninggalkanmu. ..



"Jika Sebentar"


Jika hanya sebentar aku menemuimu,
sedihku baru kemarin, tapi waktu berputar cepat
Jagalah apa yang kutitipkan padamu,
rawatlah bunga bakung
yang ku tanam di halaman belakang
Jika nanti kau lupa, lalu teringat kembali,
tersenyumlah pada bunga bakung yang ku tanam,
dari waktu yang pulir-pulirnya tidak sebentar
Aku hanya bisa memohon,
aku pun akan mengenangmu,
dan aku pasti kembali
bila waktu ku belum berakhir...

Waktu

"Semua Yang Berlalu"

Sebentar lagi fajar...
Ombak masih kejam ke bibir pantai
Rasanya, baru separuh waktu yang lalu
aku mengarak rindu jauh ke ujung sauh,
penat bertanggal diatas karang,
pecah oleh gelak malam
Lalu aku kembali ke peraduan,
berjalan bersama malam berikutnya

Rabu, Desember 05, 2007

#2121

"Aku Tak Punya Judul Untuk Puisiku"

Kutulis sebuah kata untuk kau pahami,
karena aku sendiri tak bisa memahaminya,
karena aku kehilangan kamus rujukan
dan kau pun hanya membisu
Lalu ku tulis lagi sebuah kalimat panjang,
karena aku ingin kau mengerti,
tapi aku masih tak punya judul
untuk puisiku...



"Dimanakah Senja"

Mendung masih setia temani hari,
menoreh kelabu di langit sore,
entah sudah berapa kali tak ku lihat senja
Aku rindu senja,
aku rindu hembusan anginnya,
membelai lembut setiap inci kulitku,
melambungkan bunga-bunga ilalang tinggi ke angkasa
Aku rindu ketika senja menyapa,
menepikan galauku saat malam tiba...

Minggu, Desember 02, 2007

#2120

"Benu Dan Gitar Kayu"

Badai, hujan dan air,
cuma sebuah peristiwa kala hari
Benu tetap bernyanyi dengan gitar kayunya,
ia tak gentar pada cuaca,
demi sebuah mimpi yang masih
tergantung di langit tinggi
Gitar kayu temannya sejalan,
lewati badai, hujan dan air
Cuaca tak bisa menghalangi,
karena mimpinya belum lagi nyata



"..."

Dalam waktu yang lantarkan naluri,
menjajarkan kecewa tak berkesudahan
tuk tak hendak luruskan satu tangan
Ketika kejujuran tak lagi bernyawa,
ketika nafsu ngakak di atas kepala,
ternyata jalan ini terjal
Sebaiknya aku tak bermuram durja,
meski teriakan setan di balik mata
menyeretku pada murka
Ya... Jalan ini masih terjal


"Jangkrik Bos"

Pagi Bos...
Apa kabar Bos...?
Ya, Bos...?
Siap Bos...!
Tenang Bos...
Beres Bos...!
Apanya yang beres,
tiap hari cuma jangkrik Bos doang...



"Untitled"

Kau perebutkan kekuasaan
seiring dentum sang jagad
Jerit melengking warnai sumpah serapah
dan hidup tetap menjadi kalam-kalam basah
Seiring tameng kealfaan,
nafas terus memburu sesak
Lelah telah terpatriotkan
bersama lunglainya ingin yang menderu
Namun semua semu, semua bisu,
semua tak dapat menjawab
Hanya gumam lirih yang terdengar
dan ocehan yang tersumbat
tertahan oleh keadaan



"Senandung Caci Maki"

Hei tuan kota...!!!
suaramu tak sedikit pun buat ku gentar,
karena telinga ku telah tersumbat
suara genderang kebencian
Telan saja janji manismu,
aku muak dengan omong kosongmu
Mulut ku tak pernah berhenti bersenandung,
senandung caci maki buat mu
Tngan ku tak lelah menulis,
sumpah serapah buat mu
Aku akan tetap berdiri disini,
meski kau patahkan setiap ruas tulang ku
Hei tuan kota...!!!
nikmati makan malam terakhirmu,
esok kau tak lagi bisa menikmatinya



"Nina Bobo"

Tertidurlah dan terus bermimpi,
jika kau ingin terus menikmati gemerlap kota
Jangan, jangan pernah terbangun,
bila kau terbangun hidupmu kembali semula,
seperti hari kemarin,
memandang orang diatasmu,
berpesta dan tertawa,
sementara kau berangan-angan
ada di antara mereka
Mereka sedikitpun tak peduli dengan mu,
menganggap mu seperti anjing buduk,
mengais sisa-sisa basi dari pesta mereka
Baiknya kau tetap tertidur,
bermimpi menikmati gemerlap kota
Sementara aku tetap disini,
mendendang nina bobo
agar kau terbuai dalam mimpi mu



"Ya..."

Bakar...
Bakar lagi...
sampai aspal itu meleleh,
oleh panas api yang kalian nyalakan
Tak hanya aspal yang meleleh,
asa mereka pun leleh bersama air mata
Bingung campur resah,
dengan apa lagi mereka teruskan hidup
Lalu coba padamkan api kalian,
ya, dengan air...
Tapi tak hanya api yang padam,
semangat mereka pun padam,
karena airnya tenggelamkan apa yang mereka punya
Ya... Jakarta sudah habis,
seperti penggalan sebuah lirik lagu
"Jakarta sudah habis,
air dan apinya bencana..."