"Benu Dan Gitar Kayu"
Badai, hujan dan air,
cuma sebuah peristiwa kala hari
Benu tetap bernyanyi dengan gitar kayunya,
ia tak gentar pada cuaca,
demi sebuah mimpi yang masih
tergantung di langit tinggi
Gitar kayu temannya sejalan,
lewati badai, hujan dan air
Cuaca tak bisa menghalangi,
karena mimpinya belum lagi nyata
"..."
Dalam waktu yang lantarkan naluri,
menjajarkan kecewa tak berkesudahan
tuk tak hendak luruskan satu tangan
Ketika kejujuran tak lagi bernyawa,
ketika nafsu ngakak di atas kepala,
ternyata jalan ini terjal
Sebaiknya aku tak bermuram durja,
meski teriakan setan di balik mata
menyeretku pada murka
Ya... Jalan ini masih terjal
"Jangkrik Bos"
Pagi Bos...
Apa kabar Bos...?
Ya, Bos...?
Siap Bos...!
Tenang Bos...
Beres Bos...!
Apanya yang beres,
tiap hari cuma jangkrik Bos doang...
"Untitled"
Kau perebutkan kekuasaan
seiring dentum sang jagad
Jerit melengking warnai sumpah serapah
dan hidup tetap menjadi kalam-kalam basah
Seiring tameng kealfaan,
nafas terus memburu sesak
Lelah telah terpatriotkan
bersama lunglainya ingin yang menderu
Namun semua semu, semua bisu,
semua tak dapat menjawab
Hanya gumam lirih yang terdengar
dan ocehan yang tersumbat
tertahan oleh keadaan
"Senandung Caci Maki"
Hei tuan kota...!!!
suaramu tak sedikit pun buat ku gentar,
karena telinga ku telah tersumbat
suara genderang kebencian
Telan saja janji manismu,
aku muak dengan omong kosongmu
Mulut ku tak pernah berhenti bersenandung,
senandung caci maki buat mu
Tngan ku tak lelah menulis,
sumpah serapah buat mu
Aku akan tetap berdiri disini,
meski kau patahkan setiap ruas tulang ku
Hei tuan kota...!!!
nikmati makan malam terakhirmu,
esok kau tak lagi bisa menikmatinya
"Nina Bobo"
Tertidurlah dan terus bermimpi,
jika kau ingin terus menikmati gemerlap kota
Jangan, jangan pernah terbangun,
bila kau terbangun hidupmu kembali semula,
seperti hari kemarin,
memandang orang diatasmu,
berpesta dan tertawa,
sementara kau berangan-angan
ada di antara mereka
Mereka sedikitpun tak peduli dengan mu,
menganggap mu seperti anjing buduk,
mengais sisa-sisa basi dari pesta mereka
Baiknya kau tetap tertidur,
bermimpi menikmati gemerlap kota
Sementara aku tetap disini,
mendendang nina bobo
agar kau terbuai dalam mimpi mu
"Ya..."
Bakar...
Bakar lagi...
sampai aspal itu meleleh,
oleh panas api yang kalian nyalakan
Tak hanya aspal yang meleleh,
asa mereka pun leleh bersama air mata
Bingung campur resah,
dengan apa lagi mereka teruskan hidup
Lalu coba padamkan api kalian,
ya, dengan air...
Tapi tak hanya api yang padam,
semangat mereka pun padam,
karena airnya tenggelamkan apa yang mereka punya
Ya... Jakarta sudah habis,
seperti penggalan sebuah lirik lagu
"Jakarta sudah habis,
air dan apinya bencana..."