Kamis, Januari 31, 2008

JINGGA



"Jingga"


Jejaknya masih tertinggal di bibir pantai,
tercermin di jingga langit sore
Apa yang dia tinggalkan adalah
apa yang dia rasakan,
hingga ombak yang berkunjung pun enggan menyapunya
Kemudian dia coba melukis pelangi,
karena harinya tak berwarna
Semua luruh, semua sirna dalam waktu yang tertata rapi,
lalu terekam bak siluet mimpi buruk
yang selalu ada dalam ingatan
Namun dia tetap tegar seperti karang...

Jakarta, 31 Januari 2008
Dwi Rastafara

DENDAM

"Dendam"

Aku tiba-tiba tersentak ketika angin basah
berhembus menerpa wajahku
Apakah aku sedang tertidur?
Atau bermimpi?
Ketika kali pertama aku melihatmu,
aku tidak memanggilmu,
juga tidak melambai padamu
Lalu aku duduk di bangku besi stasiun,
di depanku perempuan menggodaku
dengan senyum lepasnya,
matanya jalang...
Dia mendekatiku, lalu semakin menggodaku
di setiap menit yang ku punya
Lebih baik kau ikut duduk di sebelahku
agar aku tak sendiri dgn perempuan
yang matanya jalang ini
Aku tau, di tanganmu ada sebilah belati
yang kau sembunyikan di balik tubuhmu,
di dadamu ada dendam yang membara
Pada ku kah?
Atau pada perempuan yang matanya jalang ini?

Jakarta, 29 Januari 2008
Dwi Rastafara

Senin, Januari 28, 2008

UNTUK NI

"Untuk Ni"

Aku tau kau selalu terbangun sebelum fajar,
selalu ingin melakukan suatu hal
yang seharusnya bisa kau lakukan
Bila ku tatap wajahmu,
ada kecewa dan duka tertimbun disana,
air mata mengalir, menganak sungai dari sudut matamu
Aku tak minta kau menuang kopi ke cangkirku,
atau mengoles metega di rotiku,
aku tak ingin kau bergelinjang di ranjangku
ketika aku butuh kau,
aku tak...
Kata-kataku terhenti ketika kau bungkam mulutku
dengan satu jarimu,
kau tak ingin ku teruskan kata-kataku
Ingin sekali ku letakan semangkuk bubur gandum
di mejamu, segelas perasan orange hangat,
secawan madu dan setangkai mawar putih
Namun aku hanya bisa meletakkan setangkai mawar putih
ketika ku buka pintu kamarmu,
mendapati senyum anggun di wajah pasi mu
yang tak lagi menimbun kecewa dan duka
Pun air matamu telah tiris
pada keadaan yang berbeda,
aku harus melepasmu...
Mawar putih itu selalu menemanimu
untuk satu purnama,
akan ku bawakan lagi mawar putih
di purnama selanjutnya...

Bali, 23 Oktober 2003
Dwi Rastafara dan I Gede Sutedja (seorang tuna wicara),
untuk alm. Ni Putu Saraswati,
RIP 17 Oktober 2003

Sabtu, Januari 26, 2008

Sweet Vodka


"Sweet Vodka On You"

Long glass sweet vodka
rasa sweet melon,
duduk santai di sofa empuk
depan tayangan tv kabel
yang tak dihiraukan
Temannya, bidadari cantik bertanduk tujuh
Long time no see bebe,
let's fly to the moon...

Jakarta, 25 Desember 2007
Dwi Rastafara

Next Time


"Next Time"

Everything will be a while although my love is forever,
next day i'm alone without you
but your love always be put in my soul
Maybe i just can figure out when you touch me,
pass my day when you not here,
try to smile although i missing you
Take a loyalty to always in your love,
hope that you who will over my love
Just want in order to love
won't run away from my self
I never tired to wait the time
although the dawn until the twilight
Always to take turn,
coz i love you by all my life...


"I Miss You"

I know that there are many times
i fail to do or say...
The thoughtful little things,
i could to show you how very dear
you are to me...
But i just couldn't you the change to say
i miss you...

Jogja, 15 Mei 2000
Dwi Rastafara

Kamis, Januari 24, 2008

BOCAH


"Bocah"

Sore; bentang waktu
penuh riuh bocah berlarian,
berkejaran susuri lorong-lorong jalan
Gelak tawa pecah di lapangan depan rumah
tempat bermain bola dan gobak sodor
Selepas senja suara mereka masih lantang
terdengar dari surau kecil
Kini semua hilang, semua hening,
kemana mereka pergi?
Lorong-lorong tempat mereka berlarian
di gantikan jalan tol,
lapangan tempat mereka main bola dan gobak sodor
telah berdiri angkuh gedung-gedung tinggi
dan cerobong asap pabrik yang merobek langit
Tak ada lagi suara lantang
saat mereka mengaji selepas magrib,
semua hilang ditelan dentum musik
dan dengungan mesin-mesin pabrik
Sore; bentang waktu penuh riuh bocah,
menghilang...
Haruskah?...

Bekasi, 23 Januari 2008
Dwi Rastafara

DIA

"Dia"

Senja baru turun,angin selatan bertiup pelan,
membawa suara sang bilal yang masih
bersenandung puji-pujian di surau kecil
persimpangan jalan
Kala mereka mulai pergi dari surau,
senja berangkat malam
Ada saja yang tertinggal disana,
saat gundah singgah di hatinya,
mengusik hening lamunan
Sepertinya suara sang bilal
terdengar sedikit parau di telinganya
Dia ingin sendiri, berpetualang,
menjelajah malam usai senja,
bersahabat dengan kesendirian,
menyimpan semua yang dia rasakan sendiri
Mungkin hanya dia yang tau,
mungkin hanya satu yang mereka tau,
Dia namanya...

Jakarta, 22 Januari 2008
Dwi Rastafara

Senin, Januari 21, 2008

Lelaki

"Lelaki Di Kontrakan Tengah"

Dia baru akan berangkat tidur ketika hari pagi,
kopi di cangkirnya belum juga habis,
puntung rokok masih menyala
Buku TTS bergambar wanita sexy
menghantarkan mata sayunya,
di halaman belakang tertulis sepuluh kata "dhie",
entah apa maksudnya...
Padahal nama pacarnya bukan Dhie,
pacarnya seorang wanita berumur 39 tahun,
sementara dia baru 29 tahun
Dunia memang gila, atau
dianya yang sinting?
"Ah persetan...", katanya...
Sebentar mengobrol sembari mengisi
kotak-kotak TTS yang hampir penuh,
lalu dia mulai terbuai dalam mimpinya
di kontrakan berukuran 3 x 3 meter
Nanti malam kerja lagi,
esok pagi akan sama seperti pagi ini...

Jakarta, 21 Januari 2008
Dwi Rastafara

Segi Lima Tak Beraturan

"Segi Lima Tak Beraturan"

Berdiri di tengah ruang segi lima tak beraturan,
tiap sudutnya adalah lorong gelap reaksi kimia,
larut dalam sebotol Smirnoff di genggaman
Detak jantung berpacu seiring dentum simbal
yang memekakan telinga,
lalu pecah diantara suara-suara berat menghantam dada
Malam berjalan cepat,
ketika hari telah dini semua usai
Sedikit aroma mariyuana
menghantar pulang ke peraduan,
berbaur sisa lima dimensi semalam

Jakarta, 20 Januari 2008
Dwi Rastafara

Minggu, Januari 20, 2008

VREDEBURG

"VREDEBURG"

Aku masih bersamamu, duduk
di bangku beton depan VREDEBURG,
sama-sama terdiam...
Di sebelahku dua gelas loki,
sebotol Vodka dan sekotak Lucky Strike
Satu gelas untukku, kau
pesanlah Cappucino Float
agar bibirmu manis saat aku
menciummu untuk terakhir kali,
karena gelas lainnya
untuk lelakimu selain aku...

Pojok Beteng, Jogja,
15 September 2007
Dwi Rastafara

Selasa, Januari 15, 2008

"Imajinasi"

Hujan kembali turun di batas senja...
Sebentar lagi malam,
peri-peri langit kembali ke khayangan,
lelah usai bermain di bawah langit jingga
Seketika hening...
Tak ada lagi gelak riuh canda mereka,
yang tertinggal hanya
aroma wangi tubuh
dan bayang-bayang cantik mereka
dalam imajinasi...

Jakarta, 14 Januari 2008
Dwi Rastafara

Senin, Januari 14, 2008

"Kristal Bening Paranoia"

Berhalusinasi, imajinasi sesaat,
dengan atau tanpa substansi-substansi
reaksi kimia yang menjalari setiap syaraf,
melintasi rongga-rongga dimensi ruang dan waktu
Lepas dan melayang diantara kenyataan
dan alam bawah sadar...
lalu akhiri dengan tawa lepas dan senyum puas
atau isak tangis dan derai air mata...

Jakarta, 13 Januari 2008
Dwi Rastafara

Minggu, Januari 13, 2008

Parang Kusuma

"Parang Kusuma"

Aroma mistis hijau parang rusak,
berbaur kental wangi dupa,kantil dan melati
Tenang seribu bahasa,
yang terdengar hanya gemuruh ombak
memecah karang,
lalu karam ke dasar Parang Kusuma
Tak pernah terusik
hingga waktunya tiba...

Jogja, 20 Maret 1999
Dwi Rastafara

Sabtu, Januari 12, 2008

Tempat Ini

"Tempat Ini"

Aku mohon tinggallah sejenak,
sebait lagi sajakku selesai
lalu kau boleh pergi...
Lembar ini, satu helai terakhir,
benakku telah kosong, kata-kataku habis,
detik-detik tanpa jeda ku lalui
Ketika malam menjemput pagi,
aku akan tetap disini,
mengantarmu hingga gerbang pergimu
Dan bila nanti kau kembali,
meski pundi-pundi ini telah berlumut,
lebur oleh terik mentari dan basah air hujan,
aku selalu menunggumu
di tempat ini

Dwi Rastafara

Aku Benci

"Aku Ingin Bila Kau Ada"

Aku ingin membunuhmu,
karena aku tak ingin kau pergi
Aku butuh kau ketika kau tak ada,
tapi aku tak butuh kau ada di dekatku
karena aku tak ingin kau tau
aku membencimu...
sangat...benci...
Tapi aku ingin kau tak pergi...

Kamis, Januari 10, 2008

"Surat Untuk Adinda"

Adinda...
Belum separuh musim ketika
kali pertama aku menyapamu,
belum juga habis jingga di langit sore
Bila waktu ini aku tak lagi disini,
ingatkan aku akan jalan ini,
ketika lampu-lampunya mulai menyala,
ketika langit mulai menghitam seperti eboni,
ketika aku lupa untuk kembali...

Dwi Rastafara

Selasa, Januari 08, 2008

Menanti

"Menanti..."

Sendu nafasmu masih kurasakan
dari kejauhan ini,
kau telah menang melewati hari ini
Aku masih terduduk, menanti...

Tepian Mahakam,
Kutai, 18 Juli 2001
Dwi Rastafara

Melukis Senja

"Melukis Senja"

Melukis senja;
Seperti senja itu...
Mereda tangis seperti hari itu,
melenggang tatih seperti langkahku
Tapi bait ceritaku belum selesai,
merepihku saat luka yang tertoreh
menyentuh tulus
Jeda per jeda waktu ku tepis,
membiarkannya lebih baik pergi
meski tak lekang,
aku tak ingin beranjak

Jakarta, 08 Januari 2008
Dwi Rastafara

Sebelah Hati

"Sebelah Hati"
(Bagian 1)

Ada himipitan di sebelah hati,
ada lebam di mata,
entah apa maksudnya...
Seperti luka,
air di sudut mata belum juga tiris
Aku lagi-lagi di persimpangan,
ingin sekali satu ke jegal
Tapi apa?
Aku, aku dan aku...


"Sebelah Hati"
(Bagian 2)

Ada sesal di sebelah hati,
yang sekali lagi menjegalku
seperti kecewa yang kemarin
Ku bawa melenggang, memasung,
lalu menghujani ku dengan sumpah serapah
Aku perlahan melewati likuan
dengan sakit di sekujur ku


"Sebelah Hati"
(Bagian 3)

Bila ada pilihan untukku,
aku ingin itu adalah kenangan
membiarkanku sejenak menjalani
semua yang pernah dijalani
Waktuku belum usai
Tapi karena-Nya tak memberiku
kesempatan untuk pilihan itu...

Jakarta, 15 Maret 2006
Dwi Rastafara
"01:14 Am"

Semalam kau datang di mimpiku,
mengirim hujan di rambutku
hingga laut tumpah
dan kapal-kapal berlayar penuh rindu


"Senja Merah"

Cuaca telah membuatnya lupa,
seperti ketika senja datang
dan merahnya menjadi palingan
dari waktu yang membawanya pulang

Surabaya, 08 Januari 2006
Dwi Rastafara

Senin, Januari 07, 2008

"Aku Lelah"

Baru setengah hari...
Peluh mendanau dahaga,
bisa saja ku katakan
"aku lelah..."
Aku hanya diam dalam himpit gulita
Gerai hujan di tepian,
rasanya bukan aku saja dan mereka,
tapi kita, aku dan kalian...

Serang, 1 Mei 2001
Dwi Rastafara
"Lelap Malam"

Lelap malam;
membuat cekamgundah...
Ketika nyata hanya jadi cemooh,
caci bagi kehidupan
Apa arti sebuah tanya tak terjawab?
Kadang lebih pahit dari empedu,
lebih perih dari sayat sembilu
Lebih-lebih tak dapat di terka
seperti gerbang ke surga...

Serang, 30 April 2001
Dwi Rastafara
"Sudah"

Dari sudut bibir aku urai hari ini,
segemetar apa aku kala ingat
derai cerita kemarin
Kemarin sudah ku lewat berhari-hari
dalam atap kejenuhan


"Laut"

Laut membelah tubuhku,
di pantai, di atas gelombang
Sampai tubuhku tenggelam
dan diam menjadi bahasa
paling sempurna dari perjumpaan


"Musim"

Seperti petaka yang di bawa angin,
nyeri...
seperti musim dari namamu...


"Batu Biru"

Aku membaca angin, gunung,
rindu dan hari
Membaca lintas tubuhmu atau tubuhku
Diam menjadi batu;
Batu biru dari namamu


Serang, 28 April 2001
Dwi Rastafara

Minggu, Januari 06, 2008

Rengas Dengklok-Cikarang


"Pagi, Rengas Dengklok"

Mentari berselimut mega-mega,
meredupkan sinarnya
Aku ingin tinggal sejenak,
sebentar saja hingga di penghabisan pagi
Tolong katakan padanya,
aku ingin tinggal sejenak,
menapak tilasi masa lalu ku dengan nya,
ketika kami berkeluh kesah,
ketika kami masih bercinta di pagi Rengas Dengklok

Rengas Dengklok,
06 Januari 2008 08:45 am
Dwi Rastafara



"Anak Wayang"

Anak wayang di pinggir cakrawala senja,
hatinya berselimut atmosfer gundah,
ia sedih, namun air matanya tiris
Anak wayang menatap jauh ke awang-awang,
matanya seteduh awan yang payungi katulistiwa
melukiskan cerita
Anak wayang mengeluh resah,
semua kisahnya terangkum di pelataran langit,
ketika senyumnya lepas,
saat air matanya tumpah...

Cikarang,
06 Januari 2008 14:28 pm
Dwi Rastafara

Sabtu, Januari 05, 2008




"Lewat Satu Hari"

Sudah berhari-hari...
Ya, sudah lewat satu hari
Geram dalam sekam
meludah perih ke bilik waktu,
ke labuhan biru tempat aku dan kau
menerka rahasia di balik pagi
Ya, pagi ini berlalu begitu saja,
seperti sebelum-sebelumnya
yang kerap di susul senjakala
merah meradang
Pekik di telinga akan kejenuhan

Pengecut

"Pengecut"

Sedari tadi aku masih meringkuk
dalam selimut bau ku
Gerimis menjeda hari ku...
Masih basah jendela dan pelataran,
khayalan-khayalan dan beban menggebrak pikiran
Aku nikmati dalam ringkukan pertama,
kedua, ketiga... lelah!
Aku lelah membata-bata hidupku,
membuat ketegaran ku berduka!
Bukan...! Bukan aku di balik tulisan ini!
Lalu siapa?
Seorang pengecut yang kalap atas tulisannya?!

08:58 Am

"08:58 Am"

Tiba di satu hari berbeda,
jelaga mencoreng kabut tipis di tepi jendela
Nadiku geletar, gemetar...
Aku merasa dingin, aku merasa gagu
sedingin malam kala kau dekap erat,
semakin dekat...!
Hingga ku dapati detakmu selami jiwaku,
segagu bibirku ketika kata-kata
meradang menjadi bisu
Aku ingin menghabiskan waktu,
menoreh cerita di cakrawala senja...

"Malam"

Malam tiba-tiba benderang,
menghilang seperti angin sakal,
membawa serta mimpi dan kebisingan
juga rindu yang kelam
Malam pada musim yang telah lama membeku,
seiring badai, daun di senja menguning


"Usai Sudah"

Kepenatan kini usai sudah,
telah ku habiskan banyak hari
hanya untuk hati
Kesedihan beradu luka,
kujegal semua harapan,
satu kesatuan berkalang perih...