Seperti fajar pagi yang datang di musim basah,
mengetuk pintu depan, singgah sejenak
di beranda rumah lalu pergi
Entah kapan dia akan datang lagi
Yang ku tau lanit selalu redup,
sembunyikan fajar pagi di balik labirin kelabu
Seharian tadi kulihat langit redup seolah menggambarkan
apa yang kurasakan semalam, atau mungkin
beberapa hari ini, bangun di pagi mendung dengan kepala berat
Dimanakah fajar pagi yang seharusnya bersinar hangat?
Dimanakah suara kicau burung-burung?
Yang ku dengar hanya derai gerimis dan sesekali
suara gemuruh di angkasa
Aku rindu fajar pagi yang datang mengetuk pintu depan,
singgah sejenak di beranda rumah, tak mengapa jika
hanya sebentar ku rasakan hangatmu
Seperti hangatnya cinta saat memeluk jiwa
yang terkurung dalam dingin ruang kesendirian
Dimanakah kau saat aku butuh kau?...
Dimanakah cinta ketika aku butuh pelukan kehangatan?...
Jakarta, 26 Februari 2008
Dwi Rastafara
Rabu, Februari 27, 2008
Gula - Gula
Gula-gula ;
Tubuh molek, sempurna di setiap lekuknya
Berbalut warna-warni cerah mengoda,
mengajak hati tuk mendekat, meraba,
merasakan manisnya
Kering pekat terikat bersama manis
di tenggorokan yang meradang
lalu mengendap di hati yang menghitam
Gula-gula ;
seperti cinta, manis namun mematikan rasa
Atau gula-gula yang seperti cinta...
Jakarta, 26 Februari 2008
Dwi Rastafara
Tubuh molek, sempurna di setiap lekuknya
Berbalut warna-warni cerah mengoda,
mengajak hati tuk mendekat, meraba,
merasakan manisnya
Kering pekat terikat bersama manis
di tenggorokan yang meradang
lalu mengendap di hati yang menghitam
Gula-gula ;
seperti cinta, manis namun mematikan rasa
Atau gula-gula yang seperti cinta...
Jakarta, 26 Februari 2008
Dwi Rastafara
Senin, Februari 25, 2008
Hilang
Dan aku hanya terduduk di depan komputer,
diam, sejenak memandangi gambar-gambar
di layarnya yang sesekali berganti.
Ada gambarmu disana...
Deretan tombol di depanku belum lagi
ku sentuh, aku bingung. Benakku kosong...
Entah apa yang ingin ku tulis ketika kulihat
lagi gambarmu di layar.
Vodka dari tenggakan pertama belum
membuatku nanar, tenggakan kedua,
ketiga, hanyut bersama alunan reggae.
Sebatang sativa yang terjepit di bibirku
mulai bercerita tentang seseorang,
mungkin juga kau...
Ketika kali ketiga kulihat gambarmu di layar,
yang ku ingat adalah kali pertama ketika kau menyapa,
tersenyum dan mulai bercerita tentang aku,
kau dan mereka.
Ya, sebentar saja mengenangmu, tak mengapa...
Sejenak ku ikuti lirik-lirik yang di dendangkan
sang vokalis, suaranya agak parau...
Lalu kau menghilang bersama malam yang
beranjak pagi. Coba ku tepis bahwa aku
gelisah, tapi tak bisa. Ya, aku memang gelisah
ketika ku tau kau menghilang.
Tapi tak benar-benar hilang...
Seiring aroma sativa yang hilang di langit-langit
kamar...
Jakarta, 25 Februari 2008
Dwi Rastafara
diam, sejenak memandangi gambar-gambar
di layarnya yang sesekali berganti.
Ada gambarmu disana...
Deretan tombol di depanku belum lagi
ku sentuh, aku bingung. Benakku kosong...
Entah apa yang ingin ku tulis ketika kulihat
lagi gambarmu di layar.
Vodka dari tenggakan pertama belum
membuatku nanar, tenggakan kedua,
ketiga, hanyut bersama alunan reggae.
Sebatang sativa yang terjepit di bibirku
mulai bercerita tentang seseorang,
mungkin juga kau...
Ketika kali ketiga kulihat gambarmu di layar,
yang ku ingat adalah kali pertama ketika kau menyapa,
tersenyum dan mulai bercerita tentang aku,
kau dan mereka.
Ya, sebentar saja mengenangmu, tak mengapa...
Sejenak ku ikuti lirik-lirik yang di dendangkan
sang vokalis, suaranya agak parau...
Lalu kau menghilang bersama malam yang
beranjak pagi. Coba ku tepis bahwa aku
gelisah, tapi tak bisa. Ya, aku memang gelisah
ketika ku tau kau menghilang.
Tapi tak benar-benar hilang...
Seiring aroma sativa yang hilang di langit-langit
kamar...
Jakarta, 25 Februari 2008
Dwi Rastafara
The Person Is You
The person who can make me uneasy, is you...
The person who can make me confused, is you...
The person who can make me unsteady, is you...
The person who can make me beg for love, is you...
Jakarta, 25 Februari 2008
Dwi rastafara
The person who can make me confused, is you...
The person who can make me unsteady, is you...
The person who can make me beg for love, is you...
Jakarta, 25 Februari 2008
Dwi rastafara
Entah
Entah dengan apa lagi kukatakan, aku tak mengerti
Aku benar-benar kehabisan kata-kata
Sebongkah hasrat di dada, pecah...
Jakarta, 25 Februari 2008
Dwi Rastafara
Aku benar-benar kehabisan kata-kata
Sebongkah hasrat di dada, pecah...
Jakarta, 25 Februari 2008
Dwi Rastafara
Kontra Indikasi Antara Kofeina Dan Senyawa Aspirin
Seperti satu peleton tentara yang memacu jantung
berdenyut cepat, mengganjal kelopak mata yang
lelah tak tertidur. Mengirim sinyal-sinyal
gelisah ke otak kecil...
Sementara senyawa pati rasa bekerja di seluruh
pembuluh urat syaraf, membunuh rasa sakit
di sekujur tubuh, sekaligus mematikan
fungsi hati sebagai perasa...
Jakarta, 25 Februari 2008
Dwi Rastafara
berdenyut cepat, mengganjal kelopak mata yang
lelah tak tertidur. Mengirim sinyal-sinyal
gelisah ke otak kecil...
Sementara senyawa pati rasa bekerja di seluruh
pembuluh urat syaraf, membunuh rasa sakit
di sekujur tubuh, sekaligus mematikan
fungsi hati sebagai perasa...
Jakarta, 25 Februari 2008
Dwi Rastafara
Minggu, Februari 24, 2008
Kembali
Kembali ke Bogor tuk sekedar menyapa rindu
pada relief Maria yang pernah kulihat
Aku selalu ingin mengerti semua tentangmu
dan aku akan selalu menunggu untuk kau mengerti
ketika aku ingin kau...
Bintang...
Bogor, 24 Februari 2008
Dwi Rastafara
pada relief Maria yang pernah kulihat
Aku selalu ingin mengerti semua tentangmu
dan aku akan selalu menunggu untuk kau mengerti
ketika aku ingin kau...
Bintang...
Bogor, 24 Februari 2008
Dwi Rastafara
Tubuh Renta
Tubuh renta yang ku temui pagi tadi terlihat
lunglai di atas kursi roda, tak sepatah kata pun
keluar dari mulutnya. Namun sorot matanya seolah
mengabari keadaannya belakangan ini. Gurat-gurat
keriput tergambar jelas di wajahnya, bercerita
bahwa dia seseorang yang tegar dulu.
Ku ajak tubuh renta itu menikmati langit pagi
yang sedikit berawan. Sesekali terselip senyum
kecil di sudut bibirnya, senyum yang pernah
lepas... Miris terlintas gamang
ketika ku tau dia tak lagi seperti dulu, tegar menyapa
badai di hidupnya.
Sedikit bercerita tentang aku yang hampir
tak pernah menyapanya, maaf...
Air mata yang menetes dari sudut matanya
menterjemahkan kekecewaan ketika aku
harus pergi. Maaf, aku pergi bukan untuk
meninggalkanmu namun untuk bisa kembali
lagi ketika rinduku tebal...
Tubuh renta yang ku temui pagi tadi terlihat
lunglai di atas kursi roda...
Dia ayahku...
Jakarta, 24 Februari 2008
Dwi Rastafara
lunglai di atas kursi roda, tak sepatah kata pun
keluar dari mulutnya. Namun sorot matanya seolah
mengabari keadaannya belakangan ini. Gurat-gurat
keriput tergambar jelas di wajahnya, bercerita
bahwa dia seseorang yang tegar dulu.
Ku ajak tubuh renta itu menikmati langit pagi
yang sedikit berawan. Sesekali terselip senyum
kecil di sudut bibirnya, senyum yang pernah
lepas... Miris terlintas gamang
ketika ku tau dia tak lagi seperti dulu, tegar menyapa
badai di hidupnya.
Sedikit bercerita tentang aku yang hampir
tak pernah menyapanya, maaf...
Air mata yang menetes dari sudut matanya
menterjemahkan kekecewaan ketika aku
harus pergi. Maaf, aku pergi bukan untuk
meninggalkanmu namun untuk bisa kembali
lagi ketika rinduku tebal...
Tubuh renta yang ku temui pagi tadi terlihat
lunglai di atas kursi roda...
Dia ayahku...
Jakarta, 24 Februari 2008
Dwi Rastafara
Sabtu, Februari 23, 2008
Selamat Malam
Detak jantungmu masih ku rasakan dari berandaku,
melintas, sekelebat tanpa ku sadari
Kau seperti tak pernah lenyap dari benakku
hingga aku bisa terus membaca gerak tubuhmu
Dalam keheningan malam...
Jakarta, 23 Februari 2008
Dwi Rastafara
melintas, sekelebat tanpa ku sadari
Kau seperti tak pernah lenyap dari benakku
hingga aku bisa terus membaca gerak tubuhmu
Dalam keheningan malam...
Jakarta, 23 Februari 2008
Dwi Rastafara
Buchstabe Vom Herzen
A D E R
es gibt Dorn in meiner Ader...
als ich daß ich
liebe Dich soviel
Dorn in meiner Ader feststellte...
daß Zeit
als ich dieses Herz
in meiner Ader...
meine Ader verlor...
es wird geworden meine Reue
Ader...
die Gedächtnis von meinen
gewesen sein könnte
Ader in nichtigem...
Jakarta, 23 Februari 2008
Dwi Rastafara
als ich daß ich
liebe Dich soviel
Dorn in meiner Ader feststellte...
daß Zeit
als ich dieses Herz
in meiner Ader...
meine Ader verlor...
es wird geworden meine Reue
Ader...
die Gedächtnis von meinen
gewesen sein könnte
Ader in nichtigem...
Jakarta, 23 Februari 2008
Dwi Rastafara
Kalimat Untuk Kisahku
Angin yang bertiup seperti menyeretku pada masa lalu,
menguak manis getir kenangan yang tersusun rapi
di benak ini
Ego, keinginan dan cinta warnai hidup
yang terlihat pucat pasi
Kemarin adalah penyesuaian dari hidup
yang di jalani, sebuah pemahaman tentang
apa yang terlewati lalu menjadi penyelaras
hari ini
Aku tertegun lama sekali, yakin bahwa
semua tetap menjadi masa lalu yang tak terusik
Dalam diam, aku mulai mencari kalimat
pembuka untuk kisahku hari ini
Jakarta, 22 Februari 2008
Dwi Rastafara
3 Cerita 3 Wanita, Terserah Saja
Semalam temanku menelpon, dia baru saja
kencan dengan pacarnya. Kemarin malam
dia juga menelpon kalau dia baru saja pulang
dari rumah pacarnya. Pun malam sebelumnya
dia menelponku dan berkata kalau dia baru
saja mengantar pacarnya pulang
Hahaha...aku hanya tertawa,
3 cerita, 1 cinta, 3 wanita
terserah saja...
Dwi Rastafara
kencan dengan pacarnya. Kemarin malam
dia juga menelpon kalau dia baru saja pulang
dari rumah pacarnya. Pun malam sebelumnya
dia menelponku dan berkata kalau dia baru
saja mengantar pacarnya pulang
Hahaha...aku hanya tertawa,
3 cerita, 1 cinta, 3 wanita
terserah saja...
Dwi Rastafara
N A K
Hei nak...!
Tinggalkan sejenak mainanmu,
kemarilah duduk di sebelahku
biar ku beri tau tentang pahit getir hidup,
kau lelaki,
kerasnya hidup kelak kau jalani sendiri
Hei nak...!
Buka lebar-lebar mulutmu, lantangkan suaramu
bak harimau jantan di tengah rimba
Teriakan ketidak-sukaanmu pada nada-nada
sumbang di sekitarmu
Tajamkan tatapmu seperti mata elang di angkasa,
jadilah tegar bagai karang yang di gulung
gelombang pasang
Hei nak...!
Kau lelaki,
simpan air matamu...
Dwi Rastafara
Tinggalkan sejenak mainanmu,
kemarilah duduk di sebelahku
biar ku beri tau tentang pahit getir hidup,
kau lelaki,
kerasnya hidup kelak kau jalani sendiri
Hei nak...!
Buka lebar-lebar mulutmu, lantangkan suaramu
bak harimau jantan di tengah rimba
Teriakan ketidak-sukaanmu pada nada-nada
sumbang di sekitarmu
Tajamkan tatapmu seperti mata elang di angkasa,
jadilah tegar bagai karang yang di gulung
gelombang pasang
Hei nak...!
Kau lelaki,
simpan air matamu...
Dwi Rastafara
Daun Hijau, Laut biru
Nikmati sore di bawah langit ranum jingga,
senyum gadis kecil bergaun biru, pita gaunnya
di mainkan kesana kemari, bergaya layaknya
cinderela kecil yang ingin di sapa atau
sekedar minta di perhatikan bahwa dia
adalah putri dari negeri dongeng
Di bawah langit sore, riuh kicau burung-burung
pulang ke rimbun dedaunan, bercerita
tentang apa yang di lihatnya dari angkasa
Tentang hijaunya daun dan teduhnya langit biru
Buaikan mataku...
Jakarta, 21 Februari 2008
Dwi Rastafara
senyum gadis kecil bergaun biru, pita gaunnya
di mainkan kesana kemari, bergaya layaknya
cinderela kecil yang ingin di sapa atau
sekedar minta di perhatikan bahwa dia
adalah putri dari negeri dongeng
Di bawah langit sore, riuh kicau burung-burung
pulang ke rimbun dedaunan, bercerita
tentang apa yang di lihatnya dari angkasa
Tentang hijaunya daun dan teduhnya langit biru
Buaikan mataku...
Jakarta, 21 Februari 2008
Dwi Rastafara
Asma Mu
Niat ingsun...
Ngaso sak untoro ing tengah ing wektu,
sesarengan mirengaken naliko Sang Wali
maosaken ayat-ayat seko kitab
Sang Hyang Widhi
Niat ingsun...
Sembah sungkem nyuwon pangapuro
marang Sang Hyang Widhi,
Asma-Mu kemutan naliko penggalihku
semrawut lan naliko wonten ing
ngajeng regol sarean...
Dwi Rastafara
Ngaso sak untoro ing tengah ing wektu,
sesarengan mirengaken naliko Sang Wali
maosaken ayat-ayat seko kitab
Sang Hyang Widhi
Niat ingsun...
Sembah sungkem nyuwon pangapuro
marang Sang Hyang Widhi,
Asma-Mu kemutan naliko penggalihku
semrawut lan naliko wonten ing
ngajeng regol sarean...
Dwi Rastafara
Jejak Tertinggal
"Jejak Tertinggal"
Jejak kaki yang tertinggal di belakang berkisah
bentang peristiwa sehari lalu. Pengap menyesaki
rongga dada, memompa nafas berpacu cepat, memenggal
mimpi yang belum selesai. Pagi berawal gerutu, memcaci
keadaan yang sudutkan nurani. Entah ini kebetulan
atau memang biasa seperti ini.
Di tempat berbeda, ruang berbeda lampunya masih
menyala. Disuguhi tontonan sinetron fiksi penuh
gemerlap kota, sesekali di ganti saluran sirkus
binatang, cukup membuat jengah terbirit-birit.
Dari bingkai jendela, hari terpampang samar
di balik tirai kasa. Meja kerja yang sedikit
berantakan, komputer yang tak mati 24 jam seperti
merekam alur cerita di tiap detiknya. Entah
sudah berapa plot tersimpan. Inspirasi dari kamar
mandi jadi prolog cerita, berjalan sama
di tiap episodenya.
Jejak kaki yang tertinggal di belakang berkisah
bentang waktu sehari lalu,
memang tak berwarna
Jakarta, 21 Februari 2008
Dwi Rastafara
Jejak kaki yang tertinggal di belakang berkisah
bentang peristiwa sehari lalu. Pengap menyesaki
rongga dada, memompa nafas berpacu cepat, memenggal
mimpi yang belum selesai. Pagi berawal gerutu, memcaci
keadaan yang sudutkan nurani. Entah ini kebetulan
atau memang biasa seperti ini.
Di tempat berbeda, ruang berbeda lampunya masih
menyala. Disuguhi tontonan sinetron fiksi penuh
gemerlap kota, sesekali di ganti saluran sirkus
binatang, cukup membuat jengah terbirit-birit.
Dari bingkai jendela, hari terpampang samar
di balik tirai kasa. Meja kerja yang sedikit
berantakan, komputer yang tak mati 24 jam seperti
merekam alur cerita di tiap detiknya. Entah
sudah berapa plot tersimpan. Inspirasi dari kamar
mandi jadi prolog cerita, berjalan sama
di tiap episodenya.
Jejak kaki yang tertinggal di belakang berkisah
bentang waktu sehari lalu,
memang tak berwarna
Jakarta, 21 Februari 2008
Dwi Rastafara
Rabu, Februari 20, 2008
Membaca Cerita Sore

Aku hanya tertegun di depan gambar-gambar
pada dinding ruang
Entah mengapa aku tak ingin cepat beranjak,
aku masih ingin mencermatinya
Bias-bias mentari sore menembus kaca jendela,
terasa sedikit menyilaukan
Ganjaku tinggal sebalut...
Di ujung hari,menyapa burung-burung sore
pulang ke sarang,
mengejek bocah yang layang-layangnya putus
Kenurnya menjuntai lunglai
Gambar-gambar yang ku lihat pada dinding
sama seperti gambar-gambar yang kulihat
di langit sore
Tentang gambar layang-layang putus
melambai miris pada bocah,
seolah berucap selamat tinggal
Senja, ketika ku berjalan di taman kota
kulihat goresan pada kulit kayu pohon tua
tentang gambar yang pernah kulihat di langit sore,
seperti emaki yang bercerita tentang seseorang
Aku pun sebenarnya bosan melihatnya,
tapi hanya itu yang bisa ku mengerti saat ini
Ganjaku masih sebalut lagi,
sementara teh hangat yang ku pesan di warung pinggir jalan
hampir dingin karena aku sibuk bercerita
pada beberapa tukang becak
tentang gambar di dinding ruang, di langit sore,
dan di pohon tua yang kulihat sama
Mungkin...
Jakarta, 20 Februari 2008
Dwi Rastafara
Ruang Kosong
Pulang ke rumah, ketika yang ku dapati
adalah ruang-ruang kosong, diam...
Nyaris tak ada yang bisa dilakukan...
Kemana mereka?
Bahkan beberapa gelintir nyamuk pun tak
terlihat terbang-terbang
Ah, peduli apa aku pada mereka,
ketika yang ku temui hanya ruang kosong
tak bernyawa...
Berdebu...
Jakarta, 20 Februari 2008
Dwi Rastafara
adalah ruang-ruang kosong, diam...
Nyaris tak ada yang bisa dilakukan...
Kemana mereka?
Bahkan beberapa gelintir nyamuk pun tak
terlihat terbang-terbang
Ah, peduli apa aku pada mereka,
ketika yang ku temui hanya ruang kosong
tak bernyawa...
Berdebu...
Jakarta, 20 Februari 2008
Dwi Rastafara
Sepi
Urip ora pernah mesthi
namung ngenteni dino sesuk,
Yen slira mu isih ono ing jero ning peteng,
senajan omongan wis ora iso di ngerteni
lan kabeh roso wis mati,
namung sepi sing isih ngancani wengi
Sepi ning atiku...
namung ngenteni dino sesuk,
Yen slira mu isih ono ing jero ning peteng,
senajan omongan wis ora iso di ngerteni
lan kabeh roso wis mati,
namung sepi sing isih ngancani wengi
Sepi ning atiku...
Buletin Imajinasi
Terbang, melayang, menembus rongga-rongga
ruang waktu yang tak bersekat,
menjadi sesuatu dari mimpi-mimpi yang tumbuh
subur bak jamur di kayu lapuk
Singgah sebentar di atas teratai hitam,
lalu kembali menjelajah maya-maya
Bila lelah bertengger di bahu sebelah,
kepak sayap tak lagi imbang,
jatuhlah di atas ilalang yang menguning
Tidak dengan keras terhempas...
Sayang, sayapnya tak lagi kuat tuk terbang tinggi,
tiap helai bulunya gugur, merepih dan hilang
ketika menyentuh tanah
Terbang, melayang, menjelajah maya
Menembus rongga-rongga
ruang waktu yang tak bersekat
Lalu tenggelam bersama senja...
Jakarta, 20 Februari 2008
Dwi Rastafara
ruang waktu yang tak bersekat,
menjadi sesuatu dari mimpi-mimpi yang tumbuh
subur bak jamur di kayu lapuk
Singgah sebentar di atas teratai hitam,
lalu kembali menjelajah maya-maya
Bila lelah bertengger di bahu sebelah,
kepak sayap tak lagi imbang,
jatuhlah di atas ilalang yang menguning
Tidak dengan keras terhempas...
Sayang, sayapnya tak lagi kuat tuk terbang tinggi,
tiap helai bulunya gugur, merepih dan hilang
ketika menyentuh tanah
Terbang, melayang, menjelajah maya
Menembus rongga-rongga
ruang waktu yang tak bersekat
Lalu tenggelam bersama senja...
Jakarta, 20 Februari 2008
Dwi Rastafara
Sejenak, Lalu Hilang

Dendang bambu-bambu yang berderit disapa angin
terdengar seperti bisik jiwa yang gelisah
Entah seperti apa gelisah ingin diterjemahkan,
mungkin cuma terdengar seperti gesekan biola
yang salah nada
Coba letakan lelah di tepi hari,
menina-bobokan pikiran yang sedari tadi
melanglang buana ke setiap sudut semesta
"...tak lelo, lelo, lelo le gung..."
Terbang bersama arakan bangau pulang ke peraduan
di batang-batang bakau yang meranggas
Sejenak tertidur,
sejenak menepikan gelisah...
menggantungkannya di angkasa malam
Kiranya gelisah bersinar seperti bintang,
seperti nyala kembang api yang meluncur ke langit,
lalu hilang...
Ya, sejenak terbaca,
lalu hilang...
Jakarta, 20 Februari 2008
Dwi Rastafara
08:36 Pagi
Pagi ini, satu hari yang berbeda,
mata belum lagi terang menyala
Kepala sedikit migren sisa kesal semalam,
mungkin...
Ah, aku ingin liburan,
sebentar saja...
Jakarta, 20 Februari 2008
Dwi Rastafara
mata belum lagi terang menyala
Kepala sedikit migren sisa kesal semalam,
mungkin...
Ah, aku ingin liburan,
sebentar saja...
Jakarta, 20 Februari 2008
Dwi Rastafara
Bintang
"...yen ing tawang ono lintang cah ayu,
aku ngenteni..."
Bilakah kau ceritakan tentang bintang padaku?
Aku sangat ingin mendengarnya
Sementara kau adalah bintang
Lalu ku pandangi luasnya langit
malam yang menutup hari,
sejuta kerlip tergantung disana
Kusapa kau di antara kerlip mereka yang ku tau
pasti itu adalah kau
Bisakah aku menyentuhmu, bintang?
Lalu meletakkannya di telapak tanganku...
Jakarta, 19 Februari 2008
Dwi Rastafara
aku ngenteni..."
Bilakah kau ceritakan tentang bintang padaku?
Aku sangat ingin mendengarnya
Sementara kau adalah bintang
Lalu ku pandangi luasnya langit
malam yang menutup hari,
sejuta kerlip tergantung disana
Kusapa kau di antara kerlip mereka yang ku tau
pasti itu adalah kau
Bisakah aku menyentuhmu, bintang?
Lalu meletakkannya di telapak tanganku...
Jakarta, 19 Februari 2008
Dwi Rastafara
Langit Jingga
Entah kapan kali terakhir kulihat langit
cerah di tepi hari,
guratan mega-mega tipis seperti emaki
yang pernah kulihat di sudut ruang galeri
Ah, aku rindu pada warna jingganya,
pada kicau burung-burung gereja yang berebut
biji-biji padi di pelataran,
juga pada senyum usil bidadari sore
Maukah duduk di sebelahku,
bersandar di kursi malas
nikmati langit jingga di ujung hari ini
dari beranda rumahku...
Jakarta, 19 Februari 2008
Dwi Rastafara
cerah di tepi hari,
guratan mega-mega tipis seperti emaki
yang pernah kulihat di sudut ruang galeri
Ah, aku rindu pada warna jingganya,
pada kicau burung-burung gereja yang berebut
biji-biji padi di pelataran,
juga pada senyum usil bidadari sore
Maukah duduk di sebelahku,
bersandar di kursi malas
nikmati langit jingga di ujung hari ini
dari beranda rumahku...
Jakarta, 19 Februari 2008
Dwi Rastafara
Senin, Februari 18, 2008
Gereja Bogor Biru

Kali pertama bercerita tentang bintang,
ketika kata-kata terputus ditengah kisah Drouva
Entah, lelah menyapa malam-malam
yang semakin mendingin
Lalu sebuah waktu menggandeng hasrat
yang tertatih di persimpangan antara ya atau tidak
Sekedar menyapa di penghabisan senja,
ruang waktu kembali tak bersahabat...
Jejak kaki yang sempat terhenti di depan
Gereja Bogor, entah lelah atau ingin
Ornamen Maria terukir di dindingnya
layangkan senyum dari wajah yang pernah terlukis,
wajah yang pernah ditemui...
Rinai gerimis yang samarkan pandang
pada bangunan megah, bukan sekedar imajinasi
ketika terbangun di antara mimpi dan khayal
Entah, mungkin cuma sekedar rindu
di jiwa yang mengigau
Pada satu sisi ruang Gereja
tempat Maria berdiri menyapa,
ku titipkan tanya...
Dimanakah kau sembunyikan bintang
dari gugus ke enam?
Langit menelannya...
Jakarta, 18 Februari 2008
Dwi Rastafara
Sebait Haiku Untukmu
Kutuliskan sebait haiku untuk kau pahami,
tentang aku yang jatuh di hatimu...
Jakarta, 17 Februari 2008
Dwi Rastafara
tentang aku yang jatuh di hatimu...
Jakarta, 17 Februari 2008
Dwi Rastafara
SRIKANDI
"...lir-ilir, lir-ilir tanduro woh sumilir,
tak ijo royo-royo, tak sengguh..."
Srikandi abang, Srikandi ijo
Teko seko tengah ing wengi,
nebarake wangi kanthil lan melati seko khayangan,
ora ngabar kanti sak purnomo
semerbak ing jero ning ati
Teko ning asih, asih seko kersane
Sang Hyang Widhi,
kanggo sukmo sing dewekan...
Srikandi abang, Srikandi ijo
Manis esem mu gawe tentrem atiku
Senajan awakmu kudu bali ning khayangan,
niat ingsun...
Gawanen sukmoku melu bali ning khayangan...
Jakarta, 17 Februari2008
Dwi Rastafara
tak ijo royo-royo, tak sengguh..."
Srikandi abang, Srikandi ijo
Teko seko tengah ing wengi,
nebarake wangi kanthil lan melati seko khayangan,
ora ngabar kanti sak purnomo
semerbak ing jero ning ati
Teko ning asih, asih seko kersane
Sang Hyang Widhi,
kanggo sukmo sing dewekan...
Srikandi abang, Srikandi ijo
Manis esem mu gawe tentrem atiku
Senajan awakmu kudu bali ning khayangan,
niat ingsun...
Gawanen sukmoku melu bali ning khayangan...
Jakarta, 17 Februari2008
Dwi Rastafara
Sabtu, Februari 16, 2008
Sehari Lalu
Sehari lalu tak ku dengar kabarmu,
gundah gulana merajai benak yang tak tertidur
hingga kini,
entah apa yang ku rasakan,
kiranya benak ini bertanya-tanya
Di bawah kanopi lusuh ku nanti kau
bersama hujan yang tak reda-reda...
Jakarta, 16 Februari 2008
Dwi Rastafara
gundah gulana merajai benak yang tak tertidur
hingga kini,
entah apa yang ku rasakan,
kiranya benak ini bertanya-tanya
Di bawah kanopi lusuh ku nanti kau
bersama hujan yang tak reda-reda...
Jakarta, 16 Februari 2008
Dwi Rastafara
UNDANGAN
"Undangan Minum Teh"
Sore, lepas kerja serabutan dari pagi buta,
upah minim harian yang tak pasti hanya cukup
beli beras aking, cukup untuk makan dua kali,
kadang sekali...
Sore, lepas lelah di beranda rumah kardus
Atap rumbai yang tak rapat,
ventilasi alami dari hujan dan panas
tak mengusir bau menyengat di bawah kaki
lalat-lalat yang berdansa
Sore, lepas beban di bale reot,
nikmati asap tembakau dari puntung eceran
pinggir jalan, teh basi air hujan
sisa kemarin jadi teman ngobrol dengan kolega
Sore, lepas kenyataan gemah ripah loh jinawi,
memendam miris pesta kebun kaum kecil
Sudikah kiranya kau datang di undangan minum teh mereka?
Bantaran Ciliwung, 16 Februari 2008
Dwi Rastafara
Sore, lepas kerja serabutan dari pagi buta,
upah minim harian yang tak pasti hanya cukup
beli beras aking, cukup untuk makan dua kali,
kadang sekali...
Sore, lepas lelah di beranda rumah kardus
Atap rumbai yang tak rapat,
ventilasi alami dari hujan dan panas
tak mengusir bau menyengat di bawah kaki
lalat-lalat yang berdansa
Sore, lepas beban di bale reot,
nikmati asap tembakau dari puntung eceran
pinggir jalan, teh basi air hujan
sisa kemarin jadi teman ngobrol dengan kolega
Sore, lepas kenyataan gemah ripah loh jinawi,
memendam miris pesta kebun kaum kecil
Sudikah kiranya kau datang di undangan minum teh mereka?
Bantaran Ciliwung, 16 Februari 2008
Dwi Rastafara
JOGJA

"Jendela Terakhir Gaya Baru"
Peluit baru terdengar,
membawa laju kereta perlahan
beranjak dari Batavia
Himpit sesak bercampur lengket peluh di tubuh
tak surutkan hasrat,
serenade pengamen mengentalkan rindu
pada masa kecil yang tak lekang oleh waktu
Sejenak menyapa, berbincang basa-basi
membunuh waktu yang nyaris sebelas jam
di bangku Gaya Baru
6:30 pagi, tukang becak dan si mbok
penjual nasi gudeg menyapa ramah di Lempuyangan
Kereta tak singgah lama,
kisah semalam berakhir di Jogja
membawa senyummu yang hilang
di jendela terakhir Gaya Baru hingga ke Surabaya
Jogja, 15 September 2007
Dwi Rastafara
Jumat, Februari 15, 2008
N E I S K A
Perempuan itu ;
Semalam dia bersamaku, duduk bercakap
di kedai kopi depan rumah sakit
Kasut tipis, celana jeans pendek, cardigen kelabu,
syal belang hitam putih,
Dia cantik...
Sebotol vodka membuatnya meracau,
muntahkan unek-unek di dalam dadanya
Dia baik-baik saja, sepertinya...
Ibunya seorang pelacur, pergi
Ayahnya seribu lelaki yang tidur dengan ibunya,
kala itu...
Dia baik-baik saja, sampai saat ini...
Tapi dia sakit sejak di rahim ibunya...
Perempuan itu ;
Apa kabarmu...
15 Februari 2008
Dwi Rastafara
Semalam dia bersamaku, duduk bercakap
di kedai kopi depan rumah sakit
Kasut tipis, celana jeans pendek, cardigen kelabu,
syal belang hitam putih,
Dia cantik...
Sebotol vodka membuatnya meracau,
muntahkan unek-unek di dalam dadanya
Dia baik-baik saja, sepertinya...
Ibunya seorang pelacur, pergi
Ayahnya seribu lelaki yang tidur dengan ibunya,
kala itu...
Dia baik-baik saja, sampai saat ini...
Tapi dia sakit sejak di rahim ibunya...
Perempuan itu ;
Apa kabarmu...
15 Februari 2008
Dwi Rastafara
GUNDAH
Gundah terselip di hati,
membuat malam terasa lebih lama
Hari ini langit redup, detik-detik yang menapaki hari
melukis jejakmu yang tak tersapu gerimis
Menyimpan bayangmu di hati...
Jakarta, 13 Februari 2008
Dwi Rastafara
membuat malam terasa lebih lama
Hari ini langit redup, detik-detik yang menapaki hari
melukis jejakmu yang tak tersapu gerimis
Menyimpan bayangmu di hati...
Jakarta, 13 Februari 2008
Dwi Rastafara
Biara Kecil Di Ujung Jalan

Kulihat ketika kau di ruang ini membaca bait-bait
dari kata yang terantai, coba menterjemahkan sunyi
dari jiwa yang berkelana sendiri
Begitu heningkah kau rasakan
hingga dengusan nafasmu sendiri terdengar jelas sekali
Begitu heningkah kau hingga teriakan setan
di belakangmu tak kau gubris sedikitpun
Kulihat raut teduhmu melelah di bawah cahaya meredup
kau bisa tinggalkan apa yang coba kau terjemahkan,
basuh lelahmu...
Seiring suara para malaikat mendendang puji-pujian
bergema lirih di telingamu,
pergilah, Sang Hyang Widhi menyapamu...
Kulihat ketika kau kembali ke ruang ini kembali menterjemahkan
sunyi, gelap terpampang dari redup nyala lilin
yang kau bawa dari biara
Kemudian kau berjalan pelan ke ruang sebelah,
duduk di depan perapian
Secarik kertas lusuh masih ada di tanganmu,
kau tak ingin meninggalkannya...
Ya, kau memahaminya,
kau menterjemahkan sunyi
Di bingkai jendela, kau tatap danau yang berkilau
di bawah rembulan,
kau reguk anggur dari cawan perak mu,
anggur Bali yang semakin membawamu dalam hening
Ketika pelukan tak lagi berujung hangat bagimu...
11 Februari 2008
Dwi Rastafara
Kamis, Februari 14, 2008
TERAS
"Di Teras Depan"
Lalu aku hanya terduduk di teras depan
memandangi jalan basah oleh hujan
yang sebentar datang, sebentar pergi
Gitar kayu usang terdengar lirih
di antara riuh bocah bermain becek,
aku tak keberatan berbagi riuh dengan mereka
Di teras depan ku pandangi langit
yang seolah seperti samudera,
hujan yang turun sesekali deras
melembabkan tembok yang penuh
dengan tempelan gambar parpol dan iklan,
itu pun juga tinggal setengah,
setengahnya lagi jadi bungkus kacang rebus, mungkin...
Di teras depan ku lihat hujan yang turun sesekali deras,
melunturkan warna merah putih
dari bendera plastik sisa tujuh belasan,
juga layang-layang yang tersangkut di kawat-kawat listrik,
kadang yang tersisa hanya arkunya saja...
Di teras depan ku rasakan dingin angin
dari hujan yang turun sesekali deras,
merasakan berbagi riuh dengan bocah-bocah
yang bermain di bawah hujan yang sesekali deras...
Jakarta, 14 Februari 2008
Dwi Rastafara
Lalu aku hanya terduduk di teras depan
memandangi jalan basah oleh hujan
yang sebentar datang, sebentar pergi
Gitar kayu usang terdengar lirih
di antara riuh bocah bermain becek,
aku tak keberatan berbagi riuh dengan mereka
Di teras depan ku pandangi langit
yang seolah seperti samudera,
hujan yang turun sesekali deras
melembabkan tembok yang penuh
dengan tempelan gambar parpol dan iklan,
itu pun juga tinggal setengah,
setengahnya lagi jadi bungkus kacang rebus, mungkin...
Di teras depan ku lihat hujan yang turun sesekali deras,
melunturkan warna merah putih
dari bendera plastik sisa tujuh belasan,
juga layang-layang yang tersangkut di kawat-kawat listrik,
kadang yang tersisa hanya arkunya saja...
Di teras depan ku rasakan dingin angin
dari hujan yang turun sesekali deras,
merasakan berbagi riuh dengan bocah-bocah
yang bermain di bawah hujan yang sesekali deras...
Jakarta, 14 Februari 2008
Dwi Rastafara
Pelangi Senja
"Pelangi Senja"
Aroma pinus tercium tajam,
siluetnya terpampang samar
menyapa teduh sang penggembala
Bulir-bulir sisa rinai gerimis
memendarkan jingga pelangi,
tergores tipis di bentang senja
seperti selendang bidadari langit,
jatuh hingga jauh ke ujung cakrawala
Sadar berdecak kagum,
takzim pada coretan pelangi senja
Jakarta, 13 Februari 2008
Dwi Rastafara
To : Pelangi Senja
Aroma pinus tercium tajam,
siluetnya terpampang samar
menyapa teduh sang penggembala
Bulir-bulir sisa rinai gerimis
memendarkan jingga pelangi,
tergores tipis di bentang senja
seperti selendang bidadari langit,
jatuh hingga jauh ke ujung cakrawala
Sadar berdecak kagum,
takzim pada coretan pelangi senja
Jakarta, 13 Februari 2008
Dwi Rastafara
To : Pelangi Senja
PELANGI
"Pelangi, 070208 09.11 pm"
Gerimis lekat di kaca bis kota,
riuh bertanya bagaimana
Ku katakan padanya
tentang orang-orang yang melayangkan sapa
di awal malam,
maaf jika aku tak terlalu mengingat
aroma wani parfumnya
Aku terlalu canggung berucap
bla...bla...bla...
Aku cuma sekedar bunga bakung
di antara bunga-bunga indah nan harum
yang tumbuh di halaman belakang
Gerimis lalu pergi seiring laju bis kota
membawa sejumput cerita tentang mereka dari pelangi..
Jakarta, 07 Februari 2008
Dwi Rastafara
(Patas 54 Grogol - Depok)
to: primavega, buluangsa, uhk, hcw, anne, niken, donni, widee, pakcik, immi, hujan utara, lil angel serta yang terlupakan, de el el
Gerimis lekat di kaca bis kota,
riuh bertanya bagaimana
Ku katakan padanya
tentang orang-orang yang melayangkan sapa
di awal malam,
maaf jika aku tak terlalu mengingat
aroma wani parfumnya
Aku terlalu canggung berucap
bla...bla...bla...
Aku cuma sekedar bunga bakung
di antara bunga-bunga indah nan harum
yang tumbuh di halaman belakang
Gerimis lalu pergi seiring laju bis kota
membawa sejumput cerita tentang mereka dari pelangi..
Jakarta, 07 Februari 2008
Dwi Rastafara
(Patas 54 Grogol - Depok)
to: primavega, buluangsa, uhk, hcw, anne, niken, donni, widee, pakcik, immi, hujan utara, lil angel serta yang terlupakan, de el el
RINDU
"Rindu Satu Purnama"
Kapal-kapal bersandar di dermaga,
membuang lelah hingga ke ujung sauh
Aku berkehendak atas angin yang bertiup,
melayangkan kapal, pulang dari tengah samudera,
menggalang rindu satu purnama
pada aroma tanah basah usai gerimis,
pada harum tubuhmu...
Aku berkehendak atas angin yang bertiup,
mengarak rindu ke dermaga
tempat kau berpijak usai satu purnama...
Jakarta, 12 Februari 2008
Dwi Rastafara
Kapal-kapal bersandar di dermaga,
membuang lelah hingga ke ujung sauh
Aku berkehendak atas angin yang bertiup,
melayangkan kapal, pulang dari tengah samudera,
menggalang rindu satu purnama
pada aroma tanah basah usai gerimis,
pada harum tubuhmu...
Aku berkehendak atas angin yang bertiup,
mengarak rindu ke dermaga
tempat kau berpijak usai satu purnama...
Jakarta, 12 Februari 2008
Dwi Rastafara
Senin, Februari 11, 2008
Tentang Seseorang
"Penidur"
Apakah aku seorang penyair?
Yang setiap kata-katanya adalah
pedang yang menyayat nadi-nadimu,
yang setiap kata-katanya adalah
pelor jalang dari pistol Hitler,
atau ribuan anak panah yang melesat lepas
dari busur Arjuna, merajam jiwamu begitu dalam
Bukan..!! Aku hanya ingin sesederhana mungkin,
Aku Hanya seorang penidur yang menginginkan
de javu dari mimpiku,
yang ketika terbangun mendapatimu disini...
Jakarta, 10 Februari 2008
Dwi Rastafara
Apakah aku seorang penyair?
Yang setiap kata-katanya adalah
pedang yang menyayat nadi-nadimu,
yang setiap kata-katanya adalah
pelor jalang dari pistol Hitler,
atau ribuan anak panah yang melesat lepas
dari busur Arjuna, merajam jiwamu begitu dalam
Bukan..!! Aku hanya ingin sesederhana mungkin,
Aku Hanya seorang penidur yang menginginkan
de javu dari mimpiku,
yang ketika terbangun mendapatimu disini...
Jakarta, 10 Februari 2008
Dwi Rastafara
PETAK TUJUH
Aku senang ada disini,
di sudut ruang petak tujuh,
di tengah misteri tujuh yang coba
membunuhku dengan sepi
Aku adalah orang-orang yang pergi,
katanya...
Bersahabat dengan kesendirian...
Sebentar ingin melupakan kau, kalian dan mereka,
atau apapun itu yang mengusik imajinasi
di otak kecilku
Menikmati aroma khas bunga bakoeng
dari ladang-ladang Atjeh
yang di bawa angin,
membuai jiwa yang sedari tadi tak tertidur,
lelah melakoni cerita-cerita
dari kitab peri-peri langit...
Anyer, 09 Februari 2008
Dwi Rastafara
Minggu, Februari 10, 2008
Gak Ada Judul
Jika aku adalah bulir-bulir pasir waktu,
jawaban apa yang kau cari dariku?
Jakarta, 08 Februari 2008
Dwi Rastafara
jawaban apa yang kau cari dariku?
Jakarta, 08 Februari 2008
Dwi Rastafara
SENJA
"Senja Anyer"
Ombak pulang, pecah menghantam karang,
bercerita pada pantai tentang samudera,
tentang riuh camar-camar laut
yang berebut ikan dengan nelayan
Aku berdiri di bawah senja Anyer usai gerimis,
menatap pelangi yang mencoreng jingganya
hingga jauh ke ujung cakrawala,
sendiri...
Anyer, 09 Februari 2008
Dwi Rastafara
Ombak pulang, pecah menghantam karang,
bercerita pada pantai tentang samudera,
tentang riuh camar-camar laut
yang berebut ikan dengan nelayan
Aku berdiri di bawah senja Anyer usai gerimis,
menatap pelangi yang mencoreng jingganya
hingga jauh ke ujung cakrawala,
sendiri...
Anyer, 09 Februari 2008
Dwi Rastafara
MISTERI
"Biar Menjadi Misteri"
Sedari tadi langit redup,
gerimis tak usai-usainya mengguyur tanah
hingga perjalanan sang surya
hampir mendekati batas peraduan
Benarkah musim telah berubah?
Aku masih ingin menikmatinya
bercumbu dengan kesendirian,
lalu meletakan lelahku
di bentang lengan senja
Ternyata gemericik gerimis
tak bisa membunuh sepiku
Ah, biarkan saja tetap seperti ini
Aku senang...
Ya, aku menikmatinya
Angin utara baru berhembus,
membawa bulir-bulir gerimis yang semakin deras
juga meninggalkan misteri
yang ternyata sanggup mengusik kesunyian
Benarkah musim telah benar-benar berubah?
Hingga hari-hari adalah kenangan padamu
yang penuh kisah-kisah;
Kisah penuh bunga dari matamu yang teduh,
juga misteri yang ditinggalkan angin utara
yang tak ingin terungkap...
Jakarta, 08 Februari 2008
Dwi Rastafara
(Untuk Bintang dari gugus ke enam)
Sedari tadi langit redup,
gerimis tak usai-usainya mengguyur tanah
hingga perjalanan sang surya
hampir mendekati batas peraduan
Benarkah musim telah berubah?
Aku masih ingin menikmatinya
bercumbu dengan kesendirian,
lalu meletakan lelahku
di bentang lengan senja
Ternyata gemericik gerimis
tak bisa membunuh sepiku
Ah, biarkan saja tetap seperti ini
Aku senang...
Ya, aku menikmatinya
Angin utara baru berhembus,
membawa bulir-bulir gerimis yang semakin deras
juga meninggalkan misteri
yang ternyata sanggup mengusik kesunyian
Benarkah musim telah benar-benar berubah?
Hingga hari-hari adalah kenangan padamu
yang penuh kisah-kisah;
Kisah penuh bunga dari matamu yang teduh,
juga misteri yang ditinggalkan angin utara
yang tak ingin terungkap...
Jakarta, 08 Februari 2008
Dwi Rastafara
(Untuk Bintang dari gugus ke enam)
Rabu, Februari 06, 2008
Tentang Penyair

"Dongeng"
(Tentang Penyair #1)
Penyair bercinta dengan kata-kata,
menarikan qalam basah diatas carik-carik kertas
lalu mendongengkannya
Sebenarnya tak pernah ada jeda pada tulisannya,
dia hanya sekedar menghela nafas sesaat
di tengah pencaci yang berjalan mengadu-adu
Siapa yang mendengarkannya?
Mereka bukan orang gila di persimpangan
yang terisak lalu tiba-tiba terbahak,
meracau tak keruan...
Mereka sengaja gila,
gila kata-kata...
Orang-orang yang pergi, sendiri
Jakarta, 06 Februari 2008
Dwi Rastafara
"Musafir"
(Tentang Penyair #2)
Seorang musafir menyapa dan bertanya:
"Apa yang kau tulis di bilah-bilah kayu lontar itu
wahai penyair?
Tentang aku, kau atau mereka?"
Jakarta 06 Februari 2008
Dwi Rastafara
"Batas"
(Tentang Penyair #3)
Kemudian direguknya secawan anggur
karena tenggorokannya terasa kering,
suara penyair tinggal sayup-sayup di telinga
Dia bahkan tak dapat tertawa, ha...ha...ha...
Batas inikah penyair kehilangan kata-kata?
Tidak...!!!
Dia hanya menghela nafas,
pengganti jeda tulisannya
Di otaknya masih tersimpan jutaan kata-kata
yang belum lagi sempat dia keluarkan...
Jakarta, 06 Februari 2008
Dwi Rastafara
"Rasanya..."
Otakku mati rasa...
Adakah seseorang yang mau menemaniku
bermain Rusian Roulette dengan 5 pelor?...
Suit...jika aku menang, aku jalan dulu
namun jika kau menang,
aku tetap ingin jalan dulu...
Karena aku ingin 5 pelor untukku...
sedangkan kau cukup menonton saja
karena aku cuma memintamu untuk menemaniku saja...
tidak untuk ikut bermain bersamaku...
Jakarta 06 Februari 2008
Dwi Rastafara
Adakah seseorang yang mau menemaniku
bermain Rusian Roulette dengan 5 pelor?...
Suit...jika aku menang, aku jalan dulu
namun jika kau menang,
aku tetap ingin jalan dulu...
Karena aku ingin 5 pelor untukku...
sedangkan kau cukup menonton saja
karena aku cuma memintamu untuk menemaniku saja...
tidak untuk ikut bermain bersamaku...
Jakarta 06 Februari 2008
Dwi Rastafara
Tentang Seseorang
"Tentang Seseorang #1"
Jika suatu hari ku temui seseorang
dan perasaanku berbisik,
aku ingin menemuinya lagi
Aku tak perduli jurang yang tak berdasar itu
menganga lebar di depanku
Sementara kau berdiri di seberang sana,
aku ada di sisi lainnya...
Jika aku mencintainya...
hanya dengan sederhana aku ingin mencintainya
Jakarta, 02 Februari 2008
Dwi Rastafara
"Tentang Seseorang #2"
Cuaca dan waktu kadang tak bersahabat,
degup jantung teramu dalam desiran rasa
Ya, aku sengaja membiarkannya
bergemuruh di dadaku
Seperti ketika para malaikat bernyanyi
di bawah langit senja
Aku bukannya tak memahami,
tapi jujurnya aku lebih menginginkannya...
Jakarta, 05 Februari 2008
Dwi Rastafara
"Tentang Seseorang #3"
Ya, itulah sebabnya kau selalu menghantuiku
dengan segala perasaan yang tak ku mengerti
Namun aku suka merasakannya,
aku menikmati rasa itu...
Lalu kau membunuhku dengan panah cupid,
pun aku menikmatinya ketika anak panahnya
menancap dalam di dadaku
Aku tak ingin cintamu yang seperti de javu,
yang sama dengan tubuh matiku,
aku ingin keabadian jiwanu
Dan jika memang aku bermimpi,
biarkan aku tetap tertidur
agar jiwaku bisa tetap bersamamu
Jakarta, 06 Februari 2008
Dwi Rastafara
(untuk *Dan*)
Jika suatu hari ku temui seseorang
dan perasaanku berbisik,
aku ingin menemuinya lagi
Aku tak perduli jurang yang tak berdasar itu
menganga lebar di depanku
Sementara kau berdiri di seberang sana,
aku ada di sisi lainnya...
Jika aku mencintainya...
hanya dengan sederhana aku ingin mencintainya
Jakarta, 02 Februari 2008
Dwi Rastafara
"Tentang Seseorang #2"
Cuaca dan waktu kadang tak bersahabat,
degup jantung teramu dalam desiran rasa
Ya, aku sengaja membiarkannya
bergemuruh di dadaku
Seperti ketika para malaikat bernyanyi
di bawah langit senja
Aku bukannya tak memahami,
tapi jujurnya aku lebih menginginkannya...
Jakarta, 05 Februari 2008
Dwi Rastafara
"Tentang Seseorang #3"
Ya, itulah sebabnya kau selalu menghantuiku
dengan segala perasaan yang tak ku mengerti
Namun aku suka merasakannya,
aku menikmati rasa itu...
Lalu kau membunuhku dengan panah cupid,
pun aku menikmatinya ketika anak panahnya
menancap dalam di dadaku
Aku tak ingin cintamu yang seperti de javu,
yang sama dengan tubuh matiku,
aku ingin keabadian jiwanu
Dan jika memang aku bermimpi,
biarkan aku tetap tertidur
agar jiwaku bisa tetap bersamamu
Jakarta, 06 Februari 2008
Dwi Rastafara
(untuk *Dan*)
Sabtu, Februari 02, 2008
KECEWA

"Cerita Dari Teman"
Pagi yang masih terlalu lembab usai hujan semalam,
memaksa tubuh tetap meringkuk lelap
dibuaian mimpi-mimpi yang nyaris nyata
Sementara gundah mengakar di hati yang menghitam,
melebihi kelam malam-malamnya
Kemarin, ketika siang masih terlalu panas,
seharusnya dilewati dengan sedikit gurau
sembari meniti waktu bergulir menuju senja
Namun mendung membayang di atas kepala,
menundukkan wajah yang setengah pucat pasi
Mendanau air mata ketika benih-benih asa
yang tertanam di hatinya meranggas...
Mimpinya tiba-tiba buyar dalam waktu sesaat,
menyisakan lamunan berbaur aroma kecewa
pada sebuah alur kehidupan,
lalu pecah bersama caci dan sumpah serapahnya
Jakarta, 30 Januari 2008
Dwi Rastafara
Jumat, Februari 01, 2008
ANGIN
"Angin"
(untuk *Ry*)
Seseorang pernah berkata padaku,
bilakah angin mulai bertiup?
Lalu ku lihat mega-mega dan pucuk-pucuk daun
dan ku katakan padanya,
angin bertiup disebelahmu,
melewati setiap lekuk tubuhmu
dan berdesir lirih di telingamu
Ku katakan lagi padanya,
kau bisa membaca angin
yang melintas di sekitarmu
dan singgah sejenak dalam benakmu,
lalu menghilang begitu saja...
Jakarta, 01 Februari 2008
Dwi Rastafara
(untuk *Ry*)
Seseorang pernah berkata padaku,
bilakah angin mulai bertiup?
Lalu ku lihat mega-mega dan pucuk-pucuk daun
dan ku katakan padanya,
angin bertiup disebelahmu,
melewati setiap lekuk tubuhmu
dan berdesir lirih di telingamu
Ku katakan lagi padanya,
kau bisa membaca angin
yang melintas di sekitarmu
dan singgah sejenak dalam benakmu,
lalu menghilang begitu saja...
Jakarta, 01 Februari 2008
Dwi Rastafara
Langgan:
Entri (Atom)


