Puisi;
pesan di musim yang berganti,
berlalu seperti angin sakal,
menyeret langkah tertatih
di bawah terik kesiangan,
lalu coba menumbuhkan
kuncup-kuncup bunga
di bulan April.
Petang, gerimis terakhir
di pinggir hari, dari musim
yang berlalu ketika punggung
saling beradu lalu hilang
di antara kerumun mereka,
hilang...
Waktu, membaca masa
lewat detik-detik
bergulir tak tentu.
Lagi, coba menumbuhkan
kuncup-kuncup bunga
dari benih yang mati suri,
kali ini di bulan Januari
tahun berikutnya.
Namun semua telah berubah,
keadaan memang berbeda.
Sekali lagi, semua menghilang
bersama gerimis terakhir.
Petang di pinggir hari
dengan punggung saling beradu,
semua hilang,
lesap...
Makassar, 310308
Dwi Rastafara
Senin, Maret 31, 2008
Sabtu, Maret 29, 2008
Pesanmu
:TieAku pun tak mengerti ketika membaca pesanmu
yang kau kirim, tentang kebimbanganmu
pada keadaan, tentang mendung
yang membayang di langit hatimu.
Reaksi sativa yang seharusnya membuatku tenang,
berujung resah pula, sebimbang keadaanmu.
Ada apa denganmu?
Mari duduk bersamaku, lalu uraikan semua
bimbangmu. Jika kau mau, biar ku ajak kau
ke pantai, lalu menangislah dan berteriaklah,
lepaskan semua apa yang menghimpit sesak dadamu,
biar laut menelannya...
Makassar, 290308
Dwi Rastafara
Teman Bayangan
Gadis kecil, apa yang kau lakukan?Bermain sendiri tanpa teman,
tanpa siapa pun. Bercakap sendiri,
bergumam lirih, mengolah batu
kesana kemari, melukis tanah
basah usai gerimis turun.
Siapakah mereka, wahai gadis kecil?
Bolehkah aku berkenalan dengan temanmu,
teman bayanganmu yang kau ajak bermain...
Makasar, 290308
Dwi Rastafara
Jumat, Maret 28, 2008
Biarkan Bebas
Tak lagi ku peduli... Kau mati di sini,
di sebelah bilik hatiku. Aku tak lagi
inginkan apa yang kau tawarkan,
biar sirna, biar semua sirna...
Cukup aku mengenang kau, cukup aku
pernah bersamamu. Aku tak kan terpateri
di sini, aku tak kan tinggal di sini hanya
untukmu.
"Maukah kau biarkan aku,
biarkan aku bebas...?"
Lalu biarkan semua ini mengendap di sini,
di atas tanah Hijau yang di dalamnya
adalah kubur kenangan, yang nisannya
adalah batu-batu cadas dari gumpalan magma
pegunungan Sicilia dan membeku
oleh dinginnya salju Himalaya.
Kau mati di sini, bersama kenangan
yang di bawa nyeri. Kau mati bersama kenangan
yang terpateri di jiwa yang di bakar dengan
kayu oak, debunya terbang di bawa angin
lalu hanyut dibawa aliran Gangga.
"Maukah kau biarkan jiwa ini,
biarkan jiwa ini bebas...?"
Tak lagi peduli, biarkan mati bersama mu
dan kenangan yang terpateri di jiwa...
Makassar, 270308
Dwi Rastafara
di sebelah bilik hatiku. Aku tak lagi
inginkan apa yang kau tawarkan,
biar sirna, biar semua sirna...
Cukup aku mengenang kau, cukup aku
pernah bersamamu. Aku tak kan terpateri
di sini, aku tak kan tinggal di sini hanya
untukmu.
"Maukah kau biarkan aku,
biarkan aku bebas...?"
Lalu biarkan semua ini mengendap di sini,
di atas tanah Hijau yang di dalamnya
adalah kubur kenangan, yang nisannya
adalah batu-batu cadas dari gumpalan magma
pegunungan Sicilia dan membeku
oleh dinginnya salju Himalaya.
Kau mati di sini, bersama kenangan
yang di bawa nyeri. Kau mati bersama kenangan
yang terpateri di jiwa yang di bakar dengan
kayu oak, debunya terbang di bawa angin
lalu hanyut dibawa aliran Gangga.
"Maukah kau biarkan jiwa ini,
biarkan jiwa ini bebas...?"
Tak lagi peduli, biarkan mati bersama mu
dan kenangan yang terpateri di jiwa...
Makassar, 270308
Dwi Rastafara
Tikar Pandan
lalu kawan, kami berkumpul di sini. Waktu itu
1998, ketika kami masih belia, ketika kami
masih saling mengadu gelas, dentingnya masih
terngiang di telingaku. Juga sebilah rotan
yang ujungnya terikat seutas kenur
dan mata kail.
Mari kawan, sini, duduk bersamaku, beralas
tikar pandan yang warnanya telah pudar,
yang ujungnya sedikit terkoyak, rapuh...
Ketika kami masih sering menatap senja
bersama kekasih-kekasih kami, warnanya
masih terang seterang senja, terangnya
masih terbingkai di retina mataku.
Pada tikar pandan, tempat kami duduk
berkumpul. Ingatkan kami pada tempat ini,
ingatkan kami bahwa itu bagian dari kisah
kami, ketika kami berpisah ke 8 penjuru
arah mata angin, tikar pandan ini
menebar aroma khas, mengumpulkan jiwa-jiwa kami
kembali disini...
Makassar, 270308
Dwi Rastafara
Kamis, Maret 27, 2008
Samalona
Cerita kami terurai di atas pasir
pulau Samalona. Dengan beberapa
kawan lama, ikan bakar dan sebotol
Absolute jadi selingan obrolan kami,
hingga tak terasa pasir waktu
sudah berkali-kali kami putar.
Biar ku mulai dari sini, kawan,
ketika cerita tak habis seharian.
Angin malam pulau Samalona
membuat api unggun berdansa,
membakar ikan yang bergulir perlahan
di atasnya, seiring dansa kami
meniti irama-irama reggae
dari gitar yang kami mainkan.
Biar ku kentalkan, kawan,
dengan sativa yang akan melekatkan
kebersamaan kita. Dan waktu pun
memisahkan kita hingga kelak
kita berkumpul lagi ketika perahumu
merapat ke dermaga...
Makassar, 260308
Dwi Rastafara
pulau Samalona. Dengan beberapa
kawan lama, ikan bakar dan sebotol
Absolute jadi selingan obrolan kami,
hingga tak terasa pasir waktu
sudah berkali-kali kami putar.
Biar ku mulai dari sini, kawan,
ketika cerita tak habis seharian.
Angin malam pulau Samalona
membuat api unggun berdansa,
membakar ikan yang bergulir perlahan
di atasnya, seiring dansa kami
meniti irama-irama reggae
dari gitar yang kami mainkan.
Biar ku kentalkan, kawan,
dengan sativa yang akan melekatkan
kebersamaan kita. Dan waktu pun
memisahkan kita hingga kelak
kita berkumpul lagi ketika perahumu
merapat ke dermaga...
Makassar, 260308
Dwi Rastafara
Rabu, Maret 26, 2008
Senja Di VREDEBURG
Di sini aku berdiri, di atas tembok VREDEBURG,ketika senja hampir habis. Anginnya membawa
aroma dari keraton yang terendus lekat
di paru-paruku, aku mengingatnya,
mungkin akan terus mengingatnya...
Lalu ku usap si tua renta lentera
yang kacanya nampak buram oleh debu
sejarah, aku mengenangnya. Ada sedikit
ragu di benakku, meninggalkanmu yang bukan
berarti membiarkanmu.
Senja makin luruh, lorong-lorong benteng suram
di bawah redup lentera-lentera berdebu. Cukup
bercerita tentangmu, cukup, aku tak ingin
mendengarnya lagi. Kau sudah terkubur di sini,
sudah menjadi sejarah buatku...
Di sini aku berdiri, di depan gerbang VREDEBURG,
meninggalkan sejarah yang kau ceritakan
bersama malam yang meniti hari...
Jogja, 240308
Dwi Rastafara
Baru Mulai
kulihat rangkaian gerbong
di stasiun Tugu,
rinduku belum genap setangkup,
ceritamu belum selesai ku dengar...
Pagi masih dini, laju mobil
membawaku ke bandara,
meninggalkanmu di sini dengan
setangkup rindu yang belum genap,
dengan cerita yang belum selesai
Itulah, aku pergi dari sini
bukan untuk pergi meninggalkanmu
tapi untuk kembali lagi
karena rinduku belum genap,
karena ceritamu belum selesai
Aku pasti kembali karena waktuku selalu
ada untukmu, Jogja...
Jogja, 240308
Dwi Rastafara
Senin, Maret 24, 2008
Kisah Di Berandamu
C H E E R S
Ada sekelumit cerita yang ku bawa pulang
dari senja di beranda Cheers...
Kudatangi Negeri Ajaib mulai dari
Titik Nol hingga ku baca sekilas
puisi-puisi Jawa Budhi Setyawan.
Lalu sedikit ku lupakan seseorang
di sebelahku, maaf...
Senja tiba di ujung hari,
ku beranjak dari beranda Cheers
dan ku simpan lukisan dari mesin
pencetak gambar,
lukisan tentang cerita-cerita meraka...
Jogja, 220308
Dwi Rastafara
(: Budhi Setyawan, TSP, Malaikat Kecil, Tutut)
Sabtu, Maret 22, 2008
Sepi Sendiri
Kamis, Maret 20, 2008
Memikirkanmu
: Ernie
Memikirkanmu...
adalah kepenatan musim ke musim berikutnya,
seperti menghitung jengkal waktu
yang menggerutu.
Memikirkanmu...
bak liturgi pagi dari sepi
yang mendayu hingga kelu.
Memikirkanmu...
adalah bianglala cinta
penuh dengan skeptis belaka
Memikirkanmu...
adalah "sesuatu yang tak pernah
habis aku cinta
meski terkikis mati"
Jogja, 200308
Dwi Rastafara
Memikirkanmu...
adalah kepenatan musim ke musim berikutnya,
seperti menghitung jengkal waktu
yang menggerutu.
Memikirkanmu...
bak liturgi pagi dari sepi
yang mendayu hingga kelu.
Memikirkanmu...
adalah bianglala cinta
penuh dengan skeptis belaka
Memikirkanmu...
adalah "sesuatu yang tak pernah
habis aku cinta
meski terkikis mati"
Jogja, 200308
Dwi Rastafara
Stasiun Jogja
Rabu, Maret 19, 2008
Kau Tak Boleh Tau
Ada hasrat di tanganku,
ku sembunyikan di belakangku
yang tak boleh kau tau
seberapa besar hasratku.
Ada sesal di tanganku yang lain,
pun ku sembunyikan di belakangku.
Kiranya aku tak inginkan kau tau pula
seberapa besar sesalku.
Dan semua tetap sesaki rongga dadaku
karena aku tak ingin kau tau
apa yang ada di tanganku...
Jakarta, 190308
Dwi Rastafara
ku sembunyikan di belakangku
yang tak boleh kau tau
seberapa besar hasratku.
Ada sesal di tanganku yang lain,
pun ku sembunyikan di belakangku.
Kiranya aku tak inginkan kau tau pula
seberapa besar sesalku.
Dan semua tetap sesaki rongga dadaku
karena aku tak ingin kau tau
apa yang ada di tanganku...
Jakarta, 190308
Dwi Rastafara
Selasa, Maret 18, 2008
Seuntai Rosario Untuk Eli

Di depan layar kata, termangu,
membaca sekelumit cerita-cerita
yang sama sekali hampa,
tak mengerti sedikitpun.
Seseorang datang, berkunjung,
bercerita tentang sahabat lama,
ya, memang lama...
Dia nampak lain hari ini,
seuntai rosario yang melilit di lehernya
membuatnya terlihat lebih anggun.
Lalu kami mulai bercerita, larut dalam
masa lalu kami. Hingga ketika dia
bercerita tentang seseorang, air matanya
tumpah, lirih dia berucap...
*Ketika rosario ini kembali ke tanganku
dan aku kembali memakainya, aku paham
dia takkan pernah kembali lagi ke sini dan
aku istirah ketika dia harus pergi...
Jakarta, 180308
Dwi Rastafara
*Kutipan kalimat Elizabeth
Damai Senja Jingga*
Terakhir Satu Hari
Sejenak kutinggalkan udara polusi
kota orange ini, satu hari, satu langkah lagi
ku temui kau disana, tempat terakhir kita
pernah bercerita, minum bersama. Anganku,
satu terakhir satu malam tadi bertanya
tentang kau disana, seperti apa kau saat ini,
aku pun tak sabar menunggu terakhir satu hari
ini. Ah, waktu satu hari ini begitu lama.
Lalu bagaimana kelinci-kelinci kita ketika
kutinggalkan mereka hari itu? Juga kerbau-kerbau
yang biasa mereka tunggangi? Terakhir satu hari
lalu aku pernah menyapa mereka.
Rasanya ingin ku matikan segera pelita yang
menerangi hari ini agar waktu tak lama
hingga lusa pagi, lalu berkemas, beranjak ke satu
kota yang rindunya menyesakkan, menghimpit
dadaku, beradu juga dengan rinduku padamu ketika
terakhir satu hari aku bersamamu, bercerita, minum
bersama, kadang kau juga bercinta dengannya juga
dengan ku. Ya, kota mu yang menyimpan semua
cerita tentang aku, kau dan juga dia...
Terakhir satu hari ini,
lusa aku ada di sana...
Jakarta, 180308
Dwi Rastafara
(One last day in Jakarta, next destination: Jogja city, i miss u so much)
kota orange ini, satu hari, satu langkah lagi
ku temui kau disana, tempat terakhir kita
pernah bercerita, minum bersama. Anganku,
satu terakhir satu malam tadi bertanya
tentang kau disana, seperti apa kau saat ini,
aku pun tak sabar menunggu terakhir satu hari
ini. Ah, waktu satu hari ini begitu lama.
Lalu bagaimana kelinci-kelinci kita ketika
kutinggalkan mereka hari itu? Juga kerbau-kerbau
yang biasa mereka tunggangi? Terakhir satu hari
lalu aku pernah menyapa mereka.
Rasanya ingin ku matikan segera pelita yang
menerangi hari ini agar waktu tak lama
hingga lusa pagi, lalu berkemas, beranjak ke satu
kota yang rindunya menyesakkan, menghimpit
dadaku, beradu juga dengan rinduku padamu ketika
terakhir satu hari aku bersamamu, bercerita, minum
bersama, kadang kau juga bercinta dengannya juga
dengan ku. Ya, kota mu yang menyimpan semua
cerita tentang aku, kau dan juga dia...
Terakhir satu hari ini,
lusa aku ada di sana...
Jakarta, 180308
Dwi Rastafara
(One last day in Jakarta, next destination: Jogja city, i miss u so much)
Senin, Maret 17, 2008
Lilin Satu Bintang

Sampai kini aku tak pernah tau tentang bintang
di langit-langit hatiku, pun ketika satu bintang
itu ada, aku bahkan tak pernah bisa pastikan
apakah dia bintang hidupku...
Sepertinya kerlip bintangku meredup di ujung
senja...
Seperti nyala lilin di malam-malamku...
Naif terlahir bersama inginku
pada satu bintang...
Jakarta, 170308
Dwi Rastafara
Kabar
Aku pun tak bergeming
ketika bayi matahari menyapa kabar,
sementara aku sendiri tak tau lagi
apa yang harus ku kabarkan.
Semua telah ku sampaikan
kepada fajar nila,
tentang gemerisik ilalang
di padang hening, hingga tangan bocah itu
selesai merakitku menjadi anak wayang.
Lalu menyesuaikan arah angin agar
anak wayang bisa sampai ke beranda
bayi matahari...
Jakarta, 170308
Dwi Rastafara
ketika bayi matahari menyapa kabar,
sementara aku sendiri tak tau lagi
apa yang harus ku kabarkan.
Semua telah ku sampaikan
kepada fajar nila,
tentang gemerisik ilalang
di padang hening, hingga tangan bocah itu
selesai merakitku menjadi anak wayang.
Lalu menyesuaikan arah angin agar
anak wayang bisa sampai ke beranda
bayi matahari...
Jakarta, 170308
Dwi Rastafara
Minggu, Maret 16, 2008
MUNGKIN
Lalu seperti semua yang pernah ku tau menghilang,
mungkin terbang bersama angin. Jika benar, mungkin
juga yang hilang akan kembali, jika benar...
Dan aku mulai belajar istirah, aku atau dia dan juga mereka,
mungkin kalian atau kita, semua menghilang lalu mungkin
kembali, mungkin juga tidak.
Lalu kulihat sepasang kupu-kupu terbang rendah di atas
danau, di antara teratai yang mengapung di air, sepi
dan hening. Sesekali kakinya menyentuh air dan hinggap
di bunga teratai yang setengah merekah, lalu terbang lagi,
menghilang entah kemana. Aku masih terdiam di tepi
danau sendiri, menanti, mungkin kupu-kupu itu kembali.
Aku pernah singgah di sini, di berandanya, mungkin
juga di beranda mereka atau kalian. Juga kita pernah
singgah, sejenak atau mungkin menetap. Lalu menghilang,
mungkin kembali atau tak pernah kembali.
Di bangku taman inikah aku menunggumu,
di tempat inikah aku kehilanganmu? Hingga waktu
yang alurnya tak berbatas dan aku tak pernah tau sampai
kapan. Mungkin aku tau kau pasti kembali, mungkin juga
aku tak tau kau tak pernah kembali, seperti semua yang
pernah aku tau menghilang dan kupu-kupu yang pernah
aku lihat hinggap di bunga teratai. Juga aku dan kau,
mereka atau kalian yang pernah singgah di beranda,
mungkin hanya mungkin...
Jakarta, 150308
Dwi Rastafara
mungkin terbang bersama angin. Jika benar, mungkin
juga yang hilang akan kembali, jika benar...
Dan aku mulai belajar istirah, aku atau dia dan juga mereka,
mungkin kalian atau kita, semua menghilang lalu mungkin
kembali, mungkin juga tidak.
Lalu kulihat sepasang kupu-kupu terbang rendah di atas
danau, di antara teratai yang mengapung di air, sepi
dan hening. Sesekali kakinya menyentuh air dan hinggap
di bunga teratai yang setengah merekah, lalu terbang lagi,
menghilang entah kemana. Aku masih terdiam di tepi
danau sendiri, menanti, mungkin kupu-kupu itu kembali.
Aku pernah singgah di sini, di berandanya, mungkin
juga di beranda mereka atau kalian. Juga kita pernah
singgah, sejenak atau mungkin menetap. Lalu menghilang,
mungkin kembali atau tak pernah kembali.
Di bangku taman inikah aku menunggumu,
di tempat inikah aku kehilanganmu? Hingga waktu
yang alurnya tak berbatas dan aku tak pernah tau sampai
kapan. Mungkin aku tau kau pasti kembali, mungkin juga
aku tak tau kau tak pernah kembali, seperti semua yang
pernah aku tau menghilang dan kupu-kupu yang pernah
aku lihat hinggap di bunga teratai. Juga aku dan kau,
mereka atau kalian yang pernah singgah di beranda,
mungkin hanya mungkin...
Jakarta, 150308
Dwi Rastafara
Jumat, Maret 14, 2008
Semua Tentangmu, Perempuan

(Haiku)
/1/
Fajar mengintip di ufuk timur,
redup terang seperti binar matamu
/2/
Angin bertiup pelan pasti,
aromamu yang terbaca jelas
/3/
Percik gerimis di cucuran,
lincah berjingkat seperti gerakmu
/4/
Anggun eidelweis di kaki Merapi,
seanggun dirimu
/5/
Kicau kenari riuh ceria,
serenyah canda tawamu
/6/
Indah bayang-bayang cemara,
seindah siluetmu di tepi senja
Jakarta, 140308
Dwi Rastafara
Kamis, Maret 13, 2008
Simpang Tiga Taman Jogja
: Lingsir wengi
Kagum menatap gemericik air
menari di antara terang lampu taman,
bila aku melihatmu lagi?
Rinduku, senandung untukmu...
Jakarta, 130308
Dwi Rastafara
Kagum menatap gemericik air
menari di antara terang lampu taman,
bila aku melihatmu lagi?
Rinduku, senandung untukmu...
Jakarta, 130308
Dwi Rastafara
T R E S N O
: Teko mu
Koyo gelap ngampar ing semediku...
Koyo sirep ing penggalihku...
Koyo urip ing wewayangan...
Koyo mati suri...
Lan katresnanku, aku dewe kang nemahi...
Jakarta, 130308
Dwi Rastafara
Koyo gelap ngampar ing semediku...
Koyo sirep ing penggalihku...
Koyo urip ing wewayangan...
Koyo mati suri...
Lan katresnanku, aku dewe kang nemahi...
Jakarta, 130308
Dwi Rastafara
Selasa, Maret 11, 2008
Aku Rindu Jogja

: ketika ku kembali
Pagi masih terlalu dini,
masih dingin,
diluar pintu kuhirup udara
basah sisa hujan semalam,
mengenang semua tentangmu
Langit yang kulihat
masih teduh, nila,
sinarnya fajar di ufuk timur
masih terlalu malu-malu,
enggan...
Tirai-tirai awan
sembunyikan warnanya
Lenguhan sepasang kerbau
pun terdengar sedikit malas,
dua bocah berseragam,
membaca di atas punuknya,
kakinya tak beralas...
Hei, dimana kau?...
Sedari tadi tak ku lihat
kau menyapa pagi, aku juga
Seharusnya kau di sini,
pelataranmu penuh
guguran daun, juga jendelamu
masih berembun, kau
belum lagi menyekanya
Air sungai itu masih dingin,
masih bening...
Sebening bola matamu
yang sebenarnya memang indah
Biar kunikmati dulu
di sini, pagi ini,
sebentar saja sebelum ku pergi
sore nanti
Aku tak pernah tau
kapan kembali,
namun bisakah kutemui pagi
seperti ini ketika ku kembali
Jakarta, 110308
Dwi Rastafara
Senin, Maret 10, 2008
Negeri Ajaib
Seperti masuk ke sebuah labirin ketika aku singgahdi berandamu, dengan gerbang megah terbuka,
nuansa kelam di dalamnya menyimpan sejuta misteri
yang kerap membuatku berdecak kagum.
Ku baca bait demi bait dari setiap kata
yang kau rantai, coba pahami makna yang tersamar
di dalamnya, lalu tersenyum puas
ketika ku temukan jalan keluar dari labirin
yang kau ciptakan di berandamu.
Ku tinggalkan jejakku agar kau tau
aku akan selalu singgah lagi di berandamu
kelak...
Jakarta, 110308
Dwi Rastafara
(To: Sobatku Lil Angel di Negeri Ajaib)
Minggu, Maret 09, 2008
Hadirmu
Hadirmu seperti gemuruh di angkasa,menggetarkan nyali ketika kilatnya
menyentuh tanah,
sedikit kagum pada alurnya
yang sebentar terlihat jelas.
Hujan menjeda hariku,
menanggalkan apa yang seharusnya
ku lakukan tuk sejenak melupakanmu
Bayangmu tiba-tiba saja terpampang samar,
lekat di kaca jendela
bersama butir-butir embun gerimis.
Lalu aku menyekanya, aku ingin
sejenak melupakanmu, tapi kau
selalu kembali bersama gerimis.
Sebenarnya tak benar-benar melupakanmu,
sebenarnya aku ingin kau
tak hanya bayang-bayang, meski kau
sempat menggetarkan nyaliku
ketika kilatnya menyentuh tanah...
Jakarta, 090308
Dwi Rastafara
Sabtu, Maret 08, 2008
Penat

Aku hanya berjalan-jalan di ruang kosong
yang benar-benar memang kosong,
lalu cuma tergugu, entah karena apa,
hanya merasa tergugu...
Aku menatap langit-langit ruang
yang di setiap sudutnya teranyam
jaring laba-laba, berdebu...
Dimanakah sahabat bayanganku
yang seharusnya ada disini bersamaku?
"Aku penat..."Sepertinya itu yang kurasakan saat ini,
sebentar saja, aku ingin menjeda hidupku...
Jakarta, 080308
Dwi Rastafara
Jumat, Maret 07, 2008
Bayi Matahari
Seseorang telah meletakan tanya,
siapakah dia yang menyapaku
kala mentari menyengat?
Siapakah dia yang ku tak tau
dimana pijakannya mampu membaca
anak wayang rumpun ilalang?
Bayi matahari menyapa anak wayang
di petak tujuh, merangkak di bawah
fajar nila.
Embun di mata anak wayang
nyaris tiris ketika si bayi
mulai memungutnya,
anak wayang mengarak tanya
ke awang-awang.
Ya, seperti dua koma atau
sebuah titik koma pada puisi
yang penuh tanda tanya tanpa jeda.
Mungkin perlu kamus rujukan
untuk dua kamus berbeda,
juga untuk nada-nada minor
dari gesekan surai pada biola kayu eboni.
Jakarta, 070308
Dwi Rastafara
(Balasan untuk pesan dari Bayi Matahari)
siapakah dia yang menyapaku
kala mentari menyengat?
Siapakah dia yang ku tak tau
dimana pijakannya mampu membaca
anak wayang rumpun ilalang?
Bayi matahari menyapa anak wayang
di petak tujuh, merangkak di bawah
fajar nila.
Embun di mata anak wayang
nyaris tiris ketika si bayi
mulai memungutnya,
anak wayang mengarak tanya
ke awang-awang.
Ya, seperti dua koma atau
sebuah titik koma pada puisi
yang penuh tanda tanya tanpa jeda.
Mungkin perlu kamus rujukan
untuk dua kamus berbeda,
juga untuk nada-nada minor
dari gesekan surai pada biola kayu eboni.
Jakarta, 070308
Dwi Rastafara
(Balasan untuk pesan dari Bayi Matahari)
Sajak Layar Hitam
Perahu berlayar salah arah,
berlayar di laut mati.
Layar hitam terkembang lunglai,
tak sedikitpun angin bertiup
hingga satu kitab selesai terbaca semalam
hanya dengan nyala lilin
yang tak tergoyang.
Dimanakah angin?
Laut begitu tenang,
begitu mati...
Jakarta, 070308
Dwi Rastafara
berlayar di laut mati.
Layar hitam terkembang lunglai,
tak sedikitpun angin bertiup
hingga satu kitab selesai terbaca semalam
hanya dengan nyala lilin
yang tak tergoyang.
Dimanakah angin?
Laut begitu tenang,
begitu mati...
Jakarta, 070308
Dwi Rastafara
Kamis, Maret 06, 2008
Awang-awang
Kupu-kupu terbang di bunga-bunga,
belalang coklat meloncat-loncat
di antara ranting,
gerimis menderai di pagi buta.
Galau tak reda-reda,
gamblang terpampang di awang-awang...
belalang coklat meloncat-loncat
di antara ranting,
gerimis menderai di pagi buta.
Galau tak reda-reda,
gamblang terpampang di awang-awang...
Jakarta, 060308
Dwi Rastafara
Dwi Rastafara
Redup
Dia datang
bersama awan
yang bergulung,
membentuk segumpal gelisah
berselimut tanda tanya
tentang keping hatinya
Wajahnya redup
seperti fajar yang terhalang kelabu
Dia galau...
dia benci sendiri...
Jakarta,060308
Dwi Rastafara
bersama awan
yang bergulung,
membentuk segumpal gelisah
berselimut tanda tanya
tentang keping hatinya
Wajahnya redup
seperti fajar yang terhalang kelabu
Dia galau...
dia benci sendiri...
Jakarta,060308
Dwi Rastafara
I F
If ;
aku menunggumu di tempat ini
hingga hampir semusim,
dan ketika gerimis nyaris tiris,
kau pun tak kunjung tiba...
If ;
kau lihat ketika gerimis nyaris tiris
dan pelangi yang mencoreng langit kelabu
di ujung hari,
kau tak pernah tau aku di sana...
If ;
pelangi yang mencoreng langit kelabu
hanya terpampang sebentar,
tak mengapa, aku pun tetap tersenyum...
If ;
gerimis nyaris tiris dan pelangi
yang mencoreng langit kelabu
hanya terpampang sebentar,
aku tetap tersenyum meski aku
tak pernah tau kapan kau tiba,
sekalipun itu hanya bayang-bayangmu...
Jakarta, 060308
Dwi Rastafara
aku menunggumu di tempat ini
hingga hampir semusim,
dan ketika gerimis nyaris tiris,
kau pun tak kunjung tiba...
If ;
kau lihat ketika gerimis nyaris tiris
dan pelangi yang mencoreng langit kelabu
di ujung hari,
kau tak pernah tau aku di sana...
If ;
pelangi yang mencoreng langit kelabu
hanya terpampang sebentar,
tak mengapa, aku pun tetap tersenyum...
If ;
gerimis nyaris tiris dan pelangi
yang mencoreng langit kelabu
hanya terpampang sebentar,
aku tetap tersenyum meski aku
tak pernah tau kapan kau tiba,
sekalipun itu hanya bayang-bayangmu...
Jakarta, 060308
Dwi Rastafara
Rabu, Maret 05, 2008
Song
"Hallelujah, I Love Her So"
Let me tell you about a girl I know
She's my baby and I love her so
Every morning when the sun comes up
She brings me coffee in my favorite cup
That's why I know, yes I know
Hallelujah I just love her so
When I call her on the telephone
She says: baby, I'm all alone
By the time I count from one to four
She'll be knocking on my door
In the evening when the sun goes down
And there ain't nobody else around
She kisses me and she holds me tight
She says: baby everything is alright
That's why I know, that's why I know
Hallelujah I just love her so
Hallelujah I just love her so
Hallelujah I just love that chick so
Taken from the album : Anthology
The Beatles
Let me tell you about a girl I know
She's my baby and I love her so
Every morning when the sun comes up
She brings me coffee in my favorite cup
That's why I know, yes I know
Hallelujah I just love her so
When I call her on the telephone
She says: baby, I'm all alone
By the time I count from one to four
She'll be knocking on my door
In the evening when the sun goes down
And there ain't nobody else around
She kisses me and she holds me tight
She says: baby everything is alright
That's why I know, that's why I know
Hallelujah I just love her so
Hallelujah I just love her so
Hallelujah I just love that chick so
Taken from the album : Anthology
The Beatles
Labirin, Sendiri
Seperti aku berada di tengah labirin, sendiri,sesak, pekat, kelam...
Diam...!!!
Berisik...berisik...!!!
Aku suka sunyi tapi aku benci sendiri
yang tak pernah lepas dariku,
meletakan ku di tengah-tengah labirin
yang tak pernah ada jalan keluarnya,
ku rasa...
Aku butuh sayap agar aku bisa keluar
dari sini,
aku butuh seseorang...
Di manakah dia?
Tolong bawakan juga Ceryneia untukku,
aku ingin mengelusnya,
lalu ku katakan padanya
sepertinya labirin ini tak berujung
Ya, memang tak pernah ada ujungnya...
Jadi sebaiknya aku tetap disini,
di tengah labirin, sendiri, sesak, pekat, kelam...
Jakarta, 2008
Dwi Rastafara
(Ceryneia : Rusa betina bertanduk emas dan berkuku perak milik Diana dalam legenda Hercules)
Gemuruh Gundah
Aku berdiri di atas karang menatap
bentang cakrawala, membaca angin utara.
Hembusannya membawa udara dingin
dan badai.
Laut pun mulai bergelora,
ombaknya pecah menghantam karang
tempat ku berdiri mematung.
Aku masih berdiri disini,
di bawah langit tempat awan-awan
hitam dan tebal bergemuruh berkejaran.
Gemuruhnya terdengar seperti
gundah yang ku rasakan.
Sepertinya laut semakin resah,
ombak-ombak yang bergulung
semakin kejam ke bibir pantai.
Beradu gundahku yang sedari tadi
tak reda-reda...
Dwi Rastafara
Sirna
Semua hilang,
semua pergi,
semua kemana,
semua dimana...
Hilang,
pergi,
kemana,
dimana...
Semua...
sirna...
sirna...
sirna...
Jakarta, 050308/01.21 am
Dwi Rastafara
(to : semua yang telah sirna)
semua pergi,
semua kemana,
semua dimana...
Hilang,
pergi,
kemana,
dimana...
Semua...
sirna...
sirna...
sirna...
Jakarta, 050308/01.21 am
Dwi Rastafara
(to : semua yang telah sirna)
Seperti
Aku seperti tak pernah tau tentangmu,
entah...
Mungkin memang aku tak kan pernah tau,
biarlah, jika itu membuatmu tetap,
aku takkan bertanya lagi tentangmu.
Aku takkan pernah tau...
Jakarta, 050308
Dwi Rastafara
entah...
Mungkin memang aku tak kan pernah tau,
biarlah, jika itu membuatmu tetap,
aku takkan bertanya lagi tentangmu.
Aku takkan pernah tau...
Jakarta, 050308
Dwi Rastafara
Minggu, Maret 02, 2008
Malam
Pekat malam ;
Aku belum terlelap ketika mimpiku
mulai terpental kian kemari,
satu ke masa lalu, satu lagi meloncat jauh
ke masa depan
Aku tak bisa menahannya,
tali kekangnya lepas dari tanganku
membuatnya tak terkendali,
gaduh di tengah pekat malam
Dia meronta, dia berteriak ingin keluar...!
Ya, aku tau...!
Aku pun inginkan kau keluar,
tapi waktu yang membelenggumu
hingga kau hanya membuat kepalaku sakit
Aku lelah menahanmu disini,
di dalam otakku...
Jakarta, 020308
Dwi Rastafara
Aku belum terlelap ketika mimpiku
mulai terpental kian kemari,
satu ke masa lalu, satu lagi meloncat jauh
ke masa depan
Aku tak bisa menahannya,
tali kekangnya lepas dari tanganku
membuatnya tak terkendali,
gaduh di tengah pekat malam
Dia meronta, dia berteriak ingin keluar...!
Ya, aku tau...!
Aku pun inginkan kau keluar,
tapi waktu yang membelenggumu
hingga kau hanya membuat kepalaku sakit
Aku lelah menahanmu disini,
di dalam otakku...
Jakarta, 020308
Dwi Rastafara
Sabtu, Maret 01, 2008
Biarkan Sejenak Hilang
Sudah semusim aku disini,
susuri bibir pantai, bercanda dengan ombak
dan merenung bersama karang.
Sudah semusim pula aku menapaki
jalan-jalan setapak di belantara rimba pegunungan,
melewati ngarai-ngarai terjal,
menciumi aroma pinus basah dan bercumbu
dengan eidelweis di bawah pelangi,
kutulis semua dalam catatanku.
Juga tentang perahu-perahu pinisi
yang berlayar di tengah samudera,
tentang riuh kenari berebut biji
di ladang-ladang hijau.
Kini, saatnya aku bermeditasi,
merenungi kembali catatanku,
memutar ulang gambar-gambar
yang terekam di ingatan.
Sejenak menghilang tapi
tak benar-benar menghilang,
mungkin lebih baik...
Jakarta, 290208
Dwi Rastafara
(Tentang sebuah proses reinkarnasi)
susuri bibir pantai, bercanda dengan ombak
dan merenung bersama karang.
Sudah semusim pula aku menapaki
jalan-jalan setapak di belantara rimba pegunungan,
melewati ngarai-ngarai terjal,
menciumi aroma pinus basah dan bercumbu
dengan eidelweis di bawah pelangi,
kutulis semua dalam catatanku.
Juga tentang perahu-perahu pinisi
yang berlayar di tengah samudera,
tentang riuh kenari berebut biji
di ladang-ladang hijau.
Kini, saatnya aku bermeditasi,
merenungi kembali catatanku,
memutar ulang gambar-gambar
yang terekam di ingatan.
Sejenak menghilang tapi
tak benar-benar menghilang,
mungkin lebih baik...
Jakarta, 290208
Dwi Rastafara
(Tentang sebuah proses reinkarnasi)
Puisi Malam
Ketika ku mulai menulis puisiku tentang malam,
riuh bocah masih terdengar, berlarian kesana kemari,
sebentar datang sebentar pergi, denting mangkuk
tukang sekuteng menyela di antara riuh tawa renyah
bocah-bocah, juga suara radio yang gelombangnya tak pas.
Ketika ku mulai menulis lagi puisiku tentang malam,
riuh bocah berlarian di antara denting mangkuk
dan suara radio yang gelombangnya tak pas,
juga lampu neon yang menyala redup, kadang mati...
Jenuh penuhi otakku...
Jakarta, 280208
Dwi Rastafara
riuh bocah masih terdengar, berlarian kesana kemari,
sebentar datang sebentar pergi, denting mangkuk
tukang sekuteng menyela di antara riuh tawa renyah
bocah-bocah, juga suara radio yang gelombangnya tak pas.
Ketika ku mulai menulis lagi puisiku tentang malam,
riuh bocah berlarian di antara denting mangkuk
dan suara radio yang gelombangnya tak pas,
juga lampu neon yang menyala redup, kadang mati...
Jenuh penuhi otakku...
Jakarta, 280208
Dwi Rastafara
K H A S
Cuaca yang hiasi hari, fajar tersenyum di ufuk timur,angin dan hujan datang silih berganti
serta senja yang mengantar waktu ke ujung hari
Semua tertata rapi, berjalan pada alur-alur
kehidupan yang harmoni
Ketika angin bertiup, berbisik pada pohon-pohon
tua yang meranggas sisa bentang kemarau,
mengabarkan tentang awan-awan yang mengirim
bulir-bulir air, berikan siraman pada tunas-tunas
muda yang mulai bersemi, hijaunya sejukan mata yang lelah...
Aroma khas rerumputan basah, warna-warna
cerah dari eidelweis yang mulai merimbun
menandai musim yang memang telah berubah,
sadari gelisah tak untuk di sesali...
Jakarta, 270208
Dwi Rastafara
A K U
aku cuma mendung di harinya,
aku cuma kemarau di musimnya,
aku cuma ilalang di pelatarannya,
aku cuma galau di hatinya,
aku cuma mimpi buruk di tidurnya...
Jakarta, 240208
Dwi Rastafara
aku cuma kemarau di musimnya,
aku cuma ilalang di pelatarannya,
aku cuma galau di hatinya,
aku cuma mimpi buruk di tidurnya...
Jakarta, 240208
Dwi Rastafara
Langgan:
Entri (Atom)






