Rabu, April 30, 2008

G A M A N G

Seperti kau yang sekelebat melintas
dan ku kembali tergugu.
Katakan padaku, setakut apa aku
ketika kau lihat geletar seluruh nadiku,
gemetar...
gamang...

Tabanan-Bali, 300408, 02.00am
Dwi Rastafara

Senin, April 28, 2008

Apa Kabar Kawan?

: I Gede Sutedja

Belum kulihat lagi merpati itu
hinggap di jendelaku.
Musim ini telah menumbuhkan
rumpun-rumpun padi di tanahmu,
dupa-dupa yang kau bakar
mengharum di setiap sudut ruang
tempat kau melukis Ni (RIP).
Seperti musim lalu kawan,
apa kabarmu?...

Tabanan, 280408
Dwi Rastafara

Mimpi


Pada mimpi yang pernah kami miliki:
kami punya mimpi di sebelah waktu kami
ketika malam menyelimuti bumi, dia datang
dalam tidur-tidur kami. Lalu ketika
kami berjalan di bawah mentari, kami juga bermimpi
tentang apa yang kami mimpikan, tentang ingin
menjadi seperti mereka.

Tapi kami punya mimpi sendiri, tentang kami
yang ingin menjadi apa...

Tabanan-Bali, 280408
Dwi Rastafara

Minggu, April 27, 2008

Satu Lagi Yang Mati

Di rembulan ku lihat bayangmu,
melayang dari atas sana
dengan sayap yang lunglai...


Dirembulan ku baca mantramu,

lirih syahdu...


Dirembulan ku dengar pekikmu,

nyaring memekakkan telinga,
miris di hati...


Di rembulan kau terkapar...

Kau, satu lagi malaikat
yang mati...

Tabanan, 270408
Dwi Rastafara

Bersama Angin

Aku ada bersama angin,


aku terbang bersama angin,


aku datang bersama angin,


aku pergi bersama angin,


aku hilang bersama angin...


Tabanan, 270408
Dwi Rastafara

Sabtu, April 26, 2008

Hanya Ingin

Ada banyak yang bisa membuatku rindu
ketika aku jauh dari rumah.
Tentang hijau ladang-ladang itu
yang terbias di bening matamu,
juga riuh kicau kenari di pagi
ketika mentari baru menggeliat,
ketika sinarnya baru sedikit menguak
selimut gelap di ufuk timur.
Lalu harum pucuk-pucuk teh
racikan bunda, seharum tembakau
yang bapak hisap.
Ramai bocah bermain bola di halaman
belakang kala sore tiba, gemercik sejuk
air sungai, semua ada di sana,
semua yang membuatku rindu pada tempat
dimana aku besar dan bermain.
Aku hanya ingin pulang, ke rumah...

Surabaya, 240408
Dwi Rastafara

Kamis, April 24, 2008

73

Di berandamu, rumah no 73,
yang pintu dan pilar-pilarnya
adalah jati tua berukir.
Pagi dengan kepul 234 dan secangkir
kopi tanpa gula, setelah semalam
kita lelah bermain, kau mengingatnya
baik sekali.
Sementara kita disini,
di bawah ornamen Messiah yang juga
jati berukir, ku katakan padamu,
Hana, esok aku tak disini,
bukan aku menunggalkanmu tapi aku
ingin kembali lagi kesini...

Surabaya, 230408
Dwi Rastafara

Selasa, April 22, 2008

Seperti Yang Kita Tau

Hari masih terlalu dini
kala lokomotif itu berhenti.
Ku dengar baru saja
ketuk lonceng 4 kali
dan denring telepon yang
segera saja ku angkat.
Ya, aku tiba di sini,
tempat kali terakhir
kita berpeluk dan aku
ingin memelukmu lagi,
sebentar saja.
Seperti yang pernah ku katakan,
sayang, kereta tak singgah lama.
Seperti yang kau tau juga,
sayang, aku hanya sejenak di sini,
hanya sejenak...

Surabaya, 220408
Dwi Rastafara

Kereta Itu

Mungkin karena kereta itu
yang telah menabur begitu banyak
benih-benih bunga di halaman belakang
hingga bersemi dan setiap hari kian indah.

Adalah eidelweis yang bersemi di sana,
yang kau bawa dari Merapi.
Warna putih ungunya tak pernah pudar
meski mengering ketika musimnya berganti,
pun tetap merekah tak pernah layu.

Mengagumimu dan menyimpannya
dalam lemari hati, agar tak berdebu.
Lalu kau tau, kereta tak singgah lama di Surabaya,
pun aku hanya sejenak di sini,
perahu-perahu Pinisi itu telah menanti.

Gambarmu selalu terpigura dalam ingatan,
meski hanya gambarmu, tapi tak lekang
oleh waktu...

210408, Dalam kereta dari Jogja ke Surabaya
Dwi Rastafara

Happy B'day BuMa

Bir dingin dan nyala lilin,
menyimpan cerita tentang para
petani Bunga Matahari,
juga tentang celoteh-celoteh mereka...

Jogja, 190408
Dwi Rastafara

Senin, April 14, 2008

Seucap Sayonara

Kata, terakhir terucap
pada malam yang larut dalam
dingin hujan. Kau pergi,
aku juga akan pergi.
Tapi tunggu sebentar lagi,
sebentar lagi...

Biar ku pandangi dulu langit
malam ini, biar ku cium
udara lembab ini, biar ku
reguk dulu racunmu agar aku
tertidur di perjalanku.
Lalu mati...

Mungkin seucap sayonara
cukup untuk kita, mungkin
untuk kita bisa jumpa lagi,
jika aku tak pulas tertidur
dan tak lupa lekuk tubuhmu
juga manis getir birahimu
kala kita berpeluh.

Makassar, 140408
Dwi Rastafara

Minggu, April 13, 2008

Bunga

Ranum warna kelopakmu terbias bak pelangi
di bening rinai gerimis yang sedikit deras.
Mengalur, mencoreng di lelangit pucat kelabu,
nyaris senja.

Mentari sebentar lagi tenggelam, semilir angin
menebar wangimu di udara lembab, berkabut.
Tunggu malam yang sebentar lagi bergulir lalu
mekar di bawah pekat warna merah wajah rembulan,
lagi dan terus menanti detik-detik yang juga bergulir
meniti penghabisan hari. Seperti kemarin atau
hari-hari lalu hingga tiba hari dini.

Bukan lebah atau kumbang yang mengitarimu
kala gelap mayapada. Bukan kupu-kupu
yang menyunting putik-putikmu di bawah merah
wajah rembulan. Namun ngengat yang terbang menggoda
di bawah kuning temaram lampu jalanan.
Ranum kelopak yang tak lagi terbias seperti pelangi
di bawah terangnya, berbias lelah,
risau...

Tegar kau pandang kisah yang kau lewati hari ini
yang nyaris dapat kau reka-reka, seperti telah
kau tulis di agendamu, seperti telah kau rencana.
Lalu sesekali kau palingkan wajah ke langit malam,
entah doa atau harap kau ucap. Hanya bibir semerah
rembulan yang sedari tadi bergumam lirih.

Ranum warna kelopak yang sesore tadi berbias pelangi,
kini pucat di bawah langit subuh yang sebentar lagi
tiba. Dan kau, lelah tertidur dengan peluh yang tak
hilang oleh buih-buih sabun...
Lelah...

Makassar, 130408
Dwi Rastafara

Sabtu, April 12, 2008

Mimpi Surga Kecil

Semua tersimpan diantara
jutaan nujum yang mengitari
langit malam. Bercerita tentang
kepenatan tanduk-tanduk di antara
gelegar asa,terinjak di bawah
telapak kaki yang timpang
lalu di bungkam oleh janji-janji
penguasa loba.

Dimana para pahlawan? Semua kesiangan,
semua ketiduran. Semua lelap
dalam hangat peluk birahi beberapa iblis
yang terbalut selimut tebal bulu domba
dan terbangun dengan muka memerah,
memelas, lagi dan lagi...
Sementara para bandit asik menggorok
leher-leher kurus yang nyaris kering
tak berdarah... Ironis...

Berkata ini itu hanya sekedar menina-bobokan
mereka yang kecil, sabarlah, sabar...
Tenanglah, tenang...
Hanya itu yang mereka terima, hanya itu
yang mereka dengar...
Tidurlah, surga kecilmu hanya dalam mimpimu...

Makassar, 120408
Dwi Rastafara

B R A I N

There's


a


bugs


in


my


brain...

Makassar, 120408
Dwi Rastafara

Kamis, April 10, 2008

Semua Sirna, Sayang...

Gelap di langit matamu tumpah ruah
deras menganak sungai, petir jilati
hatimu, membuat gentar.
Gemuruh jiwamu yang luka terdengar
mengaduh, memecahkan kristal-kristal
harapan yang kau bangun.
Lalu bagimu semua musnah,
semua sirna...
Sayang...

Makassar, 100408
Dwi Rastafara

Bercerita, Berirama, Berbicara

:TSP

sajakmu bercerita, berirama...
ketika ku mulai membacanya per kalimat
dan aku terbata-bata pada setiap tanda
jeda yang kau letakan di antara kata per kata,
lalu terhenti di titik akhir bait ke baik
berikutnya, coba memahami...

sajakmu berirama, berbicara...
ketika ku baca selembar sajak dari tumpukan
koran basi di bawah meja dan aku kembali
terbata-bata di tiap tanda koma yang
kau letakan lalu terhenti di titik terakhir
bait ke bait,
coba mengerti...

Makassar, 100408
Dwi Rastafara

Jogja, Es Regnet

:Malaikat Kecil

Jogja, Es Regnet,
katamu yang ku baca
di pengantar pesan berandaku.

Seberapa deras hingga begitu kau
kabarkan padaku? Atau kau cuma sekedar
mengingat-ingat hujan dari kata lain?
Apa bedanya dengan Makassar,
yang langitnya juga kelabu pekat,
yang malamnya juga deras...

Lalu ketika kau ucap Jogja, sahabat,
yang ada di benakku cepat pulang...
Dan aku ingin menciumi
aroma tanah basahnya...

Bruder, Jogja Es Regnet...

Makassar, 100408
Dwi Rastafara
(* berarti "Jogja, hujan")

Musim Berikutnya

Waktu, seperti jalan tak berujung

lalu berganti ke jengkal musim berikutnya,

mengeringkan daun-daun,

gugur dan merepih di genggam jemari.

Aku mulai mereka-reka tentang semua,

syair-syair Ronggowarsito.

Makassar, 100408

Dwi Rastafara

Selasa, April 08, 2008

Cuma Aku Dan Kau

Angin berhembus dari kipas itu
membawa wangi aroma tubuhmu,
begitu tajam menusuk hidungku.
Sebenarnya kau cuma ada di depanku,
berkaos hitam, celana pendek merah,
c a n t i k ...
Aku pun tak perlu berteriak
atau melayangkan pesan dari telponku
cuma untuk menyapamu.

Kau pun menyapa, bukan aku,
mungkin cukup aku tau
siapa kau, lalu kau sesekali tersenyum,
entah, untukku kah?
Ku kira ya... Ku kira tak ada siapa-siapa
selain kita, selain aku dan kau.
Ya, memang cuma ada aku dan kau...

Tapi maaf, sayang...
Aku sedang tak ingin...

Makassar, 080408
Dwi Rastafara

Senin, April 07, 2008

Sepasang Adidas Dari Munich

Telepon yang sedari tadi
tak henti berdering, ku kira siapa
membuatku kesal.
Sudah ku katakan sekian kali,
aku sedang jenak, jadi lain kali saja
kita bicara...

Ya, aku tau kau siapa. Saudara serahim
ibuku, tapi siapa pun kau, tolong jangan
ganggu aku saat ini.

Ada sesuatu buatku, katamu,
dari kekasihmu yang baru saja
mudik. Kiranya aku harus cepat kembali
atau itu cuma alasanmu agar
aku kembali.

Lalu suara yang ku kira ku kenal,
ya, aku kenal...
"wenn Sie zurück zu Jogja, Bruder?

Ich habe irgendein Geschenk für Sie"*

Ya, logat kental ala Hitler mu itu,
aku kenal sekali. Baiklah, Jean...
Katakan pada saudaraku, aku pulang
ketika bulan lengser sepertiga...

Makassar, 070408
Dwi Rastafara

*Berarti: "Bila kau kembali ke Jogja, saudaraku?
Aku punya beberapa oleh-oleh untukmu"

Satu Hari

Lagi,
satu waktu di depan layar maya yang serba salah
tak tau apa yang harus di lakukan, lalu hanya
berandai-andai tentang mereka yang tepat
di depan mata dan menggoda dengan aroma
wangi bunga dan buah.

Mungkin pagi, satu hari yang cerah
lebih baik ke laut. Memancing sambil
menikmati cannabis sisa semalam, sepertinya
menyenangkan, biar sebentar
melupakan mereka, melupakan semua...

Lalu biar semua berlalu,
dan berlalu...

Makassar, 070408
Dwi Rastafara

Minggu, April 06, 2008

Minggu Pagi

Hari minggu yang sedikit tak biasa.
Pagi, seharusnya aku masih bisa
berguling-guling di kasur empuk
hingga siang atau bahkan sore
seandainya seseorang tak membunyikan
remy silado teleponku,
juga raung sirene mobil patroli polisi
yang beriringan dengan ambulan
dan pemadam.

Lalu aku mulai menunggu
dan menunggu hingga waktu bergulir
lebih dari 60 menit,
waktu yang tersita...

Makassar, 060408
Dwi Rastafara

Gerimis

: Gerimis Kecil

Tentang catatan kecil yang kau buat
ada gerimis-gerimis kecil
di luar jendelamu,
membawa banyak rindu
yang sama seperti kemarin,
katamu...

Baiklah aku ingin coba
melongok jendela,
yang diluar bisa kulihat gerimis,
katamu...

Mungkin kau benar tentang gerimis
yang jatuh di luar jendela,
aku melihatnya,
pun aku menyapanya.
Ketika mereka menari, berjingkat
perciknya hingga ke jendela,
aku melihatnya...

Sendiri bukan berarti sepi,
hanya merasakan hening.
Menatap gerimis yang perciknya
singgah di jendela
bukan berarti sendiri,
hanya ingin menikmati gerimis
dan sendiri dulu...

Makassar, 060408
Dwi Rastafara

Sabtu, April 05, 2008

Sendiri, Mungkin Lebih Baik

Terkadang akan sangat sulit untuk sendiri
ketika butuh sendiri. Terkadang juga
terasa terlalu sulit, pun ketika benci sendiri.
Ketika jengah berkumandang di telinga,
lalu merasa tak jenak, menghasut pikiran
dengan ide-ide minor...

Aku hanya ingin sendiri, seperti mereka
yang pergi dan tak kembali...

Ya, mereka punya alasan untuk tak kembali,
tak sekedar alasan tapi segunung alasan
untuk tak kembali...
Karena orang-orang yang pergi,
tau kapan harus kembali...

Adalah aku yang bercerita padamu, mungkin...
Atau juga mereka bercerita sama? Mungkin ceritaku
yang sama dengan mereka...
Waktu, aku ingin sendiri, aku ingin tak terusik
mereka...
Aku ingin sebentar mati...
Lalu ceritaku selesai kala senja tak lagi pucat,
inginku...

Sebentar, waktu...
Biar ku kemasi barang-barangku, juga ceritaku yang
sedikit berantakan tak ikuti alur.
Biar ku tinggalkan beberapa pesan di mejanya,
juga di meja mereka.

Lalu aku mulai menekuri raut wajah mereka,
satu per satu, sambil ku nikmati sendiriku...

Sendiri,
mungkin lebih baik...

Makassar, 050408
Dwi Rastafara

Tanya

Apa yang di berikan bunda rembulan
ketika mentari meninggalkanmu
dalam gelap mayapada?

Lalu apa yang telah kau berikan
pada kunang-kunang yang menerangi
malam-malammu,
juga jalanmu...

Makassar, 040408
Dwi Rastafara

Malam Penuh Rindu

Malam mengarak awan-awan penuh rindu
ketika hasrat beradu...
Dengan tubuh berpeluh dan dengus nafas
yang memburu terpicu oleh
gairah yang lepas kendali,
lalu melayang di awang-awang,
menatap tubuh sendiri yang lunglai
tak bergerak...

Lelap,
tertidur...

Makassar, 040408
Dwi Rastafara

Selasa, April 01, 2008

M A A F

Tolong sempurnakan apa
yang telah di jalani
tentang suka cita,
sempurnakan juga luka
yang telah kau torehkan
lalu kau boleh pergi dari sini.

Adalah nelangsa yang pernah
ku lalui bersamamu,
adalah suka cita di balik ceritamu
dan aku ternyata terbuai
oleh anggunmu dan manis bibirmu
ketika kita bercinta.

Sementara cinta ngakak
di atas kepala, aku tergugu
di bawah langit dosa,
di bawah kuasa sang Khalik
ketika kita bercinta,
ketika kita mencoreng nirwana.

Bukan seperti itu maksudku,
bukan seperti yang kau mau juga,
tapi hanya sebatas yang kita inginkan.

Jika nanti rahimmu bertunas
dan putingmu menganak sungai,
aku kah?
Kurasa bukan aku saja
yang kau kehendaki.
Mereka ada di sana,
mereka bersamamu...

Ketika Hawa lahir dari rusuk Adam,
menganak cucu dari rahimnya,
juga hingga di rahimmu,
apakah semua itu? Kau dendam?
Kau bukan segalanya...

Pada cinta yang menurutku,
basi, memuakkan...
Tapi maaf, jika aku pergi...

Makassar, 010408
Dwi Rastafara