Merpati terbang membawa pesan,
terbang di bawah langit malam
nan kelam.
Lalu hinggap di bingkai jendela
seorang dara, merpati mendekur.
Pesan terbaca di remang
cahaya rembulan yang masih baru,
tentang kabarnya...
Batavia, 250608
Dwi Rastafara
Kamis, Juni 26, 2008
Rabu, Juni 25, 2008
Bening Pagi
Bila kulihat bening matamu
yang seperti bening embun pagi,
aku hanya ingin berkaca disana.
Aku ingin melihat hati secerah fajar
yang terbit di ufuk timur,
juga ketika kumbang-kumbang pagi
berhias molek di bening kaca telaga,
aku ingin disana.
Aku hanya kau yang seperti bening embun,
seperti pagi...
Batavia, 250608
Dwi Rastafara
yang seperti bening embun pagi,
aku hanya ingin berkaca disana.
Aku ingin melihat hati secerah fajar
yang terbit di ufuk timur,
juga ketika kumbang-kumbang pagi
berhias molek di bening kaca telaga,
aku ingin disana.
Aku hanya kau yang seperti bening embun,
seperti pagi...
Batavia, 250608
Dwi Rastafara
Minggu, Juni 22, 2008
Merpati Salah Arah
Ku lihat lagi belalang di antara ilalang,
di antara ilalang yang menguning kering.
Sang bayu sapa ilalang,
membuatnya berbisik, bergemerisik.
Belalang tak bergeming hanya berayun
di pucuk ilalang sambil menatap kupu-kupu
yang terbang mengitari bunga anyelir,
anyelir yang tumbuh di antara ilalang.
Sebenarnya bukan karena anyelir
yang tumbuh di antara ilalang,
juga bukan belalang yang menatap kupu-kupu,
kupu-kupu tetap mengitari anyelir,
belalang tetap menatap kupu-kupu sambil berayun
di pucuk ilalang, seperti bermain sirkus saja.
Kupu-kupu seperti tak lelah berputar-putar
di atas kelopak anyelir,
seperti merpati yang salah arah,
berputar-putar...
Lalu dimana belalang ketika merpati terbang salah arah,
juga kupu-kupu yang mengitari anyelir?
Belalang tak lagi berayun di pucuk ilalang,
kupu-kupu tak lagi berputar-putar.
Ilalang kering, anyelir juga kering,
belalang mati, kupu-kupu juga mati.
Merpati kini tinggal sendiri, sepi
ditengah ilalang dan anyelir yang kering,
juga belalang dan kupu-kupu yang mati,
sendiri dan tetap salah arah...
Batavia, 220608
Dwi Rastafara
di antara ilalang yang menguning kering.
Sang bayu sapa ilalang,
membuatnya berbisik, bergemerisik.
Belalang tak bergeming hanya berayun
di pucuk ilalang sambil menatap kupu-kupu
yang terbang mengitari bunga anyelir,
anyelir yang tumbuh di antara ilalang.
Sebenarnya bukan karena anyelir
yang tumbuh di antara ilalang,
juga bukan belalang yang menatap kupu-kupu,
kupu-kupu tetap mengitari anyelir,
belalang tetap menatap kupu-kupu sambil berayun
di pucuk ilalang, seperti bermain sirkus saja.
Kupu-kupu seperti tak lelah berputar-putar
di atas kelopak anyelir,
seperti merpati yang salah arah,
berputar-putar...
Lalu dimana belalang ketika merpati terbang salah arah,
juga kupu-kupu yang mengitari anyelir?
Belalang tak lagi berayun di pucuk ilalang,
kupu-kupu tak lagi berputar-putar.
Ilalang kering, anyelir juga kering,
belalang mati, kupu-kupu juga mati.
Merpati kini tinggal sendiri, sepi
ditengah ilalang dan anyelir yang kering,
juga belalang dan kupu-kupu yang mati,
sendiri dan tetap salah arah...
Batavia, 220608
Dwi Rastafara
Kamis, Juni 19, 2008
Lupa
Lalu hari ini berakhir seperti biasa,
sedikit cerita yang luruh sebentar
di penghabisan senja.
Coba ku ingat hari ini
tapi aku lupa...
Batavia, 190608
Dwi Rastafara
sedikit cerita yang luruh sebentar
di penghabisan senja.
Coba ku ingat hari ini
tapi aku lupa...
Batavia, 190608
Dwi Rastafara
Selasa, Juni 17, 2008
Tak Ada Jingga
Tak ada jingga di langit pagi ini
hanya warna pucat mendung kelabu
merata hingga ke ujung cakrawala.
Kulihat jalan-jalan telah basah oleh gerimis,
4 hari 3 malam aku disini, aku harus pulang
tapi dengan mendung dan gerimis ini,
sepertinya Tuhan masih memintaku tuk tinggal...
Bangkok, 140608
Dwi Rastafara
hanya warna pucat mendung kelabu
merata hingga ke ujung cakrawala.
Kulihat jalan-jalan telah basah oleh gerimis,
4 hari 3 malam aku disini, aku harus pulang
tapi dengan mendung dan gerimis ini,
sepertinya Tuhan masih memintaku tuk tinggal...
Bangkok, 140608
Dwi Rastafara
Jumat, Juni 13, 2008
Ku Tak Bisa
Ada risau di sebelah hati,
kerap menghantui pikiranku
di setiap jengkal waktuku.
Gamang terbersit disela rindu
yang menggebu,
ku kira bisa ku lupakan dirimu,
meninggalkanmu karena lelahku
bermain dengan perasaan ini.
Tapi tak bisa, kau mengikutiku
meski hanya samar bayangmu
yang terbias di redup nyala lilin biara...
Bangkok, 120608
Dwi Rastafara
kerap menghantui pikiranku
di setiap jengkal waktuku.
Gamang terbersit disela rindu
yang menggebu,
ku kira bisa ku lupakan dirimu,
meninggalkanmu karena lelahku
bermain dengan perasaan ini.
Tapi tak bisa, kau mengikutiku
meski hanya samar bayangmu
yang terbias di redup nyala lilin biara...
Bangkok, 120608
Dwi Rastafara
Senin, Juni 09, 2008
Sajak Upacara
Selamat pagi Indonesia...
Kami berdiri di halaman depan kelas-kelas kami,
mengangkat tangan kami untuk bendera
yang meniti tiang setinggi langit,
menundukkan kepala kami untuk para jiwa
yang telah membuat negeri ini seperti ini.
Kami berdiri di halaman depan kelas-kelas kami,
dengarkan konspirasi dasar negeri ini
yang terkadang memang kurang bisa kami mengerti,
lalu kami juga lafalkan butir-butir Pancasila.
Kami berdiri di halaman depan kelas-kelas kami,
juga untuk dengarkan pepesan dari pahlawan
yang tak pernah punya tanda jasa,
menyanyikan lagu-lagu
yang membuat semangat kami menyala-nyala
dan berdoa untuk negeri.
Kami berdiri di halaman depan kelas-kelas kami,
tapi kami tak pernah tau mengapa negeri kami
bisa seperti ini...
Selamat pagi Indonesia...
Batavia, 090608
Dwi Rastafara
Kami berdiri di halaman depan kelas-kelas kami,
mengangkat tangan kami untuk bendera
yang meniti tiang setinggi langit,
menundukkan kepala kami untuk para jiwa
yang telah membuat negeri ini seperti ini.
Kami berdiri di halaman depan kelas-kelas kami,
dengarkan konspirasi dasar negeri ini
yang terkadang memang kurang bisa kami mengerti,
lalu kami juga lafalkan butir-butir Pancasila.
Kami berdiri di halaman depan kelas-kelas kami,
juga untuk dengarkan pepesan dari pahlawan
yang tak pernah punya tanda jasa,
menyanyikan lagu-lagu
yang membuat semangat kami menyala-nyala
dan berdoa untuk negeri.
Kami berdiri di halaman depan kelas-kelas kami,
tapi kami tak pernah tau mengapa negeri kami
bisa seperti ini...
Selamat pagi Indonesia...
Batavia, 090608
Dwi Rastafara
Kamis, Juni 05, 2008
Gerimis Ini
Lalu pijakanku tak terbaca,
cermatilah gerimis ini yang turun
membasahi pelataranmu
juga angin yang melewati bingkai jendelamu,
biarlah mereka yang bercerita padamu.
Seperti ketika kau tak terbaca...
Anyer, 010608
Minggu, Juni 01, 2008
Langgan:
Entri (Atom)


