Cintamu di busur segitiga,
hidup dalam remang dusta
yang kau bangun sekian lama.
Cintamu di busur segitiga,
dia, dia dan dia
dalam keliling lingkaran cemburu
yang berputar pada poros dusta,
hatimu berselimut gundah.
Kau sembunyikan satu tanganmu
di saku belakangnya,
sementara satu tangan lainnya
ada di saku depannya
dan senyummu kau palingkan
ke samping tepat di depan wajahnya.
Dia, dia dan dia,
jenuh menanti kebohongan
dari bibir manismu.
Ketika tau, muak termuntahkan
di setiap titik segitigamu,
bak serapah kebencian
bagi seorang lonte...
London, 270808
Dwi Rastafara
Kamis, Agustus 28, 2008
Rabu, Agustus 27, 2008
Der Traum von Dämmerung
Am Tag, den ich, es war,
ist der Tag des Paradieses geboren.
Wie die blühenden Blumen lächeln Sie reizend,
ein Blütenduft des Frühlinges.
Wie Stern-Funkeln zu mir,
eine Blendungperle,
wenn der Himmel mir einen Regenbogen zeigt,
die Königin von Farben.
Wie cockoo singt mir eine Melodie,
die süßesten Rhythmen.
Und das Herz beten vom Frieden:
“Sie sind die Prinzessin des Herzens.”
Als der Seelen-Schlummer soundless:
“Oh mein, sind Sie der Traum von Dämmerung.”
London, 260808
Dwi Rastafara
ist der Tag des Paradieses geboren.
Wie die blühenden Blumen lächeln Sie reizend,
ein Blütenduft des Frühlinges.
Wie Stern-Funkeln zu mir,
eine Blendungperle,
wenn der Himmel mir einen Regenbogen zeigt,
die Königin von Farben.
Wie cockoo singt mir eine Melodie,
die süßesten Rhythmen.
Und das Herz beten vom Frieden:
“Sie sind die Prinzessin des Herzens.”
Als der Seelen-Schlummer soundless:
“Oh mein, sind Sie der Traum von Dämmerung.”
London, 260808
Dwi Rastafara
Selasa, Agustus 26, 2008
Suatu Hari Di Sana
Suatu pagi mentari coba merobek
pucat wajah langit,
penyair pergi berujung sunyi.
Angin diam, gerimis berhenti
tapi penyair bernyanyi
tentang suatu hari di sana,
di ujung savana kaki langit...
London, 250808
Dwi Rastafara
Stairway to heaven...
pucat wajah langit,
penyair pergi berujung sunyi.
Angin diam, gerimis berhenti
tapi penyair bernyanyi
tentang suatu hari di sana,
di ujung savana kaki langit...
London, 250808
Dwi Rastafara
Stairway to heaven...
Senin, Agustus 25, 2008
Ngengat Muda Bunga Plastik
Beribu embun menggantung
di pucuk-pucuk daun,
membiaskan sinar lampu-lampu jalan,
membuat kerlip seperti bintang.
Ngengat muda terbang di bawah lampu jalan,
berandai menjadi kupu-kupu
lalu hinggap di bunga plastik,
berayun lembut di kelopak palsunya...
London, 230808
Dwi Rastafara
She pretend...
di pucuk-pucuk daun,
membiaskan sinar lampu-lampu jalan,
membuat kerlip seperti bintang.
Ngengat muda terbang di bawah lampu jalan,
berandai menjadi kupu-kupu
lalu hinggap di bunga plastik,
berayun lembut di kelopak palsunya...
London, 230808
Dwi Rastafara
She pretend...
Rabu, Agustus 20, 2008
Batas
Seberapa jauh permadani merah terhampar
di halaman depan hingga tak terlihat lagi
ujungnya yang sedikit tergulung itu.
Mungkin hanya sampai sekian meter
dari pintu depan yang ketika di buka perlahan
berderit ngilu, seperti derit gesekan
daun-daun kering, batas di ujung sana
masih terlihat.
Seperti juga batas antara langit dan bumi
yang menyatu di ujung cakrawala,
hanya terlihat sebatas itu.
Sebatas inikah hari-hari yang ketika dihitung
belum genap 168 jam, 8 menit belum dilalui
dan telepon yang berdering di pagi yang masih dini,
juga kabut mendung dan gerimis di luar jendela
adalah sebagian batas yang belum terlihat.
Seperti ketika kau berkata di seberang sana
berbatas angkasa ketika kau tak lagi terlihat
terdiam di beranda depan dengan permadani merah
panjangmu yang tergulung sedikit di ujungnya.
London, 190808
Dwi Rastafara
Let it flow...
di halaman depan hingga tak terlihat lagi
ujungnya yang sedikit tergulung itu.
Mungkin hanya sampai sekian meter
dari pintu depan yang ketika di buka perlahan
berderit ngilu, seperti derit gesekan
daun-daun kering, batas di ujung sana
masih terlihat.
Seperti juga batas antara langit dan bumi
yang menyatu di ujung cakrawala,
hanya terlihat sebatas itu.
Sebatas inikah hari-hari yang ketika dihitung
belum genap 168 jam, 8 menit belum dilalui
dan telepon yang berdering di pagi yang masih dini,
juga kabut mendung dan gerimis di luar jendela
adalah sebagian batas yang belum terlihat.
Seperti ketika kau berkata di seberang sana
berbatas angkasa ketika kau tak lagi terlihat
terdiam di beranda depan dengan permadani merah
panjangmu yang tergulung sedikit di ujungnya.
London, 190808
Dwi Rastafara
Let it flow...
Kamis, Agustus 14, 2008
Mejikuhibiniu
8:03 pm, warna apa yang kau pilih
tuk lukiskan hari ini?
Ambil yang kau suka
dan sisipkan di antara lembar-lembar
catatan kecil harimu
lalu simpan untuk dikenang...
London, 120808
Dwi Rastafara
tuk lukiskan hari ini?
Ambil yang kau suka
dan sisipkan di antara lembar-lembar
catatan kecil harimu
lalu simpan untuk dikenang...
London, 120808
Dwi Rastafara
Senin, Agustus 11, 2008
R E U N I
Dari sebuah coffee shop, di antara mereka
yang menunggu reda dan merpati-merpati
yang meringkuk di bawah atap gerimis.
Potret hitam putih dari perempuan berpayung
di depan boutique ala Paris tertangkap tajam
mata kamera.
Sederet rindu yang mengantri seakan lepas
dan larut dalam cangkir-cangkir espresso,
lalu jengkal waktu yang tak sebentar
melebur dalam mulut-mulut yang melafal
kabar dan cerita masa lalu, berbaur di sela
alunan musik psycodelic Jim Morisson.
Gerimis yang tak reda-reda merekatkan rasa
tak ingin pulang, mereka dari masa lalu
hingga waktu yang terbentang melepas
pergi mereka satu per satu.
Ketika di sini, mungkin hanya kali ini,
hanya beberapa kali putaran jarum jam
lalu kembali pergi...
London, 090808
Dwi Rastafara
Life Begin From The Past
Jumat, Agustus 08, 2008
Rabu, Agustus 06, 2008
Lupakan
Lelah kau miliki cerita,
kau tinggalkan semua di belakang.
Kuselami duniamu, perempuan.
Aku memilihmu yang ketika ku temukan
ada di antara perasaan hiruk pikuk mereka,
kau sendiri terdiam membisu.
Ada sedih di pelupuk hatimu.
Ku baca dari sikapmu,
ku terjemahkan denyut kekosongan di nadimu
yang seperti malam larut.
Ku rasakan ceritamu tercampur ke dalam
secangkir teh hangat dan madu,
mungkin agar terasa sedikit manis.
Mari kita bicara, wahai perempuan.
Duduk di halaman belakang kala sore,
kala guguran daun kering mulai memenuhi tanah.
Tuang lagi perasaanmu dalam cangkir tehku
atau muntahkan saja di sweater coklat ku
dan ketika telah kau lepaskan,
lupakan aku seperti kau lupakan sedihmu.
London, 040808
Dwi Rastafara
kau tinggalkan semua di belakang.
Kuselami duniamu, perempuan.
Aku memilihmu yang ketika ku temukan
ada di antara perasaan hiruk pikuk mereka,
kau sendiri terdiam membisu.
Ada sedih di pelupuk hatimu.
Ku baca dari sikapmu,
ku terjemahkan denyut kekosongan di nadimu
yang seperti malam larut.
Ku rasakan ceritamu tercampur ke dalam
secangkir teh hangat dan madu,
mungkin agar terasa sedikit manis.
Mari kita bicara, wahai perempuan.
Duduk di halaman belakang kala sore,
kala guguran daun kering mulai memenuhi tanah.
Tuang lagi perasaanmu dalam cangkir tehku
atau muntahkan saja di sweater coklat ku
dan ketika telah kau lepaskan,
lupakan aku seperti kau lupakan sedihmu.
London, 040808
Dwi Rastafara
Minggu, Agustus 03, 2008
Belum Selesai
Ada banyak yang mesti selesai, namun kerap kali
tak selesai hingga harus tertinggal begitu saja.
Ketika ku mundurkan ingatanku kebelakang lalu
ku ambil sebagian kecil kenangan dari belakang
kepalaku, bahkan aku tak pernah tau apa yang
ku lakukan namun setidaknya aku tau
apa yang ku ambil belum selesai, seperti sekarang.
Ku mundurkan sedikit lagi ingatanku ke belakang,
ketika sore berhujan hingga dapat ku lihat
samar dirinya di luar kaca jendela yang berembun,
berjingkat menari di bawah gerimis, berlari mendekat
hingga dapat pula ku dengar ketukannya
di kaca jendela yang seperti derai percik gerimis.
Diam dan diam ku telan, lalu sepi tiba-tiba saja
selimuti seluruh ruang hati. Dengar dan dengar
ku dengar langkah kaki-kaki yang tadi berjingkat,
ku dengar seperti derit lantai kayu tua.
Seketika gamang menerjang seperti busur-busur
panah, menghujam tepat di hati yang mulai menciut.
Aku lari, tapi tak bergerak.
Ku lontarkan kembali ingatan ku ke depan
melewati jengkal waktu yang berkeringat
hingga ketika ku tersadar dan ku lihat bercak
percik gerimis di kaca jendela, aku tau
kau yang mengetuknya serta jejak kaki
di lantai kayu kamar, aku pun tau
kau yang berjingkat semalam.
Kiranya aku tak pernah bisa menahanmu disini,
kau pergi tanpa ku tau dan aku masih belum selesai
mencarimu...
Chelsea, 020808
Dwi Rastafara
tak selesai hingga harus tertinggal begitu saja.
Ketika ku mundurkan ingatanku kebelakang lalu
ku ambil sebagian kecil kenangan dari belakang
kepalaku, bahkan aku tak pernah tau apa yang
ku lakukan namun setidaknya aku tau
apa yang ku ambil belum selesai, seperti sekarang.
Ku mundurkan sedikit lagi ingatanku ke belakang,
ketika sore berhujan hingga dapat ku lihat
samar dirinya di luar kaca jendela yang berembun,
berjingkat menari di bawah gerimis, berlari mendekat
hingga dapat pula ku dengar ketukannya
di kaca jendela yang seperti derai percik gerimis.
Diam dan diam ku telan, lalu sepi tiba-tiba saja
selimuti seluruh ruang hati. Dengar dan dengar
ku dengar langkah kaki-kaki yang tadi berjingkat,
ku dengar seperti derit lantai kayu tua.
Seketika gamang menerjang seperti busur-busur
panah, menghujam tepat di hati yang mulai menciut.
Aku lari, tapi tak bergerak.
Ku lontarkan kembali ingatan ku ke depan
melewati jengkal waktu yang berkeringat
hingga ketika ku tersadar dan ku lihat bercak
percik gerimis di kaca jendela, aku tau
kau yang mengetuknya serta jejak kaki
di lantai kayu kamar, aku pun tau
kau yang berjingkat semalam.
Kiranya aku tak pernah bisa menahanmu disini,
kau pergi tanpa ku tau dan aku masih belum selesai
mencarimu...
Chelsea, 020808
Dwi Rastafara
Di Belakangmu
Resah singgah di belakangmu
ketika hanya bisa menyapa di balik punggung.
atau mungkin seperti ingin menterjemahkan
penyesalan ketika harus berjalan di belakangmu...
Glasgow-UK, 310708
Dwi Rastafara
ketika hanya bisa menyapa di balik punggung.
atau mungkin seperti ingin menterjemahkan
penyesalan ketika harus berjalan di belakangmu...
Glasgow-UK, 310708
Dwi Rastafara
Langgan:
Entri (Atom)


