Sabtu, Oktober 25, 2008

Senyap

Kau bawa dirimu dalam senyap yang sangat,
senyap seperti malam yang benar-benar
terdiam hingga jiwamu membeku
sedingin bongkah es dari utara.
Aku rindu riuh tawamu,
aku rindu isak tangismu,
aku rindu marahmu,
aku rindu dekap hangatmu,
aku rindu tentangmu
dan semua yang ada padamu...

241008
Dwi Rastafara

Kamis, Oktober 23, 2008

I Don't Wanna Fall In Love With You

Should I have to leave you if in another day
I see you again?
It's not about the days we pass together
or the memories remind us,
I have to lose you
since I have been loving you.
I just don't wanna fall in love with you
again...

221008
Dwi Rastafara

Puisi Untuk Sang Perawan

Ketika puisi sanggup menggugah hati
sang perawan, biarkan mentari menyapamu
dan menumbuhkan benih-benih rasa di sana.
Bila musimnya telah berlalu,
rasa itu tetap bersemi di sana
hingga cinta tak hanya sekedar skeptis belaka.

211008
Dwi Rastafara

Senin, Oktober 20, 2008

Anomali

Aku merasakanmu seperti angin
yang melewatiku begitu saja,
tinggalkan wangi tubuhmu.
Menyentuh setiap inci kulitku
tapi kau tak terlihat.
Kemudian aku bisa melihatmu,
seperti air.
Kau tenang, bergerak di dpanku,
basahi skujur tubuhku
berikan sejuk bagi jiwaku yang haus
tapi aku tak pernah bisa menggenggammu.
Aku mengenalmu dengan segala keganjilan
yang tak bisa ku mengerti,
kau tak terkira...

London, 181008
Dwi Rastafara
http://rastafaria.multiply.com

Minggu, Oktober 19, 2008

Tenang

Terkadang tulisan-tulisan itu
membuat kepalaku begitu sakit.
Mereka muncul di langit,
di dinding kamar, di kaca jendela,
di dalam gelas.
Juga berdengung di dalam ruang kamar,
di telinga, di kepalaku,
menelusup ke setiap syaraf otakku
seperti ribuan jarum yang menusuk-nusuk
hingga membuatku gila.
Aku berlari, bersembunyi di bawah tempat tidurku,
di balik pintu, membenamkan kepalaku
ke dalam toilet, mereka tetap mengejarku.
Selalu bisa menemukanku ketika aku berjalan,
berlari, tidur, bermimpi,
bahkan ketika aku diam.
Siapakah mereka, siapakah mereka dibalik
tulisan-tulisan itu?
Menuliskannya di langit, di dinding kamar,
di kaca jendela, di dalam gelas.
Membacakannya hingga berdengung
di dalam ruang kamar, di telinga,
di kepalaku, menyusupkannya di setiap
syaraf otakku.
Berhentilah membuatku gila,
berhentilah agar aku tak lagi berlari,
bersembunyi di bawah tempat tidur, di balik pintu,
tak lagi membenamkan kepalaku ke dalam toilet.
Berhentilah menemukanku ketika aku berjalan,
berlari, tidur, bermimpi, diam.
Aku hanya ingin tenang
setenang malam yang anginnya membisu,
gagu...

London, 171008
Dwi Rastafara

Jumat, Oktober 17, 2008

Senyum Kekasih

Aku berjalan meniti pelangi
menyapa bintang di ujung hari.
Aku berdiri di atas awan
menatap deras rinai gerimis.

Aku tertidur di nirwana
mimpikan senyum dari kekasih.
Aku bermimpi di ujung pelangi
menatap senyum kekasih
di bawah rinai gerimis
air mata seribu malaikat

London, 161008
Dwi Rastafara

Senin, Oktober 13, 2008

Tentang Semua

Jauh malam ku ingat kembali
tentang semua yang di sana
juga tentangmu, juga tentang mereka,
juga tentang dia.
Tanya bergulir di pikiran,
di antara ketidak-tauan
juga kecemburuan
dan aku cemburu...

London, 121008
DwiRastafara
http://rastafaria.multiply.com

Selasa, Oktober 07, 2008

Perempuan Dari Kekasih



Perempuan dari seorang kekasih,
kekasih yang kerap kali terlupakan.
Perempuan ada di balik pintu
yang engselnya berkarat,
berderit ketika di buka.
Kekasih berdiri di balik pintu
sisi lainnya,
di genggam tangannya ada hati
seorang perempuan, bukan perempuan
dari seorang kekasih yang ada
di balik pintu, tapi hati perempuan
yang teriris miris.
Perempuan dari seorang kekasih,
kerap terlupakan kekasih...

Batavia, 071008
Dwi Rastafara

Senin, Oktober 06, 2008

Setenga Lima Pagi

Azan subuh baru terdengar, aku baru akan tidur

mata ini lelah, melihatmu mondar mandir

dari depan ke belakang, aku bosan disini...

Siapa tadi yang minta kopi panas?

Bukan aku, aku hanya ingin tidur sejenak

dan tolong jangan ganggu aku hari ini.

Bila aku ingin, aku lebih baik membuatnya sendiri

dengan susu yang terpisah...



Setengah lima pagi, temanku, tukang sapu,

tukang sampah dekat rumah berisik sekali

mengais sapu lidinya.

Kadang derit roda gerobak sampah memekik

terdengar ngilu di telinga.

Berisik...!!!

Kataku agak tinggi...

Cepat pergi dari depan rumahku,

dari sebelah rumahku agar tak ku dengar lagi

langkahmu dan bau busuk gerobak sampahmu...



Tak bisakah kau sedikit toleransi,

aku hanya ingin tidur dengan perempuan

yang sedari sore tadi sudah tergeletak

telanjang di ranjang ini.

Atau aku yang harus bersosialisasi

sementara aku belum tidur...



Batavia, 061008

04.48 pagi

Dwi Rastafara

Sabtu, Oktober 04, 2008

I L U S I

Waktu adalah ilusi,
ilusi yang menghilangkanmu
dari depan mataku meski sebenarnya kau
tetap ada di sekitarku.

Waktu adalah ilusi,
ilusi yang mepermaikan pandangku
hingga aku terlalu naif tuk menganggap kau
telah pergi dari sini.

Waktu adalah ilusi,
ilusi yang membiarkanmu hilang...

Batavia, 031009
Dwi Rastafara

Jumat, Oktober 03, 2008

The Photograph Of St. James

Aku suka duduk di sini,
di taman ini menunggumu
hingga waktu tak terhitung lagi
berapa lama aku di sini...



The Photograph Of Tottenham

Hidup adalah pertaruhan,
kadang menang bisa juga kalah.
Seperti sebuah pertandingan,
tak seberapa penting menang kalah
yang pasti harus di jalani.
Seperti itulah hidup...





The Photograph Of Tower And London Bridge

Melihatmu megah berdiri,
angkuh menjulang ke langit.
Melihatmu megah berdiri,
seberapa lama kau berdiri
cuaca tak surutkan kokohmu.
Melihatmu megah berdiri,
seperti jiwamu yang tak pernah mati...





The Photograph Of Buckingham Palace

Tak ada kata yang bisa terucap
dari mulut yang hanya bisa berdecak kagum.
Agung kau tempatkan pada satu sisi kota
yang mengukir sejarah kebesaran mereka...








Masih Perlukah?

Meramu hasrat di ujung senja
sekedar menghibur jiwa
yang kerap kali mengeluh sepi
lalu menuliskannya dalam bahasa
puisi liris.
Ketika gerimis mulai turun,
tintanya ikut luruh bersama hujan
mengalur di helai-helai daun,
jatuh meresap ke bumi,
di pikiran juga di hati.
Gelegarkan halilintar diluasnya awang-awang,
hentakkan jiwa yang sedari tadi
berdiam dalam sepi dan katakan
di sebelah telinganya bila tak mudah terurai
bersama bening air mata.
Apakah masih perlu lagi berdiam
saat raut wajahnya tak juga bergeming?
Membiarkannya begitu saja
hanya sekedar menunggu waktu yang tak berbatas.
Sementara kelu masih enggan beranjak
dari pangkal lidah...

Batavia, 011008
Dwi Rastafara