Pada-Mu ku temukan cinta,
pada cinta ada lingkar waktu,
pada lingkar waktu aku istirah pada-Mu...
Batavia, 301108
Dwi Rastafara
Minggu, November 30, 2008
Jumat, November 28, 2008
Berhenti Disini
Biar ku hapus semua sekarang,
biar terbang bersama angin
dan jatuh di tengah lautan
lalu tenggelam hingga tak ku dapati lagi
semua disini, sekarang ini.
Lalu bukan saja aku tak ingin
tapi lebih dari sekedar tak ingin
hingga aku merasa begitu muak,
begitu kesal pada semua yang pernah ada
dan sangat ingin ku hilangkan dari pikiranku.
dan semua hilang, semua mati,
semua berhenti disini...
Batavia, 281108
Dwi Rastafara
biar terbang bersama angin
dan jatuh di tengah lautan
lalu tenggelam hingga tak ku dapati lagi
semua disini, sekarang ini.
Lalu bukan saja aku tak ingin
tapi lebih dari sekedar tak ingin
hingga aku merasa begitu muak,
begitu kesal pada semua yang pernah ada
dan sangat ingin ku hilangkan dari pikiranku.
dan semua hilang, semua mati,
semua berhenti disini...
Batavia, 281108
Dwi Rastafara
Sabtu, November 22, 2008
Selayang Pesan Masa Lalu
Selayang pesan tiba di satu sudut kota,
singgah di depan pintu masa lalu.
Dentum kegamangan meramu rindu
di jalur waktu yang tak bertepi,
sementara ingatan perlahan merekontruksi
masa lalu meski semuanya telah berubah
dan memang sudah seharusnya.
Kerap kali gerutu menjamu,
kerap kali kecewa sudutkan keadaan,
kerap kali pula perasaan mengharu biru
berujung sesal.
Selayang pesan singgah di pintu masa lalu,
seperti hantu...
Batavia, 201108
Dwi Rastafara
singgah di depan pintu masa lalu.
Dentum kegamangan meramu rindu
di jalur waktu yang tak bertepi,
sementara ingatan perlahan merekontruksi
masa lalu meski semuanya telah berubah
dan memang sudah seharusnya.
Kerap kali gerutu menjamu,
kerap kali kecewa sudutkan keadaan,
kerap kali pula perasaan mengharu biru
berujung sesal.
Selayang pesan singgah di pintu masa lalu,
seperti hantu...
Batavia, 201108
Dwi Rastafara
Musim Dari Namamu
:Sha
Angin membawa serta namamu,
mendesirkan di telinga juga di benak.
Musim perlahan berganti,
gerimis menghapus jejak di belakang
sisakan ruang yang telah lama sepi...
Batavia, 211108
Dwi Rastafara
Angin membawa serta namamu,
mendesirkan di telinga juga di benak.
Musim perlahan berganti,
gerimis menghapus jejak di belakang
sisakan ruang yang telah lama sepi...
Batavia, 211108
Dwi Rastafara
P A R A L I Z E
Satu katamu menghujam dada,
menembus hingga ke jantungku.
Satu katamu merasuki pikiran,
menelusup hingga ke setiap syaraf otakku.
Satu katamu menyebar
bersama aliran darahku.
Satu kalimatmu,
melumpuhkan jiwaku...
Batavia, 221108
Dwi Rastafara
menembus hingga ke jantungku.
Satu katamu merasuki pikiran,
menelusup hingga ke setiap syaraf otakku.
Satu katamu menyebar
bersama aliran darahku.
Satu kalimatmu,
melumpuhkan jiwaku...
Batavia, 221108
Dwi Rastafara
Rabu, November 19, 2008
Theatrikal Musim Basah
Gerimis jatuh di ingatan,
kenangan hidup dalam ingatan.
Kau ceritakan tentang bangku basah
di depan bekas gedung theater tua,
tempat kita kerap duduk disana
menunggu reda usai sekolah.
Ketika itu November 1997
dan kau suka saat gerimis mulai turun,
kau suka ketika embunnya menerpa wajahmu.
Dingin katamu,
isyaratkan hening di hatimu.
Jalan-jalannya basah, juga rumputnya
dan kita berandai-andai
memainkan theatrikal musim basah
di dalam sana.
Theatrikal terakhir sebelum kau
juga aku menghilang, benar-benar menghilang.
Kudatangi lagi gedung tua itu
dan melihatmu terduduk di bangku
depan gedung yang masih berdiri angkuh,
seangkuh hati kita ketika muda.
Kini aku tau dimana aku bisa menemukanmu
dan kembali menumbuhkan benih-benih
ketika musim basah berakhir
karena theatrikal musim basah
akan selalu ada di dalam hati kita...
Magelang, 191108
Dwi Rastafara
kenangan hidup dalam ingatan.
Kau ceritakan tentang bangku basah
di depan bekas gedung theater tua,
tempat kita kerap duduk disana
menunggu reda usai sekolah.
Ketika itu November 1997
dan kau suka saat gerimis mulai turun,
kau suka ketika embunnya menerpa wajahmu.
Dingin katamu,
isyaratkan hening di hatimu.
Jalan-jalannya basah, juga rumputnya
dan kita berandai-andai
memainkan theatrikal musim basah
di dalam sana.
Theatrikal terakhir sebelum kau
juga aku menghilang, benar-benar menghilang.
Kudatangi lagi gedung tua itu
dan melihatmu terduduk di bangku
depan gedung yang masih berdiri angkuh,
seangkuh hati kita ketika muda.
Kini aku tau dimana aku bisa menemukanmu
dan kembali menumbuhkan benih-benih
ketika musim basah berakhir
karena theatrikal musim basah
akan selalu ada di dalam hati kita...
Magelang, 191108
Dwi Rastafara
Rabu, November 12, 2008
Sajak Pion
Kami-kami ini hanya para pion, para prajurit
yang selalu berdiri di depan, di depan para perwira
dan sang penguasa.
Selangkah demi selangkah bergerak maju,
kami tak bisa bergerak mundur.
Kerap kami di korbankan agar perwira
bisa lari kencang ataupun tuk sekedar
sebuah ambisi sang penguasa.
Tapi kami adalah pembuka jalan bagi para perwira,
kamilah para calon perwira di generasi selanjutnya
karena kami tak pernah bergerak mundur…
Batavia, 101108
Dwi Rastafara
yang selalu berdiri di depan, di depan para perwira
dan sang penguasa.
Selangkah demi selangkah bergerak maju,
kami tak bisa bergerak mundur.
Kerap kami di korbankan agar perwira
bisa lari kencang ataupun tuk sekedar
sebuah ambisi sang penguasa.
Tapi kami adalah pembuka jalan bagi para perwira,
kamilah para calon perwira di generasi selanjutnya
karena kami tak pernah bergerak mundur…
Batavia, 101108
Dwi Rastafara
Waktu Yang Tersisa
: Nur Oktaviani
Dari perempuan yang membuat rasa terdiam,
dari bulan yang tertulis untuk namamu.
Banyak yang tertahan disini, di dalam dada ini
yang rasanya sangat sulit sekali untuk di keluarkan.
Kerap kali mengeluh dan bertanya,
sekedar metafora untuk tau tentangmu.
Mengikuti setapak waktu yang begitu tenang,
membawa rasa hingga ke akhir tujuan.
Perlahan dan pasti menyibak tabir sanubari
yang pernah terdiam, rasa itu tumbuh di sini.
Dari bunda yang mengandung denyut jantungmu,
dari perempuan yang membuat rasa terdiam.
Dari langkah yang menapaki jengkal waktu
hingga tak ada lagi rahasia,
dari hati yang istirah memintamu
tuk bisa habiskan sisa hidup ini bersama...
Batavia, 101108
Dwi Rastafara
Dari perempuan yang membuat rasa terdiam,
dari bulan yang tertulis untuk namamu.
Banyak yang tertahan disini, di dalam dada ini
yang rasanya sangat sulit sekali untuk di keluarkan.
Kerap kali mengeluh dan bertanya,
sekedar metafora untuk tau tentangmu.
Mengikuti setapak waktu yang begitu tenang,
membawa rasa hingga ke akhir tujuan.
Perlahan dan pasti menyibak tabir sanubari
yang pernah terdiam, rasa itu tumbuh di sini.
Dari bunda yang mengandung denyut jantungmu,
dari perempuan yang membuat rasa terdiam.
Dari langkah yang menapaki jengkal waktu
hingga tak ada lagi rahasia,
dari hati yang istirah memintamu
tuk bisa habiskan sisa hidup ini bersama...
Batavia, 101108
Dwi Rastafara
Sabtu, November 08, 2008
Sketsa Dari Ujung Batavia
Puisi hati dari sepi yang sangat sempurna,
dari labirin biru yang memudar oleh masa,
dari sauh yang berlabuh dan layar yang tergulung.
Tertulis panjang di lelangitan,
gamblang terbaca dari bumi yang terbuka.
Puisi hati di bacakan pada seorang bocah
hingga tertidur pulas tak putus di baca.
Masuk ke dalam mimpi sang bocah,
puisi hati bercerita tentang sang perawan
anak dari bunda rembulan,
dari malam yang belum genap purnama.
Hingga menjelang pagi sang bocah tak bangun,
terlalu dalam dia bermimpi,
terlalu lelah dia bercinta.
Sang perawan menulis puisi hati
yang seperti anak panah dari cinta,
samar dan pelan menusuk jantung sang bocah
hingga mati dalam pelukan sang perawan.
Puisi hati dari sepi dengan labirin biru,
seperti cinta yang ingin membuang sauh
dan menggulung layar, belabuh di dermaga nirwana,
juga mimpi dari seorang bocah
tentang sang perawan dari ujung Batavia…
Batavia, 061108
Dwi Rastafara
dari labirin biru yang memudar oleh masa,
dari sauh yang berlabuh dan layar yang tergulung.
Tertulis panjang di lelangitan,
gamblang terbaca dari bumi yang terbuka.
Puisi hati di bacakan pada seorang bocah
hingga tertidur pulas tak putus di baca.
Masuk ke dalam mimpi sang bocah,
puisi hati bercerita tentang sang perawan
anak dari bunda rembulan,
dari malam yang belum genap purnama.
Hingga menjelang pagi sang bocah tak bangun,
terlalu dalam dia bermimpi,
terlalu lelah dia bercinta.
Sang perawan menulis puisi hati
yang seperti anak panah dari cinta,
samar dan pelan menusuk jantung sang bocah
hingga mati dalam pelukan sang perawan.
Puisi hati dari sepi dengan labirin biru,
seperti cinta yang ingin membuang sauh
dan menggulung layar, belabuh di dermaga nirwana,
juga mimpi dari seorang bocah
tentang sang perawan dari ujung Batavia…
Batavia, 061108
Dwi Rastafara
Schatzi
Schatzi, kerap kali ku lihat kosong
dari bingkai jendela.
Entah apa yang membuatku
selalu ingin melakukannya
tapi yang ku tau adalah kau
yang ada di sana.
Schatzi membuatku menghitung
detik-detik terlewati bersama rintik gerimis
yang singgah di kaca jendela,
Schatzi mengisi ruang kosong…
Menghitung detik-detik terlewati
dengan imajinasi tentang Schatzi
dalam pelukan, ku kira hanya singgah sebentar
tapi Schatzi tetap tinggal
dan aku tetap melihat kosong
dari bingkai jendela
sambil menghitung detik-detik
bersama imajinasi tentangmu,
mengelilingiku…
Batavia, 051108
Dwi Rastafara
dari bingkai jendela.
Entah apa yang membuatku
selalu ingin melakukannya
tapi yang ku tau adalah kau
yang ada di sana.
Schatzi membuatku menghitung
detik-detik terlewati bersama rintik gerimis
yang singgah di kaca jendela,
Schatzi mengisi ruang kosong…
Menghitung detik-detik terlewati
dengan imajinasi tentang Schatzi
dalam pelukan, ku kira hanya singgah sebentar
tapi Schatzi tetap tinggal
dan aku tetap melihat kosong
dari bingkai jendela
sambil menghitung detik-detik
bersama imajinasi tentangmu,
mengelilingiku…
Batavia, 051108
Dwi Rastafara
Rabu, November 05, 2008
Innuendo
Menantimu berjalan dari utara ke selatan,
dari selatan ke utara seperti merangkum
kisah-kisah untuk satu malam.
Ada kepenatan yang menggumpal
di sebelah hati.
Kenapa tak sepenuhnya saja
agar tak ada lagi yang perlu dirasakan
ketika kita berhadapan.
Aku tak bosan menantimu,
tak juga lelah.
Hanya saja terkadang cemburu
bertandang lewat pintu belakang.
Lalu seketika semua mulai menggerutu,
sesaat dan untuk beberapa saat
hingga perlahan menghilang
bersama debur ombak air lautan
yang mulai pasang…
Batavia, 031108
Dwi Rastafara
dari selatan ke utara seperti merangkum
kisah-kisah untuk satu malam.
Ada kepenatan yang menggumpal
di sebelah hati.
Kenapa tak sepenuhnya saja
agar tak ada lagi yang perlu dirasakan
ketika kita berhadapan.
Aku tak bosan menantimu,
tak juga lelah.
Hanya saja terkadang cemburu
bertandang lewat pintu belakang.
Lalu seketika semua mulai menggerutu,
sesaat dan untuk beberapa saat
hingga perlahan menghilang
bersama debur ombak air lautan
yang mulai pasang…
Batavia, 031108
Dwi Rastafara
Senin, November 03, 2008
Aku Cinta
Semalam di petak waktu melempar pikiran
jauh kebelakang, menatap hawa dari balik jendela
berjingkat di bawah gerimis senja.
Ada hasrat mengadu di ujung sore
seperti hendak di dengar namun enggan
untuk bicara bahwa kegamangan
selimuti kata “aku cinta…”
Batavia,021108
Dwi Rastafara
jauh kebelakang, menatap hawa dari balik jendela
berjingkat di bawah gerimis senja.
Ada hasrat mengadu di ujung sore
seperti hendak di dengar namun enggan
untuk bicara bahwa kegamangan
selimuti kata “aku cinta…”
Batavia,021108
Dwi Rastafara
Sabtu, November 01, 2008
Temporary Engagement From The Two Different Heart

There's a hate and jealous,
there's a love and yearn.
When the beautiful words has saying
promise that always be together,
it's the beautiful words
that always nice to be hear.
But if hate has come
and jealous around the heart,
the beautiful words
it's just a temporary engagement...
Batavia, 011108
Dwi Rastafara
Conversation #1
Day 1:
Let’s talk about us,
about what should we do.
Sitting here in the park,
maybe it just take an hour
coz I don’t have much time.
I think enough,
as long as we here, we speechless…
221008
Day 2:
Then I met you again in the different time,
different place.
So, we still have same conversation.
But what is in our heart?
See outside the window,
see the drizzle.
They are the tears from the angels.
Can you feel the cold,
can you feel their sadness?
Now I see the tears in your eyes.
231008
Day 3:
Sometime all I want to do is wait,
I feel it easier.
That’s good for me, I can feel the silent too
until you come and I don’t have to call you
coz I know that you will come.
Here, try a cup of hot chocolate
that I made for you, it can make you feel better.
So, did we still have much time
or I have to tell you that I only have one last day
before I go?
241008
Day 4:
Well, the day has come,
it’s time for me to go.
I don’t wanna see your sadness,
I don’t wanna see the tears in your eyes.
Let me see your smile,
let me feel your last kiss coz I know
that I will never feel it again.
Does it mean we better keep silent?
Like a silence of the night
and find another reason to stay…
251008
Let’s talk about us,
about what should we do.
Sitting here in the park,
maybe it just take an hour
coz I don’t have much time.
I think enough,
as long as we here, we speechless…
221008
Day 2:
Then I met you again in the different time,
different place.
So, we still have same conversation.
But what is in our heart?
See outside the window,
see the drizzle.
They are the tears from the angels.
Can you feel the cold,
can you feel their sadness?
Now I see the tears in your eyes.
231008
Day 3:
Sometime all I want to do is wait,
I feel it easier.
That’s good for me, I can feel the silent too
until you come and I don’t have to call you
coz I know that you will come.
Here, try a cup of hot chocolate
that I made for you, it can make you feel better.
So, did we still have much time
or I have to tell you that I only have one last day
before I go?
241008
Day 4:
Well, the day has come,
it’s time for me to go.
I don’t wanna see your sadness,
I don’t wanna see the tears in your eyes.
Let me see your smile,
let me feel your last kiss coz I know
that I will never feel it again.
Does it mean we better keep silent?
Like a silence of the night
and find another reason to stay…
251008
Langgan:
Entri (Atom)

