Rabu, Juni 24, 2009

Sajak 1810

ku biarkan lepas rindu ini melayang di lelangitan malam, ku biarkan mengikuti arakan awan awan kelam yang membawa bulir bulir gerimis hingga jatuh di pelataran matamu agar kau tau seperti apa rindu ini membanjiri pikiranku, agar kau tau rindu ini tak hanya sekedar sampai di tengah samudera.

lalu katakan padaku, katakan tentang apa yang kau rasakan saat basahnya kuyupkan jiwamu, saat gemuruhnya hentakan hatimu hingga membuatmu tersentak bak kau dengar gelegar petir yang menggetarkan atmosfer ruang udara tempat kau juga aku menghirup satu satu aroma tanah basah.

apa yang tergambar di bias genangan air sisa hujan yang mengguyur tanahmu? adakah sosokku disana ketika kau baca bait bait dari tulisanku yang sengaja ku paparkan kepada mereka? bukan agar mereka tau, tapi agar kau tau tentang aku yang selalu memikirkanmu di antara gempita sanjung mereka.

boleh aku perjelas tentang sebagaimana kau di antara mereka, tentang kau yang memenuhi pikiran dan dada ini?

kau seperti miasha

memenuhi ruang dadaku, pikiranku, juga di setiap udara yang ku hirup.


* dedicated to 1810

0 komentar: